Showing posts with label mahabarata. Show all posts
Showing posts with label mahabarata. Show all posts

Tuesday, February 28, 2017

MAHABARATA 27 (lanjutan 3)




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
27. Pengembaraan di Rimba Raya (lanjutan...)
Dalam pengembaraannya, Pandawa sampai ke pertapaan Resi Raibhya di tepi Sungai Gangga. Mereka berhenti, membersihkan diri dan melakukan upacara pemujaan, lalu beristirahat. Resi Lomasa bercerita tentang riwayat pertapaan itu.
“Yawakrida, anak seorang resi, menemui ajalnya di sini. Beginilah kisah hidupnya....
“Resi Raibhya dan Resi Bharadwaja adalah dua brahmana yang bersahabat dan pertapaannya berdampingan.
“Raibhya punya dua anak laki-laki, namanya Parawasu dan Arwawasu, sedangkan Bharadwaja punya satu anak laki-laki, namanya Yawakrida.
“Kedua anak Raibhya mempelajari kitab-kitab suci Weda dengan sungguh-sungguh hingga mereka menjadi orang suci yang termasyhur. Melihat itu, Yawakrida iri dan benci kepada mereka. Ia tidak mematuhi nasihat ayahnya. Untuk melampiaskan rasa iri dan kebencian hatinya, ia menyiksa diri dengan bersamadi dan bertapa berbulan- bulan, tanpa makan tanpa minum. Ia ingin mendapat karunia kesaktian. Mengetahui itu, Batara Indra merasa iba. Ia mendatangi Yawakrida. Batara Indra menasihati Yawakrida agar tidak menyiksa diri seperti itu.
“Yawakrida menjawab, ‘Aku ingin menguasai kitab-kitab suci Weda, melebihi mereka yang telah mempelajarinya. Aku ingin menjadi mahaguru tentang kitab-kitab suci itu. Sebab itu, aku lakukan semua ini agar cita-citaku lekas tercapai. Bagiku, belajar dari seorang guru membutuhkan waktu lama. Aku rajin berpuasa dan bersamadi, agar pengetahuan itu langsung kuterima, tanpa perlu berguru. Restuilah aku!’
“Batara Indra tersenyum seraya berkata, ‘Wahai Brahmana, engkau berada di jalan yang salah. Pulanglah engkau! Carilah seorang guru yang baik dan pelajarilah kitab- kitab Weda darinya. Menyiksa diri bukan cara benar untuk belajar. Cara belajar yang benar adalah dengan bertekun mempelajari sesuatu.’ Setelah berkata demikian, Batara Indra menghilang.
“Yawakrida tidak mengindahkan nasihat itu. Ia terus menyiksa diri. Batara Indra muncul lagi, memberinya peringatan. ‘Engkau memilih jalan salah untuk memperoleh ilmu. Untuk memperoleh ilmu, satu-satunya jalan adalah belajar. Ayahmu mempelajari kitab-kitab suci Weda dengan sabar dan berhasil. Yakinlah, kau pun pasti bisa. Berhentilah menyiksa dirimu.’
“Yawakrida tetap tidak mengindahkan nasihat Batara Indra. Malahan ia berkata, jika puasa dan semadinya tidak dikabulkan, ia akan memotong kaki dan tangannya untuk dijadikan sesaji dalam upacara persembahyangan.
“Pada suatu hari, ketika hendak menyucikan diri di Sungai Gangga sebelum mulai bersemadi, ia melihat seorang lelaki tua sedang bekerja keras melemparkan pasir ke dalam sungai dengan kedua tangannya. Yawakrida bertanya, ‘Wahai Pak Tua, apa yang sedang kaukerjakan?’ Lelaki tua itu menjawab, ‘Aku hendak membendung sungai ini. Jika aku bisa membangun bendungan dengan cara ini, orang akan bisa menyeberangi sungai ini dengan mudah. Tahukah engkau bahwa tidak mudah menyeberangi Sungai Gangga. Bukankah membuat bendungan suatu pekerjaan yang mulia?’
“Yawakrida tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ia berkata, ‘Rupanya engkau sudah gila! Engkau pikir, dengan melempar-lemparkan pasir —dengan kedua tanganmu yang rapuh— engkau akan bisa membendung arus sungai yang perkasa ini? Bangkitlah dan carilah pekerjaan yang lebih berguna!’
“Orang tua itu menjawab, ‘Apakah pekerjaanku ini lebih gila daripada perbuatanmu menyiksa diri karena ingin menguasai kitab-kitab suci Weda tanpa berguru? Bukankah engkau enggan belajar dengan sabar dan tekun?’
“Maka, tahulah Yawakrida bahwa orang tua itu tak lain adalah Batara Indra. Ia segera menjatuhkan diri, bersujud dan memohon agar Batara Indra berkenan menganugerahkan pastu kepadanya. Batara Indra mengabulkan permintaannya dengan syarat Yawakrida harus mempelajari kitab-kitab suci Weda sebagaimana mestinya.
“Sejak itu, Yawakrida mempelajari kitab-kitab suci Weda dengan sungguh-sungguh dan berhasil menguasainya dalam waktu singkat. Sayangnya, ia berjiwa lemah. Ia mengira, kemampuannya mempelajari kitab-kitab Weda dengan cepat itu bukan karena pertolongan gurunya, melainkan karena anugerah pastu Batara Indra. Ia menjadi sombong.
“Resi Bharadwaja, ayahnya, yang mengetahui hal itu segera menasihatinya, ‘Jangan biarkan dirimu terjebak dalam perangkap iri dan tinggi hati. Usahakan membatasi diri, jangan melampaui batas-batas kesopanan. Jangan bersikap congkak terhadap orang yang lebih tua seperti Resi Raibhya.’
“Musim semi tiba. Pohon-pohon bertunas, bunga-bunga mekar semerbak mewangi, hamparan padang rumput terlihat hijau segar. Ke mana mata memandang, yang tampak adalah keindahan. Binatang-binatang di hutan, burung- burung di angkasa, ikan di sungai dan telaga, semua gembira menyambut datangnya musim semi yang gemilang.
“Dalam suasana yang indah itu, istri Parawasu yang cantik dan muda belia berjalan-jalan di luar pertapaan sambil memetik bunga-bunga dan bersenandung merdu. Di tengah keindahan alam, kecantikannya semakin tampak cemerlang. Yawakrida yang kebetulan lewat di situ, melihatnya dan terpikat oleh kecantikannya. Ia berhenti dan memandangi wanita itu dengan penuh gairah. Lama- lama ia tak dapat menahan gejolak berahinya. Disambarnya putri itu lalu diseretnya ke balik semak-semak. Di sana, dengan kasar ia melampiaskan nafsunya sepuas- puasnya.
“Resi Raibhya yang baru kembali ke pertapaan melihat menantunya menangis tersedu-sedu. Setelah mengetahui apa yang terjadi, resi tua itu marah. Dicabutnya sehelai rambut dari kepalanya lalu dibakarnya dalam api pemujaan sambil mengucapkan mantra. Seketika itu juga, dari rambut yang terbakar itu muncul makhluk halus berwujud seorang gadis cantik. Kemudian ia mencabut dan membakar sehelai rambut lagi. Setelah mengucapkan mantra, muncullah makhluk halus berwujud raksasa perkasa bersenjata lembing. Resi Raibhya memerintahkan kedua makhluk halus itu untuk membunuh Yawakrida.
“Keesokan paginya, ketika sedang mengisi kendinya dengan air, Yawakrida melihat seorang gadis cantik tiba- tiba muncul di hadapannya. Gerak-geriknya sungguh menawan hati. Ia terlengah sesaat dan secepat kilat makhluk cantik itu merampas kendinya yang sudah diisi air untuk menyucikan diri. Yawakrida beranjak, hendak mengejarnya, tetapi dihalangi oleh raksasa perkasa bersenjata lembing. Yawakrida sangat ketakutan. Sadar bahwa ia tak bisa mengucapkan mantra sebelum menyucikan diri, Yawakrida lari ke tepi telaga. Tetapi telaga itu kering. Ia lari ke tepi sungai, tetapi sungai itu juga kering. Ia terus berlari mencari air. Ke mana pun ia lari, raksasa itu terus mengejarnya. Akhirnya ia tidak bisa berlari lagi. Tubuhnya yang letih jatuh terguling di tanah. Raksasa itu mendekat dan menancapkan lembingnya. Tamatlah riwayat Yawakrida.
“Bharadwaja mengetahui hal itu. Ia sedih dan marah karena kematian putranya. Dalam keadaan marah, ia melancarkan kutuk-pastu ke arah Resi Raibhya: kelak resi itu akan mati di tangan salah satu anaknya. Tetapi setelah mengucapkannya, Resi Bharadwaja menyesal. Ia sadar, putranya memang bersalah. Akhirnya, dalam upacara pembakaran mayat putranya, Bharadwaja terjun ke dalam api dan musnah bersama anaknya. Demikianlah, roh Yawakrida dan Bharadwaja bersama-sama kembali ke alam baka yang tenang dan damai.”
Resi Lomasa berkata, “Inilah bekas pertapaan Resi Raibhya yang kuceritakan tadi. Wahai Yudhistira, dari sini naiklah ke gunung. Bila engkau telah sampai ke puncaknya, segala mendung yang menutupi hidupmu akan lenyap. Gunung itu adalah gunung suci! Amarah dan nafsumu akan tercuci bersih jika engkau mandi di sungai ini. Mandilah dan sucikan dirimu.”
Demikianlah Resi Lomasa menutup kisahnya tentang puasa dan samadi yang tidak berguna karena didasari niat untuk mencapai tujuan yang tidak pantas. Kemudian Resi Lomasa melanjutkan ceritanya.
“Dalam soal keagamaan, Raja Brihadyumna adalah pengikut setia Resi Raibhya. Pada suatu hari ia ingin mengadakan upacara persembahyangan untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ia memin- ta Resi Raibhya agar mengirimkan Parawasu dan Arwawasu ke istana untuk memimpin upacara tersebut. Permintaan itu dikabulkan dan Resi Raibhya memberi petunjuk seperlunya kepada kedua putranya. Ketika persiapan sedang dikerjakan, malam harinya Parawasu kembali ke pertapaan hendak menemani istrinya yang menginap di rumah ayahnya.
“Saat itu tengah malam. Suasana gelap. Tiba-tiba ia melihat satu sosok berjalan membungkuk-bungkuk di tepi mata air, seakan-akan sedang mengintai mangsa. Tanpa berpikir panjang atau melihat lebih jelas, ia membidikkan lembingnya dan melemparkannya ke arah sosok itu. Crap! Tepat mengenai sasaran. Sesaat kemudian terdengar teriakan mengaduh. Ia mendekat. Dan ... alangkah terkejutnya Parawasu ketika sosok yang diserangnya ternyata ayahnya sendiri. Ketika itu ayahnya mengenakan pakaian dari kulit menjangan. Ia pergi ke mata air malam-malam untuk menimba air. Sebelum meninggal, Resi Raibhya sempat menceritakan kutuk-pastu yang dilancarkan Resi Bharadwaja kepadanya.
“Parawasu segera menemui Arwawasu dan menceritakan peristiwa sedih itu. Ia berkata, ‘Kejadian ini hendaknya jangan sampai menghalangi upacara persembahyangan. Lakukan upacara pembakaran jenazah atas namaku, sebagai pengganti dosa yang telah kuperbuat tanpa sengaja.Pengampunan bagi dosa-dosa yang dilakukan tanpa sengaja adalah dibenarkan. Sementara engkau menggantikan aku dan memohonkan ampun untuk dosaku kepada Ayah, aku akan memimpin upacara permohonan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat negeri ini tanpa perlu kau bantu. Tapi... engkau takkan bisa memimpin upacara itu sendiri tanpa bantuanku.’
“Arwawasu yang suci dan berbudi luhur menuruti kata saudaranya. Ia melakukan upacara pembakaran jenazah ayahnya, bersembahyang atas nama saudaranya dan melakukan tapa untuk menyucikan diri atas namanya sendiri dan saudaranya, Parawasu. Setelah upacara selesai, ia menyusul saudaranya ke istana Raja Brihadyumna.
“Tetapi Parawasu terkutuk oleh dosanya sendiri. Ternyata ia mempunyai maksud jahat dan pertimbangan lain. Ia lupa bahwa dosa tidak bisa ditebus orang lain. Mewakilkan penebusan dosa kepada orang lain sama dengan menyuruh orang lain memikulkan dosa kita dan itu berarti menambah dosanya sendiri. Melihat saudaranya yang lebih suci, bijaksana, dan berbudi luhur memasuki ruangan upacara, Parawasu mengucapkan penghinaan dan menuduh saudaranya telah membunuh seorang brah- mana. Katanya lantang, ‘Seorang pembunuh tidak boleh dibiarkan masuk agar tidak mengotori ruangan suci ini.’ Kepada para pengawal kerajaan Parawasu meminta agar saudaranya diusir keluar istana dengan alasan istana tak boleh dikotori oleh orang yang membawa dosa sebagai pembunuh seorang brahmana.
“Arwawasu menolak tuduhan itu dan berkata bahwa sesungguhnya Parawasu yang melakukan dosa itu tanpa sengaja. Ia juga berkata bahwa dirinya telah melakukan upacara penebusan atas nama saudaranya. Tetapi, tidak seorang pun mempercayai kata-katanya. Penyangkalannya itu justru memperburuk kesan orang akan dirinya. Atas perintah raja, ia diusir dengan kasar.
“Arwawasu yang dituduh membunuh ayahnya dan memberikan keterangan palsu, kembali ke dalam hutan dengan perasaan putus asa. Tidak adakah keadilan di dunia ini? Kemudian, dengan tekad yang bulat, ia melakukan tapa brata yang seberat-beratnya. Dalam tapa brata ia berusaha menyucikan pikirannya dari segala macam kejahatan dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar jalan ayahnya dilapangkan di alam baka, terbebas dari belenggu karma dan pada gilirannya kembali manunggal dengan Hyang Widhi Yang Maha Kuasa. Kecuali itu dia mohon agar Parawasu, saudaranya, dibebaskan dari kejahatan dan dosa yang telah dilakukannya.”
Resi Lomasa menutup kisah itu dengan berkata kepada Yudhistira, “Arwawasu dan Parawasu adalah dua brahmana muda yang pandai dan terpelajar. Tetapi, untuk bisa berbuat kebajikan dan mempunyai budi luhur, orang harus berusaha selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Pengetahuan tentang baik-buruk harus benar-benar meresap dalam jiwa seseorang dan tercermin dalam perbuatannya sehari-hari. Hanya dengan jalan demikian seseorang dapat disebut bijaksana dan berbudi luhur. Pengetahuan yang kita peroleh hanya merupakan keterangan yang akan menimbuni pikiran kita dan membuat kita tidak bijaksana. Semua itu ibarat pakaian luar yang diperlihatkan kepada orang lain tetapi sesung- guhnya bukan bagian dari diri kita.”
Bersambung...
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Monday, February 13, 2017

MAHABARATA 14




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
14. Istana dari Papan Kayu
Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin dalamnya ilmu olah senjata serta siasat perang yang dipelajari oleh Kaurawa dan Pandawa, Duryodhana semakin iri melihat keperkasaan Bhima dan kesaktian Arjuna dalam segala hal. Duryodhana kemudian mengangkat Karna dan Sakuni sebagai penasihatnya dan menugaskan mereka untuk merencanakan siasat-siasat licik untuk mengalahkan Pandawa. Dritarastra, ayah Kaurawa, sebenarnya bijaksana dan sangat mencintai Pandawa, putra-putra adiknya. Sayang- nya, ia berwatak lemah. Dalam menentukan segala sesuatu, ia terlalu memihak putra-putranya sendiri. Semua keinginan putra-putranya, terutama keinginan Duryodhana, selalu dikabulkannya. Tidak jarang, dengan sadar ia menuruti mereka meskipun tahu bahwa mereka salah. Bagi Duryodhana, yang lebih menyakitkan hati adalah kenyataan bahwa rakyat Hastina, terutama yang tinggal di ibukota Hastinapura, selalu memuji-muji Pandawa secara terang-terangan. Mereka senantiasa menyerukan bahwa Yudhistiralah yang paling tepat dinobatkan sebagai raja, menggantikan Dritarastra. Rakyat bergerombol di jalan- jalan, memperdebatkan siapa yang paling pantas menjadi raja mereka. Sering terdengar percakapan seperti ini.
“Dritarastra tidak pantas menjadi raja karena ia buta. Ia tidak mampu memerintah kerajaan dengan baik karena kekurangannya itu. Bhisma juga tidak mungkin menjadi raja, karena ia telah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya pada kebenaran, keadilan dan kesucian. Kecuali itu, ia memang tidak ingin menjadi raja dan sudah bersumpah takkan pernah menikah. Karena itu, Yudhistiralah yang paling pantas dinobatkan menjadi raja. Hanya dialah yang akan dapat memerintah wangsa Kuru dan kerajaan ini dengan adil.” Demikianlah rakyat berbicara di mana-mana. Mendengar semua itu, telinga Duryodhana terasa panas. Hatinya sakit didera rasa iri dan kebencian. Ia menghadap ayahnya, mengadukan hal itu. Katanya, “Ayahanda, rakyat kerajaan ini telah menghina kita. Mereka sama sekali tidak punya rasa hormat kepada orang-orang yang patut dimuliakan seperti Bhisma dan Ayahanda sendiri. Menurut mereka, kerajaan ini seharusnya diperintah oleh Yudhistira karena dialah yang paling pantas menjadi raja.
“Mereka berkata bahwa karena buta, sebenarnya Ayahanda tidak pantas menjadi raja. Jika mereka bersikeras meminta penobatan Yudhistira, itu berarti kehancuran bagi kita. Ayahanda telah mengalah kepada Paman Pandu. Kalau tidak karena Paman Pandu mengundurkan diri, Ayahanda takkan pernah menjadi raja. Sekarang, jika Yudhistira menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya, ke manakah kita akan pergi? Tak ada lagi kesempatan bagi keturunan kita untuk menjadi raja, karena hanya keturu- nan Yudhistira atau Pandawa yang berhak menjadi raja. Keturunan kita akan menjadi orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada belas kasihan keturunan Pandawa.”
Dritarastra merenung mendengar kata-kata anaknya. Beberapa lama kemudian dia berkata, “Anakku, apa yang engkau katakan itu benar. Namun, Ayah percaya, Yudhistira pasti takkan menyimpang dari jalan yang benar dan penuh kebajikan. Ia mengasihi kita semua. Ia mewarisi semua sifat mulia ayahnya. Rakyat mengagumi dia dan mereka pasti mendukung dia. Semua menteri dan senapati juga mencintai Pandu dan mereka pasti akan mengabdi padanya dengan sepenuh hati. Rakyat memang memuja Pandawa. Kita tak dapat menentang mereka atau menunggu kesempatan baik untuk mengalahkan Pandawa. Seandainya kita berbuat tidak adil dan tidak benar, rakyat akan berontak melawan kita. Mereka akan mengusir kita dan kita akan terjerumus dalam kubangan kutuk dan cemooh.” Duryodhana menjawab, “Rasa cemas Ayahanda tidak beralasan. Dalam keadaan paling buruk pun Bhisma tetap tidak akan memihak, sedangkan Aswattama pasti akan patuh padaku. Dan itu berarti bahwa ayahnya, Mahaguru Drona, dan Mahaguru Kripa ada di pihak kita. Widura tak mungkin menentang kita secara terang-terangan, kecuali jika dia punya alasan lain, sebab ia tidak punya pengikut atau kekuatan apa pun. Kirimlah Pandawa ke Waranawata
secepatnya.
“Ayahanda, sejujurnya hatiku terasa sesak, penuh dendam dan iri hati. Aku tak tahan lagi memendam semua perasaan ini. Aku selalu gelisah, tak enak makan dan tak enak tidur. Semua ini seakan-akan merobek-robek dadaku. Hidupku terasa penuh siksa dan derita.
“Ayahanda, segera kirimlah Pandawa ke Waranawata.
Setelah itu, kita akan menghimpun kekuatan kita.”
Setelah Duryodhana berkata demikian, para penasihat raja datang dan bergantian memberikan nasihat kepada Dritarastra. Mereka semua mendukung rencana Duryodhana. Kanika, tangan kanan Sakuni dan pemimpin kelompok ini, mengusulkan kepada Dritarastra, “Paduka, hamba mohon Paduka berhati-hati dan waspada terhadap anak-anak Pandu, sebab kebaikan dan pengaruh mereka merupakan ancaman bagi kewibawaan Paduka. Ketahuilah, semakin dekat hubungan keluarga, semakin dekat dan semakin mengerikan pula bahaya itu. Mereka sangat kuat.”
Dritarastra diam, mendengarkannya sungguh-sungguh. Kemudian Kanika melanjutkan, “Jangan Paduka gusar kepada hamba jika hamba katakan bahwa seorang raja harus berkuasa dalam nama, di atas takhta dan tinda- kannya, sebab tak seorang pun akan percaya pada kekuatan yang tidak pernah diperlihatkan. Hal-hal yang berkaitan dengan tata kerajaan memang harus dirahasiakan. Tetapi, bukti nyata suatu rencana bijak bagi rakyat adalah pelaksanaannya. Bodoh sekali kalau menunjukkan kemesraan terhadap mereka.
“Demikianlah, keburukan harus dilenyapkan sama sekali. Ibarat duri dalam daging, jika dibiarkan akan menyebabkan luka membisul. Musuh yang perkasa harus dihancurkan, namun musuh yang kecil dan lemah jangan dilalaikan. Ibarat bara, jika tidak segera dipadamkan bisa berkobar menyala membakar hutan. Jika tak bisa meng- hancurkan musuh perkasa dengan kekuatan senjata, kita gunakan tipu muslihat.”
Duryodhana meyakinkan ayahnya bahwa ia telah berhasil menghimpun sekutu dan pengikut yang setia. Katanya, “Ananda telah menghadiahkan harta benda, pangkat dan kehormatan kepada semua pengawal kerajaan Hastina. Ananda telah membuat mereka bersumpah untuk setia kepada kita. Begitu Ayahanda mengirim Pandawa ke Waranawata, seisi ibukota dan kerajaan ini akan memihak kita. Tak ada lagi sekutu Pandawa di kerajaan ini. Begitu kerajaan ini ada di tangan kita, mereka akan kehilangan kekuasaan. Setelah itu, barulah kita pikirkan bagaimana caranya melenyapkan mereka.”
Jika seseorang banyak mendengar tentang apa yang sebenarnya ingin ia yakini, maka ia akan merasa bahwa keyakinannya itu benar. Demikianlah, pikiran Dritarastra goyah oleh desakan anaknya dan anjuran para penasihatnya. Tanpa mampu berpikir jernih, ia merestui rencana Duryodhana. Sejak itu, para senapati Hastina sengaja memuji-muji keindahan Waranawata di hadapan Pandawa. Mereka membisikkan, bahwa di sana akan diadakan upacara pemujaan Batara Shiwa secara besar-besaran. Pandawa sama sekali tidak curiga mendengar semua itu. Lebih-lebih setelah Dritarastra menyuruh mereka mengikuti upacara itu. Dritarastra menambahkan, bahwa bukan saja upacara itu sangat penting, tetapi rakyat di Waranawata sudah lama merindukan kunjungan Pandawa.
Demikianlah, Pandawa memutuskan untuk pergi ke Waranawata setelah mendapat restu dari Bhisma dan para tetua lainnya. Duryodhana senang karena rencana pertamanya berhasil. Bersama Karna dan Sakuni, ia menyusun rencana untuk membunuh Dewi Kunti dan Pandawa di Warana- wata. Pertama-tama mereka mengirimkan Purochana dengan perintah rahasia yang harus dilaksanakan dengan taat dan hati-hati.
Jauh sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata, Purochana sudah mendahului pergi ke sana dengan tugas membangun istana peristirahatan untuk Pandawa. Istana itu dibangun dari papan-papan kayu yang diukir indah. Di sudut-sudut tersembunyi disisipkan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti lak, minyak kental, dan karung kering. Semua perabotannya juga terbuat dari bahan- bahan yang mudah terbakar.
Penjagaan diatur secara ketat dan rahasia agar Pandawa tidak curiga. Sebelum upacara dilaksanakan, di Waranawata diadakan pesta meriah, lengkap dengan bermacam-macam hiburan dan pertunjukan kesenian. Rencananya, lewat tengah malam, ketika Pandawa tidur
pulas kecapekan setelah berpesta, istana itu akan dibakar. Kaurawa akan menyambut Pandawa dengan ramah dan penuh hormat. Jika istana terbakar, rakyat tidak curiga dan mereka menyimpulkan bahwa kebakaran itu terjadi tanpa sengaja dan tidak akan melemparkan tuduhan kepada mereka. Tak seorang pun akan menyalahkan Kaurawa, sementara Duryodhana akan puas karena berhasil memusnahkan Pandawa.
Demikianlah dengan berbagai cara Duryodhana berusaha memusnahkan Pandawa. Hanya Widura yang ingin menyelamatkan wangsa Kuru dari malapetaka itu.
Bersambung....

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Sunday, February 12, 2017

MAHABARATA 13

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
13. Drona, Seorang Brahmana-Kesatria
Drona adalah putra seorang brahmana bernama Bharadwaja. Setelah selesai mempelajari berbagai kitab Weda dan Wedangga, Drona memusatkan hati dan pikirannya untuk mempelajari seni dan keahlian mempergunakan senjata dan peralatan perang. Karena bakat dan ketekunannya, ia menjadi mahir dalam olah senjata dan menguasai ilmu perang. Brahmana Bharadwaja berkawan dengan Raja Panchala yang mempunyai putra bernama Drupada. Pangeran ini adalah kawan Drona dalam belajar olah senjata dan ilmu perang. Di antara mereka tumbuh rasa persahabatan yang erat dan mereka saling mengasihi. Semasa masih sama- sama belajar itu, Drupada sering berkata kepada Drona, kelak jika ia naik takhta menjadi raja, setengah kerajaannya akan diberikannya kepada Drona. Setelah tamat belajar, Drona menikah dengan adik Kripa dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Aswatthama. Ia sangat mencintai istri dan anaknya dan demi mereka ia berusaha keras untuk memperoleh kekayaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. Pada suatu hari, ia mendengar bahwa Parasurama sedang membagi-bagikan kekayaannya kepada para brahmana. Ia lalu pergi menemui Parasurama. Tetapi sayang, ia datang sangat terlambat. Parasurama telah membagikan semua kekayaannya kepada para brahmana dan telah bersiap hendak pergi ke hutan untuk bertapa. Karena ingin memberikan sesuatu kepada Drona, Parasurama menawarkan untuk mengajarkan ilmu olah senjata berat kepada Drona karena itulah keahliannya. Drona menyambut tawaran itu dengan gembira, lebih- lebih karena ia sendiri sudah mahir berolah senjata. Setelah menyerap ilmu yang diberikan Parasurama, ia menjadi ahli dalam olah segala macam senjata dan ahli siasat perang yang tiada tandingnya. Keahliannya itu membuatnya mampu menjadi guru di istana raja mana pun.
Sementara itu, Raja Panchala wafat dan Drupada dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya. Ingat akan persahabatannya dan janji Drupada untuk memberinya setengah dari kerajaannya setelah ia naik takhta, pergilah Drona menemui sahabatnya itu. Ia yakin, Drupada pasti akan menyambutnya dengan gembira dan memenuhi janjinya. Tetapi, sampai di istana Panchala, Drona kecewa karena sambutan Drupada sangat dingin. Raja baru itu tidak peduli padanya dan tampak tidak senang melihatnya. Drupada bahkan berpura-pura tidak kenal, meskipun Drona sudah memperkenalkan diri dan mengingatkannya akan persahabatan mereka.
Drupada yang haus kekayaan dan kekuasaan berkata, “Hai brahmana, betapa lancangnya engkau, mengatakan aku ini temanmu. Persahabatan seperti apakah yang ada antara seorang raja dan seorang pengemis pengembara? Kau pasti gila, mengatakan ada persahabatan di masa lalu antara aku, raja kerajaan ini, dengan kau, pengemis miskin. Tak mungkin aku yang kaya raya dan terpelajar bersahabat dengan pengemis miskin yang tak jelas asal usulnya. Persahabatan hanya bisa terjalin di antara mereka yang sederajat.” Setelah berkata demikian, Drupada menyuruh huluba- langnya mengusir Drona. Dengan perasaan malu dan amarah yang terpendam, Drona meninggalkan istana sahabatnya. Hatinya panas oleh kebencian dan dendam yang membara. Ia bersumpah
akan membalas dendam dan menghukum Drupada yang angkuh dengan penghinaan seperti yang telah diterimanya. Dari Panchala, Drona pergi ke Hastinapura untuk mencari pekerjaan sebagai guru. Di sana untuk sementara ia tinggal di rumah kakak iparnya, yaitu Mahaguru Kripa.
Pada suatu hari, para putra raja bermain di luar gerbang istana. Ketika sedang asyik bermain, bola dan cincin Yudhistira jatuh ke dalam sumur. Mereka menghentikan permainan dan berdiri mengelilingi sumur itu. Mereka hanya bisa memandangi bola dan cincin yang tampak berkilau di dasar sumur. Tak seorang pun tahu bagaimana cara mengambilnya. Ketika itulah, tahu-tahu datang seorang brahmana berkulit hitam. Brahmana itu memandang mereka sambil tersenyum. “Wahai, para Pangeran, Tuan-Tuan adalah keturunan wangsa Bharata yang perkasa,” kata brahmana itu mengejutkan mereka. “Mengapa Tuan-Tuan tidak bisa mengambil bola itu dari dalam sumur? Bukankah siapa pun yang mahir berolah senjata perang mengetahui cara mengambil bola itu? Atau ... bolehkah aku menolong kalian?” Yudhistira berkata sambil tertawa, “Wahai, Brahmana, kalau kau memang bisa mengambil bola itu, kami akan menjamu engkau dengan makanan enak di rumah Mahaguru Kripa.” Brahmana berkulit hitam itu mengambil sehelai rumput, mengucapkan mantra, lalu membidikkan rumput itu ke arah bola di dalam sumur. Seperti anak panah lepas dan busurnya, rumput itu melesat ke bawah lalu menancap pada sasaran. Brahmana itu membidikkan beberapa helai rumput lagi. Rumput-rumput itu menancap sambung-menyambung menjadi semacam tali panjang. Setelah tali itu cukup panjang, brahmana itu menariknya dan bola itu berhasil dikeluarkan dan dalam sumur. Para pangeran takjub melihat kepandaian brahmana
itu. Kemudian mereka memintanya mengambilkan cincin Yudhistira. Brahmana itu menyanggupi. Ia meminjam sebatang anak panah lalu membidikkan anak panah itu ke arah cincin di dasar sumur. Sekali lagi ia berhasil mengenai sasaran. Kemudian ia menarik anak panah itu dari dalam sumur, bersama cincin yang kemudian diserahkannya kepada Yudhistira sambil tersenyum. Menyaksikan semua itu, para putra raja itu semakin takjub. Salah seorang dari mereka berkata sambil membungkuk memberi hormat, “Selamat untukmu, wahai Brahmana. Siapakah sebenarnya engkau ini? Apa yang dapat kami perbuat untukmu?” Brahmana itu berkata, “Putra-putra raja yang belia, pergilah bertanya kepada Bhisma. Dialah yang tahu, siapa sebenarnya aku ini.” Dari gambaran yang dilukiskan oleh putra-putra raja itu, Bhisma menyimpulkan bahwa brahmana itu tak lain dan tak bukan adalah Drona, kesatria sakti yang termasyhur. Bhisma memutuskan bahwa Drona adalah orang yang paling tepat untuk memberikan pendidikan lanjutan kepada Pandawa dan Kaurawa. Ia menyuruh Yudhistira memanggil brahmana itu untuk menghadap di istana.
Demikianlah, Bhisma menerima Drona dengan penghormatan istimewa dan mengangkatnya sebagai guru Pandawa dan Kaurawa dengan tugas mengajarkan keterampilan olah senjata, berat maupun ringan, dan mengajarkan berbagai ilmu perang. Setelah Pandawa dan Kaurawa cukup menguasai olah senjata dan siasat perang, Drona mengutus Duryodhana dan saudaranya untuk menangkap Drupada hidup-hidup. Dia berkata bahwa itu adalah tugas dan kewajiban yang harus dijalani seorang siswa sebelum ia dinyatakan berhasil menamatkan pelajarannya. Mereka itu pergi menjalankan perintah guru mereka. Sayang, mereka gagal melaksanakannnya. Kemudian Drona mengutus Arjuna dengan tugas yang sama. Arjuna berhasil mengalahkan Drupada dan menangkapnya hidup-hidup. Ia kembali ke Hastinapura bersama tawanannya yang kemudian diserahkannya kepada Drona.
Sambil tersenyum Drona berkata kepada Drupada, “Paduka Tuanku Raja Yang Agung, jangan khawatir akan keselamatan jiwamu. Di masa muda kita pernah bersahabat. Tetapi, dengan sengaja engkau melupakan persahaba- tan kita. Engkau bahkan menghina dan mengusir aku dari istanamu. Engkau pernah berkata, bahwa seorang raja hanya bersahabat dengan sesama raja, bahwa persahabatan hanya bisa terjalin di antara orang-orang yang sederajat. Sekarang aku telah menjadi raja dan muridku telah menaklukkan kerajaanmu. Meskipun begitu, aku ingin memulihkan persahabatan kita. Karena itu, kuberikan padamu setengah dari kerajaanmu yang telah menjadi milikku.”
Setelah berkata begitu, Drona menyuruh Arjuna membebaskan Drupada, mengawalnya kembali ke Kerajaan Panchala, dan memperlakukannya dengan penuh penghormatan. Drupada yang menerima perlakuan itu justru merasa sangat terhina. Seandainya Drona memperlakukannya dengan kasar dan kejam, dia lebih bisa menerima. Tetapi ... penghinaan halus yang dibungkus penghormatan justru terasa lebih kejam dan lebih menyakitkan hati. Drona puas, dendamnya telah terbalas. Sementara Drupada merasakan akar-akar dendam dan kebencian kepada Drona mulai menancap dalam-dalam di hatinya. Dalam hidup ini hanya sedikit sekali yang dapat diderita oleh hati melebihi luka yang ditancapkan untuk merusak kehormatan seseorang. Dengan hati gelap penuh dendam, Drupada melaksanakan upacara-upacara keagamaan untuk memohon kepada para dewata agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang kelak bisa membalaskan dendamnya dengan membunuh Drona dan seorang anak perempuan yang kelak akan menikah dengan Arjuna. Usaha Drupada berhasil. Dia mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Dristadyumna dan seorang anak perempuan yang diberi nama Draupadi. Kelak Dristadyumna menjadi senapati agung yang memimpin balatentara Pandawa dalam perang besar di padang Kurukshetra dan Draupadi menjadi istri Arjuna.
Bersambung....
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Saturday, February 11, 2017

MAHABARATA 12




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
12. Karna, Anak Sais Kereta Kuda
Putra-putra Pandawa dan Kaurawa mempelajari ketrampilan menggunakan berbagai senjata perang dan berlatih berperang di bawah bimbingan Mahaguru Kripa dan Mahaguru Drona. Setelah cukup lama belajar dan berlatih, kedua mahaguru itu menentukan hari baik untuk menguji kecakapan mereka di hadapan Raja, para kerabat, para panglima dan rakyat. Pada hari yang telah ditentukan, semua hadir di sekeliling arena olah senjata di istana untuk menyaksikan para putra raja yang mereka kasihi bertanding memperlihatkan kemahiran masing-masing. Di antara semua pangeran yang akan diuji kebolehannya, Arjunalah yang memiliki kemampuan melebihi para pangeran lainnya. Ketika memasuki arena, ia disambut tepuk tangan gemuruh dan sorak sorai membahana. Semua yang hadir mengelu-elukannya. Melihat sambutan luar biasa yang diterima sepupunya, Duryodhana mengerutkan alisnya yang hitam tebal. Wajahnya keruh dan matanya menyorotkan rasa dengki, amarah dan iri hati. Satu per satu para pangeran dipanggil ke tengah arena untuk menunjukkan kemahiran mereka dengan saling berlaga. Tak satu pun dapat mengalahkan kesaktian dan kemahiran Arjuna. Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore merambat menjadi senja temaram. Suasana di arena semakin seru. Tak henti-hentinya rakyat bersorak- sorai memberi semangat kepada pangeran pujaan mereka. Dalam keremangan senja, tiba-tiba terdengar suara gemuruh menderu-deru dari arah gerbang arena, disusul ledakan menggelegar seperti sambaran halilintar. Itu adalah bunyi ledakan senjata hebat sebagai tanda adanya tantangan kepada sang pemenang ujian laga hari itu. Semua kepala menoleh ke arah gerbang. Orang-orang menyibak, memberi jalan bagi seorang pemuda gagah perkasa yang wajahnya bersinar-sinar. Pemuda itu maju ke tengah arena, mendekati Arjuna tanpa mempedulikan Mahaguru Kripa dan Mahaguru Drona. Para Pandawa, yang tidak mengetahui bahwa pemuda itu adalah Karna, saling berpandangan dengan hati bertanya-tanya. Mereka tidak tahu suratan nasib yang sedang mereka hadapi. Mereka tidak tahu, sesungguhnya Karna adalah saudara mereka satu ibu. Sampai di depan Arjuna, Karna berkata dengan suara
lantang dan bergema bagai guruh, “Wahai Arjuna, aku menantangmu adu kemahiran olah senjata. Akan kuperlihatkan padamu, siapa sesungguhnya yang lebih sakti di antara kita berdua.” Tiba-tiba Mahaguru Drona bangkit berdiri lalu meninggalkan tempat duduknya. Sementara itu, Karna yang sangat ingin menunjukkan kesaktiannya, dengan mudah dan dengan sikap tak peduli dapat menandingi semua kecakapan olah senjata yang ditunjukkan oleh Arjuna. Melihat itu, Duryodhana merasa senang. Dia maju ke tengah arena, menyalami Karna, lalu memeluknya erat- erat sambil berkata, “Selamat datang wahai kesatria sejati. Senjata Tuan sungguh luar biasa. Kami sungguh beruntung Tuan sudi datang kepada kami. Kami, keturunan wangsa Kuru, siap menunggu perintah Tuan.” Karna menjawab, “Aku, Karna, berterima kasih kepadamu, wahai Pangeran. Hanya dua hal yang aku butuhkan di sini. Pertama, cinta kasihmu. Kedua, kesempatan untuk bertarung melawan Partha alias Arjuna.” Sekali lagi Duryodhana memeluk Karna erat-erat sambil berkata, “Semua harta kekayaanku akan kuserahkan kepadamu demi kebahagiaanmu, Tuan.” Rasa bangga memenuhi dada Duryodhana. Tingkah laku dan ucapannya membuat Arjuna tersinggung dan marah sekali. Dengan tajam ia memandang Karna yang berdiri tegak dengan angkuhnya sambil menerima salam dari para Kaurawa. Arjuna berkata, “Hai Karna, akan kubunuh dan kukirim engkau ke neraka. Berani benar kau masuk ke arena ini tanpa diundang dan bicara sombong di depan kami semua.”
Karna tertawa terbahak-bahak, lalu berkata dengan nada mengejek, “Arena ini terbuka bagi siapa saja, hai Arjuna! Bukan hanya bagimu. Kekuasaan yang bertuah adalah kekuasaan yang berdaulat, dan hukum ditata berdasarkan kedaulatan itu. Tetapi, apa gunanya banyak cakap? Cakap kosong adalah senjata kaum lemah. Bidikkan panahmu, jangan kata-kata!” Mahaguru Drona memberi isyarat, mengijinkan Arjuna menerima tantangan itu. Segera setelah berpelukan dengan saudara-saudaranya, Arjuna berdiri tegak, siap untuk bertanding. Sementara itu, Karna yang senang karena sambutan hangat Kaurawa, segera bersiap untuk menghadapi Arjuna. Hari menjelang malam, namun tiba-tiba langit menjadi
terang benderang seakan-akan para dewata dan orangtua para pahlawan datang hendak mengelu-elukan putra-putra mereka dalam olah perang tanding. Memang demikianlah, Batara Indra Dewa guruh dan petir, Batara Bhaskara Dewa sinar abadi, serta Batara Surya Dewa matahari muncul di angkasa. Semua yang hadir di sekeliling arena terpana melihat keajaiban itu. Sementara itu, begitu melihat Karna yang tampan, Kunti langsung mengenali putra sulungnya. Ia terkejut, sedih dan cemas melihat kedua putranya berhadapan, siap mengadu kesaktian. Tak kuasa menahan kegalauan hatinya, Dewi Kunti jatuh pingsan. Widura menolongnya hingga sadar kembali. Dewi Kunti berdiri terpaku, tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Arjuna dan Karna telah siap untuk berperang tanding, Mahaguru Kripa yang menguasai aturan segala jenis pertempuran, turun ke tengah arena lalu berdiri di antara keduanya. Kemudian ia berkata, “Putra raja yang siap bertempur dengan Tuan ini adalah putra Pritha dan Pandu dan berasal dari keturunan wangsa Kuru. Sadarlah, wahai kesatria perkasa, nenek moyang Tuan dan wangsa Tuan telah memberikan contoh mulia tentang asal usul Tuan. Hanya setelah mengetahui asal usul Tuan, Partha boleh bertempur melawan Tuan. Menurut aturan perang tanding, putra raja yang bergaris kelahiran mulia tidak boleh bertanding melawan seorang petualang yang tak dikenal.” Mendengar kata-kata mahaguru itu, serta merta Karna tertunduk lunglai bagai sekuntum teratai layu. Tetapi Duryodhana bangkit, berdiri tegak, lalu berkata lantang, “Kalau perang tanding ini tak bisa dilangsungkan hanya karena Karna bukan seorang putra raja, mudah saja. Aku nobatkan Karna sebagai Raja Angga.” Setelah berkata begitu, ia meminta Bhisma dan Dritarastra untuk mempersiapkan upacara penobatan. Mahkota bertahtakan permata dan semua lambang kebesaran raja segera disiapkan. Dalam waktu singkat, Karna, yang masuk ke arena sebagai anak seorang sais kereta, dinobatkan menjadi raja Kerajaan Angga. Dengan demikian, martabat kedua orang muda itu kini sepadan. Ketika keduanya siap bertanding, tiba-tiba muncullah Adhirata, ayah angkat Karna. Sambil mengacungkan tongkatnya, ia maju ke depan. Tubuhnya gemetar karena amat cemas. Adhirata terkejut melihat anaknya mengenakan mahkota raja.
Melihat ayahnya, Karna mengunjukkan sembah hormat dengan kepala tunduk. Adhirata memeluknya dengan tangan gemetar dan air mata berlinang-linang. Hatinya terharu, penuh cinta berlimpah-limpah. Wajahnya yang sudah keriput teperciki air suci yang menetes dari mahkota Karna.
Pada saat itulah Bhima tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Oo, ternyata ia anak sais kereta kuda. Tariklah kereta dan paculah kudamu seperti yang dikerjakan ayahmu! Engkau tak cukup berharga untuk mati di tangan Arjuna. Kau juga tidak pantas menjadi raja Kerajaan Angga.”
Mendengar kata-kata Bhima yang tajam, bibir Karna bergetar karena sangat marah. Begitu marahnya dia, hingga tak kuasa berkata-kata. Ia hanya menatap matahari yang sedang tenggelam di yojana barat sambil menarik napas panjang. Tetapi, Duryodhana berteriak memotong kata-kata
Bhima yang menghina, “Hai Wrikodara, tak pantas engkau berkata demikian. Hakikat seorang kesatria adalah keberaniannya, bukan asal kelahirannya. Karena itu, tak ada gunanya kau bicara tentang asal usul seorang pahlawan besar atau mata air sungai yang mahaluas. Aku bisa berikan ratusan orang yang berasal dari kelahiran sederhana sebagai contoh bagimu. Aku tahu, sungguh tidak enak ditanyai mengenai asal usul. Lihatlah kesatria ini, perawakan dan sikapnya bagai dewata. Senjata dan anting-antingnya yang kemilau! Lihatlah kemahirannya mempergunakan berbagai senjata! Pastilah ada sesuatu yang tersembunyi tentang dirinya. Sebab, bukankah tidak mungkin seekor harimau lahir dari perut seekor biri-biri? Katamu ia tidak pantas menjadi Raja Angga. Sebaliknya, aku menganggap dia sangat berharga dan pantas memerintah seluruh dunia.”
Setelah berkata begitu, Duryodhana menyambar Karna, menaikkan ke keretanya, lalu memacu kereta itu secepat kilat, meninggalkan arena.
Matahari pun langsung lenyap dari angkasa. Langit gelap gulita. Rakyat bubar dengan ribut. Suasana kacau balau. Orang berkelompok-kelompok membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Ada yang memuji Arjuna, ada yang memuji Karna, ada pula yang memuji Duryodhana.
Batara Indra tahu, pertarungan sengit antara putranya dan putra Batara Surya tak mungkin dihindari lagi. Jika tidak saat ini, pasti akan terjadi kelak di kemudian hari. Untuk melunturkan kesaktian Karna, Batara Indra menya- mar sebagai seorang brahmana. Ia pergi menemui Karna yang terkenal sangat dermawan. Ia memohon agar diberi anting-anting dan senjatanya. Karna tak dapat menolak permintaan seorang brahmana, walaupun Batara Surya telah memperingatkannya dalam mimpi, bahwa Batara Indra akan mencoba mencuri kesaktiannya. Akhirnya, Karna memberikan anting-anting dan senjata yang dibawanya sejak lahir kepada brahmana itu. Batara Indra kaget tetapi senang menerima pemberian itu. Ia memuji Karna yang rela meluluskan permintaan itu. Karena malu melihat ketulusan hati Karna, Batara Indra menawarkan senjata sakti kepada pemuda itu. Karna menjawab, “Aku ingin memiliki senjatamu yang sakti, agar aku mampu mengalahkan semua musuhku.” Batara Indra mengabulkan permintaan Karna dan memberikan mantra senjatanya yang mahasakti sambil berkata, “Senjata ini hanya akan dapat engkau gunakan satu kali saja. Siapa pun musuhmu, betapa pun saktinya dia, kau pasti dapat memusnahkannya dengan senjata ini. Tetapi, setelah sekali kaugunakan, kau tidak dapat menggunakannya lagi. Dan... ingat, begitu selesai kaugunakan, senjata ini harus kaukembalikan kepadaku.” Setelah berkata demikian, Batara Indra kembali ke kahyangan. Berbekal senjata pemberian Batara Indra, Karna pergi menemui Parasurama. Ia menyamar sebagai seorang brahmana agar diterima menjadi muridnya. Dari Parasurama ia mempelajari mantra agar dapat mempergunakan senjata terunggul yaitu Brahmastra.
Pada suatu hari, Parasurama meletakkan kepalanya di pangkuan Karna dan jatuh tertidur. Seekor serangga menyelinap ke kaki Karna dan menggigit pahanya sampai berdarah. Walaupun sangat kesakitan, sedikit pun Karna tidak bergerak karena khawatir gurunya akan terganggu tidurnya.
Beberapa waktu kemudian saat Parasurama terbangun dan melihat darah mengalir dari paha Karna, ia berkata, “Muridku terkasih, engkau pasti bukan seorang brahmana. Hanya seorang kesatria sejati yang dapat menahan segala siksa ragawi tanpa bergerak sedikit pun. Katakan padaku, siapa sebenarnya dirimu.” Karna mengaku bahwa ia telah berdusta dengan menyamar sebagai brahmana. Ia berkata bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah anak sais kereta kuda. Mendengar itu, Parasurama menjadi marah dan mengucapkan kutuk-pastu pada Karna, “Hai, anak muda, berani benar engkau menipu gurumu. Sebagai hukuman, Brahmastra yang telah engkau pelajari takkan bisa kaugunakan di saat yang menentukan hidup-matimu. Engkau takkan mampu mengingat mantra panggilan itu pada saat engkau memerlukannya.”
Kelak, ketika melawan Arjuna di medan perang Kurukshetra, Karna tak bisa mengingat mantra pemanggil senjata Brahmastra karena kutuk-pastu Parasurama. Setelah diusir oleh Parasurama, Karna kembali ke Angga dan kemudian menjadi kawan tepercaya Duryodhana. Sampai saat terakhir hidupnya, Karna selalu setia kepada Kaurawa bersaudara karena merekalah yang telah memberinya kehidupan yang lebih baik dan selalu menghargainya sebagai kesatria yang sederajat. Dalam perang besar Bharatayuda, setelah Bhisma dan Drona mangkat, Karna diangkat menjadi senapati agung yang memimpin bala- tentara Kaurawa dengan gagah berani.
Bersambung...

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Friday, February 10, 2017

MAHABARATA 11

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
11. Bhima Menjadi Sakti karena Racun dan Bisa
Pandawa, kelima putra Pandu, dan Kaurawa, keseratus putra Dritarastra, tumbuh bersama di lingkungan istana di Hastinapura. Mereka bermain bersama. Mereka bersama-sama mempelajari segala macam ilmu penge- tahuan dan ilmu ketatanegaraan yang harus dikuasai oleh para putra raja.
Bhima, Pandawa yang kedua, adalah yang paling kuat badannya di antara mereka semua. Ia mampu mengalahkan Duryodhana dan Kaurawa lainnya dengan menyeret rambut mereka dan menggebuki mereka. Ia juga sangat terampil berenang. Ia suka menyeret tiga-empat orang Kaurawa ke tepi sungai, merangkul mereka erat-erat, lalu membawa mereka menyelam sampai ke dasar sungai. Tak ada Kaurawa yang mampu melawan atau menandinginya. Mereka tak berdaya melawan Bhima. Pada suatu hari, ketika para Kaurawa sedang asyik bermain-main di atas pohon raksasa, Bhima datang. Putra Pandu itu lalu menggoyang-goyang pohon itu dan menendanginya. Karena kekuatan Bhima yang luar biasa, para Kaurawa terpelanting berjatuhan seperti buah-buah ranum. Begitulah, tidak jarang anak-anak Dritarastra babak belur gara-gara Bhima. Tidak mengherankan jika kelak di kemudian hari Kaurawa sangat membenci Bhima. Bibit kebencian itu sudah tersemai sejak mereka masih kanak- kanak.
Setelah mereka semua cukup besar, Mahaguru Kripa mengajari mereka ilmu memanah dan menggunakan berbagai senjata perang serta ilmu-ilmu lain yang harus dikuasai putra-putra raja. Duryodhana yang iri, dengki, dan sangat membenci Bhima suka berbohong dan melakukan perbuatan jahat terhadap Bhima. Sebenarnya, dalam hati Duryodhana sangat khawatir akan kehilangan haknya atas takhta Kerajaan Hastina. Sebelumnya, Kerajaan Hastina diperintah oleh Pandu, pamannya, karena ayahnya buta. Setelah Pandu meninggal, kemungkinan besar takhta kerajaan akan diberikan kepada Yudhistira, setelah putra sulung Pandu itu dewasa. Karena ayahnya buta dan tidak bisa berbuat apa-apa, Duryodhana berpikir bahwa ia harus menghalang-halangi Yudhistira naik takhta. Ia ingin membunuh Bhima, Pandawa yang paling perkasa. Setelah Bhima mati, kekuatan Pandawa pasti akan hancur. Demikianlah, Duryodhana membuat persiapan untuk
melaksanakan niat jahatnya. Ia dan adik-adiknya mengatur siasat untuk menenggelamkan Bhima ke dasar Sungai Gangga, kemudian mencederai Arjuna dan Yudhistira, dan yang terakhir merampas kerajaan. Bersama adik-adiknya dan Pandawa, Duryodhana pergi ke Sungai Gangga untuk berenang. Setelah puas berenang dan merasa lelah, mereka makan lalu beristirahat di dalam kemah. Di antara mereka, Bhima yang paling lelah karena dialah yang paling jauh dan paling lama berenang. Bhima merebahkan diri di pinggir sungai. Kepalanya pening sekali. Dia tidak tahu, makanan yang dilahapnya tadi telah diracuni oleh Duryodhana dan adik-adiknya. Melihat Bhima terbaring lemas, Duryodhana segera mengikat sepupunya itu dengan ranting-ranting pohon berduri dan menutupi tubuhnya dengan daun-daun gatal. Kemudian mereka melemparkan Bhima ke papan lebar yang dipasangi paku-paku tajam beracun. Mereka memperkirakan, jika Bhima jatuh di papan itu, ia pasti akan mati tertusuk paku beracun. Tetapi Bhima tidak jatuh menimpa papan berpaku-paku itu. Dia jatuh ke sungai. Segera sekujur tubuhnya dipatuki oleh ular-ular yang sangat berbisa. Berkat lindungan dewata, bisa ular-ular itu justru melawan racun yang dimasukkan ke dalam makanan Bhima. Racun dan bisa itu saling berlawanan lalu menjadi tawar di dalam tubuh Bhima. Belum jauh dihanyutkan arus, Bhima dihempaskan oleh pusaran air ke tepian di seberang sungai. Dengan gembira, Duryodhana yang mengira Bhima mati
karena keracunan makanan, tusukan paku-paku tajam beracun, dan gigitan ular-ular berbisa, kembali ke istana bersama adik-adiknya. Sampai di istana, Yudhistira menanyakan Bhima kepada Duryodhana. Putra Dritarastra itu menjawab bahwa Bhima telah lebih dulu kembali ke istana. Yudhistira percaya pada kata-kata sepupunya itu. Ia pulang ke tempat tinggal Dewi Kunti dan para Pandawa. Sampai di sana, ia bertanya kepada ibunya, apakah Bhima sudah kembali. Ternyata Bhima belum kembali. Yudhistira jadi curiga, jangan-jangan Bhima terkena celaka. Bersama Arjuna, Yudhistira kembali ke tepi sungai untuk mencari Bhima. Mereka menyusuri sungai, ke hulu dan ke hilir, tetapi tak dapat menemukan Bhima. Hari sudah gelap. Akhirnya mereka pulang dengan perasaan sedih. Sementara itu, Bhima siuman lalu bangkit. Dia melihat sekelilingnya. Langit sudah gelap. Untunglah bintang-bintang mulai bermunculan. Setelah mengamati sekelilingnya dengan cermat, Bhima tahu bahwa dirinya terdampar di seberang sungai. Dengan kekuatan baru entah dari mana, Bhima berenang ke seberang lalu berjalan pulang ke istana.
Dewi Kunti dan Yudhistira menyambutnya dengan sukacita. Kekhawatiran mereka berganti gembira karena ternyata racun dan bisa yang merasuki tubuh Bhima tidak membuatnya mati; sebaliknya, Bhima justru bertambah
kebal, sakti, dan perkasa. Dewi Kunti menceritakan kejadian itu kepada Widura. Katanya, “Duryodhana memang jahat dan kejam. Ia mencoba membunuh Bhima karena ingin menguasai kerajaan ini. Aku sungguh cemas.” Widura menjawab, “Apa yang engkau katakan itu benar, tetapi simpanlah semua itu dalam hatimu. Sebab, jika Duryodhana dipersalahkan, dia akan semakin marah dan benci kepada Bhima. Anak-anakmu telah mendapat restu untuk hidup lama. Engkau tidak perlu cemas.”
Yudhistira menasihati Bhima. Katanya, “Jangan engkau ceritakan kejadian pahit yang menimpamu. Simpan saja itu dalam hatimu. Tetapi, mulai sekarang kita harus berhati-hati, waspada, dan saling menjaga keselamatan.” Alangkah kagetnya Duryodhana keesokan harinya ketika melihat Bhima masih hidup. Iri dan dengkinya semakin menjadi-jadi. Ia menarik napas dalam-dalam, seakan hendak menanamkan kebenciannya yang menggelegak itu ke dalam lubuk hatinya. Napas dalam dan panjang itu diakhirinya dengan kata-kata, “Bhima harus dimusnahkan!”
Kecuali kepada Resi Kripa, Kaurawa dan Pandawa juga berguru kepada Mahaguru Drona, seorang resi mahasakti, ahli ilmu perang tanding dan perang brubuh atau perang habis-habisan. Setelah usaha mereka gagal, Kaurawa minta bantuan Mahaguru Drona untuk membinasakan Bhima.
Mahaguru Drona yang lebih menyayangi Kaurawa menyanggupi permintaan mereka. (Ada versi yang lain..? ) Segera ia memanggil Bhima. Setelah pangeran perkasa itu menghadap, disuruhnya Bhima mencari tirtha prawidhi atau air suci kehidupan.
Katanya, “Wahai, muridku Bhima yang perkasa, pergilah engkau mencari tirtha prawidhi. Carilah sampai dapat. Jangan kembali jika belum berhasil. Ketahuilah, barang siapa memiliki tirtha prawidhi, dia akan dapat memahami hidup ini dan akan mampu mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, yaitu sangkan paraning dumadi.
“Pergilah anakku. Jangan pernah ragu, karena orang yang ragu takkan pernah berhasil.” Bhima, yang tidak pernah banyak berpikir sebelum bertindak, langsung berangkat. Ia siap menjalankan perintah gurunya, karena yakin tak mungkin guru yang dihormatinya itu akan mencelakakannya. Ia tidak peduli, meskipun ibunya menghalanginya. Sebagai ibu, Dewi Kunti, yang curiga bahwa ada rencana jahat di balik perintah itu, mencemaskan keselamatan putranya. Bhima bersujud di depan ibunya, memohon restu, lalu dengan cepat berjalan masuk ke hutan rimba. Ia menjelajahi hutan, menyusuri lembah-lembah di kaki gunung, memasuki gua-gua gelap di kaki Gunung Candramukha. Tetapi, tirtha prawidhi tak juga ditemukannya. Bhima tak peduli pada binatang buas, raksasa, setan atau jin yang mengganggunya dalam pengembaraannya. Mereka semua berhasil dikalahkannya.
Pada suatu hari ia harus berhadapan dengan dua raksasa sakti, Rukmukha dan Rukmakhala. Ia menantang kedua raksasa itu untuk berkelahi. Tantangan diterima. Dengan kekuatan bagaikan letusan gunung berapi, ia menerjang kedua raksasa itu. Keduanya tewas seketika. Begitu terbanting ke tanah, kedua raksasa itu menjelma menjadi Batara Indra dan Batara Bayu, yaitu ayah Bhima sendiri. Batara Indra memberinya mantra Jalasengara dan Batara Bayu memberinya satu ikat pinggang sakti. Kedua hadiah itu akan menjadi bekal baginya untuk mengarungi samudera paling dalam di mana pun di dunia. Kemudian Batara Bayu memberinya petunjuk bahwa air hidup yang dimaksud terletak di dalam Telaga Gumuling, di tengah rimba Palasara. Di dalam rimba belantara itu Bhima harus menghadapi seekor naga raksasa sebesar Gunung Semeru yang bernama Anantaboga. Bhima mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke rimba
Palasara. Sampai di tepi Telaga Gumuling, Bhima disambut oleh naga raksasa Anantaboga yang langsung menyerangnya. Naga itu mengibas-ibaskan ekornya dan membelit badan kesatria Pandawa itu. Dengan Pancanaka, kuku ibu jarinya yang sakti, Bhima menusuk leher Anantaboga dan memutus tali nyawanya. Anantaboga menggelepar-gelepar sebentar, lalu menggeletak mati, tak bergerak.
Ajaib! Mayat Anantaboga lenyap, menjelma menjadi Dewi Maheswari. Sesungguhnya Dewi Maheswari adalah bidadari yang dikutuk-pastu oleh Sang Hyang Guru Pramesti. Ia terpaksa menjalani hukuman sebagai naga raksasa. Dari Dewi Maheswari, Bhima mendapat petunjuk di mana ia bisa menemukan tirtha prawidhi, yaitu di dasar samudera raya.
Dengan mantra Jalasengara pemberian Batara Indra, Bhima mengarungi Samudera Selatan yang penuh gelombang bergulung-gulung setinggi gunung. Di dalam samudera itu ia harus menghadapi naga besar Nawatnawa yang menyemburkan hujan berbisa. Tetapi, berkat apa yang dialaminya di Sungai Gangga, badannya menjadi kebal. Dan berkat ikat pinggang pemberian Batara Bayu, ia bisa mengambang di samudera raya. Dengan tangkas ia menaklukkan Nawatnawa, mencekiknya, dan menusuk lehernya dengan kuku Pancanaka. Seketika itu, matilah Nawatnawa. Tetapi, setelah tiga pertarungan berat itu, Bhima menjadi sangat lelah. Ia membiarkan dirinya diombang-ambingkan gelombang raksasa dan dihempaskan ke sebuah karang emas. Seorang diri, tanpa pertolongan siapa pun. Ketika itulah muncul Dewa Ruci yang sangat kasihan
melihat Bhima. Ia memancarkan sinar cemerlang yang menyebabkan Bhima siuman. Alangkah kagetnya Bhima melihat seorang manusia yang sangat kecil namun sangat mirip dengan dirinya. Manusia itu berkata, “Aku ini Dewa Ruci yang disebut juga Nawaruci. Aku datang untuk menolongmu Bhima- sena. Wahai kesatria perkasa, masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari!” Bhima heran sekali mendengar perintah manusia mungil itu. “Bagaimana mungkin tubuhku yang sebesar ini bisa masuk merasuk ke dalam tubuhnya yang sekecil itu?”, pikirnya terheran-heran. Ketika Bhima masih ragu-ragu, Dewa Ruci berkata, “Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat yang kosong dan sunyi, tak ada apa-apa, tak ada busana atau pakaian, tak ada boga atau makanan. Semua serba sempurna. Ketahuilah, selama ini engkau hanya setia pada ucapan, mengabdi pada gema, yaitu bentuk segala kepalsuan.”
Uraian hakikat hidup yang gaib itu membuat Bhima tercengang, tak kuasa berkata-kata. Dewa Ruci melanjutkan, “Siapakah yang lebih besar,
wahai Panduputra, engkau atau alam semesta yang ada di dalam tubuhku? Aku adalah jagad besar atau makrokosmos dan engkau adalah jagad kecil atau mikrokosmos yang ada di dalam aku.” Bhima yang semula ragu, apakah dia akan bisa masuk ke dalam lubang telinga Dewa Ruci, menjadi mantap setelah mendengar uraian ringkas itu. Tanpa ragu ia melaksanakan perintah manusia mungil itu. Begitu memasuki telinga Dewa Ruci, Bhima merasa seakan-akan berada di alam kosong, berhadapan dengan suatu wujud berbentuk gading yang memancarkan sinar putih, merah, kuning, dan hitam perlambang jiwa manusia dengan sifat-sifat murninya. Sinar putih melambangkan kemurnian budi, sinar merah melambangkan watak berangasan dan lekas marah, sinar kuning melambangkan keinginan-keinginan manusiawi, dan sinar hitam melambangkan angkara murka dan keserakahan. Kemudian Bhima melihat tiga wujud seperti boneka dari emas, gading dan permata. Ketiganya melambangkan tiga dunia. Masing-masing disebut Inyanaloka atau lambang badan jasmani, Guruloka atau lambang alam kesadaran, dan Indraloka atau lambang dunia rohani. Demikianlah, di dalam tubuh Dewa Ruci, Bhima mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang hakikat manusia dengan segala nafsunya dan hakikat alam semesta yang terbagi menjadi tiga tataran. Kemudian, tanpa disadarinya, Dewa Ruci yang gaib dan agung itu lenyap dari mata batinnya. Bhima tersadar. Tahulah Bhima bahwa dia telah menemukan apa yang harus dicarinya, yaitu tirtha prawidhi, air suci atau air kehidupan, perlambang hakikat dirinya dan hakikat alam semesta.
Bersambung...

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Wednesday, February 8, 2017

MAHABARATA 9




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
9.Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti
Sura, kakek Sri Krishna, berasal dari keturunan baik- baik wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal karena kecantikan dan kebajikannya. Karena sepupunya yang bernama Kuntibhoja tidak mempunyai anak, maka Sura menyerahkan Pritha untuk diangkat anak oleh Kuntibhoja. Sejak itulah Pritha dikenal dengan nama Dewi Kunti, mengikuti nama ayah angkatnya.
Semasa Dewi Kunti masih gadis kecil, seorang resi mahasakti pernah tinggal lama di rumah ayah angkatnya. Resi itu bernama Durwasa. Dewi Kunti melayani resi tersebut dengan penuh perhatian, dengan sabar dan penuh bakti. Resi Durwasa sangat puas akan sikap bakti putri angkat tuan rumahnya. Karena itu, ia menghadiahkan mantra suci kepada gadis cilik itu. Katanya, “Jika engkau ingin memanggil seorang dewa, siapa saja, mantra suci ini akan membantumu. Dewa yang kaupanggil akan muncul di hadapanmu dan engkau akan mempunyai anak yang keagungannya sama dengan keagungan dewa yang kaupanggil.” Resi Durwasa menghadiahkan mantra itu kepada Dewi Kunti, karena dengan kekuatan yoganya ia bisa meramalkan bahwa kelak gadis itu akan menemui nasib buruk dengan suaminya. Karena sangat ingin tahu dan tidak dapat menahan kesabarannya, Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra itu. Diam-diam ia mengucapkan mantra itu sambil menyebut nama Batara Surya, Dewa Matahari yang dibayangkannya bercahaya-cahaya di kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, tertutup awan tebal. Kemudian, dari balik awan muncullah Dewa Matahari mendekati Kunti yang cantik jelita. Batara Surya berdiri di dekatnya sambil memandangnya dengan takjub dan penuh gairah.
Dewi Kunti, yang berada dalam pengaruh kekuatan gaib dan keagungan serta kesucian tamunya berkata, “O Dewa, siapakah engkau?”
Batara Surya menjawab, “Wahai putri jelita, akulah Batara Surya, Dewa Matahari. Aku terseret ke mayapada oleh kekuatan gaib mantra yang kauucapkan untuk memanggilku.” Dengan perasaan kaget dan gembira Dewi Kunti berkata, “Aku gadis kecil yang masih berada di bawah pengawasan ayahku. Aku belum pantas menjadi ibu dan tidak pernah memimpikannya. Aku hanya ingin mencoba kekuatan mantra pemberian Resi Durwasa. Kembalilah ke kahyangan dan maafkanlah ketololanku.”
Tetapi Batara Surya tak bisa kembali ke kahyangan karena kekuatan gaib mantra itu menahannya. Melihat itu, Kunti sangat cemas kalau-kalau ia hamil padahal belum menikah. Ia takut dihina oleh seluruh dunia.
Batara Surya menghibur dan meyakinkannya, “Tak seorang pun akan menghinamu, karena setelah melahirkan anakku engkau akan kembali menjadi perawan suci.” Maka, karena karunia dan kesaktian Dewa Matahari
yang memancarkan cahaya pemberi kehidupan ke seluruh muka bumi, Dewi Kunti pun mengandung. Berkat kesaktian sang Dewa juga, maka begitu mengandung seketika itu juga ia melahirkan anaknya — tidak seperti umumnya manusia biasa yang dikandung selama kurang lebih sembilan bulan. Anak itu dinamakan Karna karena dilahirkan melalui telinga. (Karna dalam bahasa Sanskerta berarti “telinga”. Apakah ada versi yang lain..?)
Karna terlahir lengkap dengan seperangkat senjata perang yang suci dan hiasan telinga yang indah berkilau seperti matahari. Kelak Karna menjadi senapati perang yang mahasakti. Meski kesuciannya tak ternoda, Dewi Kunti merasa bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan bayinya. Untuk menghindarkan segala kutuk dan malu, bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah kotak yang tertutup rapat lalu dihanyutkannya di sungai. Seorang sais kereta kuda yang tidak punya anak menemukan kotak itu terapung-apung dihanyutkan arus air. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Alangkah kagetnya dia menemukan seorang bayi tampan di dalamnya. Ia serahkan bayi itu kepada istrinya yang menerima anak itu dengan kasih ibu yang berlimpah. Demikianlah Karna, putra Batara Surya, diasuh dan dibesarkan oleh keluarga kereta kuda.
Ketika usia Dewi Kunti sudah siap untuk menikah, Raja Kuntibhoja mengundang semua putra mahkota dari kerajaan-kerajaan tetangga untuk mengikuti sayembara agar dapat dipilih menjadi calon suami putri angkatnya. Maka, berdatanganlah putra-putra mahkota, ingin memper- sunting Dewi Kunti yang termasyhur kecantikan dan kebajikannya.
Sayembara memperebutkan gelar mahir bela diri dan menyusun formasi untuk pertempuran perang tanding berlangsung ketat. Para pangeran saling mengadu kesaktian dan menunjukkan kehebatan masing-masing. Setelah beberapa hari berlangsung, akhirnya Raja Pandu keluar sebagai pemenang. Dia mendapat kalungan bunga tanda kemenangan dari Dewi Kunti.
Sungguh pantaslah Raja Pandu keluar sebagai pemenang karena dia terkenal bijaksana dan perkasa dan berasal dari wangsa Bharata yang ternama. Keluhuran pribadinya mengatasi semua putra mahkota yang mengikuti sayembara itu. Setelah upacara perkawinan yang dilangsungkan dengan khidmat, disusul pesta meriah tiga hari tiga malam, Dewi Kunti mengikuti suaminya dan tinggal di Hastinapura. Atas nasihat Bhisma dan menurut adat istiadat jaman itu, Raja Pandu menikahi Dewi Madri sebagai istri kedua, untuk menjaga kelangsungan keturunannya.
Bersambung...

Tuesday, February 7, 2017

MAHABARATA 8

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
8. Mahatma Widura
Resi Mandawya adalah seorang resi yang telah memperoleh kekuatan jiwa dan menguasai pengetahuan tentang kitab-kitab suci. Ia mengisi hari-harinya dengan bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan sesuai ajaran suci. Ia tinggal di sebuah pertapaan di tengah hutan.
Pada suatu hari, ketika ia sedang khusyuk bertapa menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon rindang di luar pondoknya, datang segerombolan penyamun ke pertapaannya. Mereka melarikan diri ke dalam hutan, dikejar-kejar balatentara kerajaan. Mereka mengira akan aman di dalam pertapaan itu. Para penyamun itu bersembunyi di sudut pertapaan dan menyembunyikan harta mereka di sana. Sementara itu, balatentara kerajaan mengikuti jejak mereka sampai ke pertapaan itu. Pemimpin balatentara kerajaan melihat Resi Mandawya yang sedang khusyuk bertapa, tetapi ia tidak menghormatinya. Dengan suara keras ia berkata kepada pertapa itu, “He, pertapa, apakah kau melihat perampok lewat di sekitar sini? Ke arah mana mereka pergi? Jawablah segera agar kami bisa menangkap mereka.”
Resi Mandawya yang benar-benar sedang khusyuk beryoga, tidak menjawab apa-apa. Pemimpin itu mengulangi pertanyaannya dengan kasar. Tetapi resi itu tidak mendengar apa-apa karena khusyuk bertapa. Sementara itu, beberapa prajurit memasuki pertapaan dan menggeledah
pondok sang pertapa. Mereka menemukan barang-barang rampokan di sana. Segera saja mereka melaporkan penemuan itu kepada sang pemimpin. Mendengar itu, sang pemimpin memerintahkan pasukannya untuk menyerbu pertapaan itu. Memang benar, semua barang curian mereka temukan di sana. Bukan hanya itu, mereka juga menemukan para perampok yang bersembunyi di situ. Pemimpin balatentara kerajaan itu berpikir, “Sekarang aku tahu mengapa brahmana ini pura-pura diam dan tenggelam dalam samadinya. Sesungguhnya, dialah kepala para penyamun itu. Dialah yang merencanakan perampokan ini.” Kemudian ia memerintahkan anak buahnya mengurung pertapaan itu sementara ia pergi melapor ke istana bahwa Resi Mandawya telah ditangkap dan semua barang rampokan ditemukan di pertapaannya. Raja sangat marah mendengar kelancangan kepala perampok yang berani menyamar sebagai seorang resi yang disegani. Tanpa memeriksa laporan itu dengan cermat, Raja langsung memerintahkan agar penjahat licik itu disiksa dengan tombak. Pemimpin balatentara itu segera kembali ke pertapaan dan memerintahkan prajurit-prajuritnya menusuki tubuh resi itu dengan tombak. Setelah puas menusuk-nusuk tubuh resi itu, mereka memancangnya dengan tombak.Mereka meninggalkan sang resi dalam keadaan terpan-
cang di ujung tombak yang ditegakkan. Kemudian mereka kembali ke istana untuk mempersembahkan semua barang rampokan. Sebagai orang suci, meskipun tubuhnya hancur ditusuk-tusuk tombak, Resi Mandawya tidak mati. Ia tetap hidup karena kekuatan yoganya. Kabar tentang apa yang menimpa Resi Mandawya tersebar ke seluruh hutan. Para resi yang tinggal di bagian lain hutan itu berdatangan ke pertapaan Resi Mandawya dan menanyakan apa yang menyebabkan sang resi menderita seperti itu.
Resi Mandawya menjawab, “Siapa yang bisa disalahkan? Balatentara raja hanya melaksanakan tugas mereka, yaitu melindungi rakyat dari para penjahat. Dan para penjahat memang harus dihukum.” Raja terkejut dan cemas ketika mendengar bahwa resi yang telah ditusuk-tusuk dan dipancangkan dengan tombak ternyata masih hidup dan sedang dikerumuni resi-resi yang bertapa di hutan. Segera ia memerintahkan bala- tentaranya mengawalnya pergi ke hutan. Sesampainya di sana, Raja memerintahkan agar resi itu diturunkan dari tombak. Kemudian ia berlutut sambil menyembah dan meminta ampun atas perbuatan keji yang ia perintahkan.
Resi Mandawya sama sekali tidak marah kepada Raja. Setelah memaafkan Raja, ia segera menghadap Bagawan Dharma, pewarta keadilan suci yang sedang duduk di singgasananya. Sampai di sana, ia bertanya kepada Baga- wan Dharma, “Kejahatan apakah yang telah kulakukan hingga aku menerima hukuman seperti ini?” Bagawan Dharma, yang mengetahui kesaktian Resi Mandawya, menjawab dengan hati-hati, “Wahai, Resi Man- dawya, tanpa kausadari engkau sering menyiksa burung dan kumbang. Kebaikan dan kejahatan sekecil apa pun pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal.” Resi Mandawya terkejut mendengar jawaban Bagawan
Dharma. Ia bertanya lagi, “Kapankah aku berbuat kesalahan itu?”
Bagawan Dharma menjawab, “Ketika engkau masih kanak-kanak.”
Resi Mandawya lalu mengucapkan kutuk-pastu pada Bagawan Dharma, “Hukuman yang engkau putuskan sungguh keterlaluan, jauh melampaui batas kesalahan yang diperbuat oleh kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa. Karena itu, lahirlah engkau ke dunia sebagai manusia!”
Bagawan Dharma yang dikutuk-pastu oleh Resi Mandawya menitis, berinkarnasi dan terlahir ke dunia sebagai Widura, yaitu pelayan Ratu Ambalika, istri Maharaja Wichitrawirya.
Kelak Widura, yang sesungguhnya adalah inkarnasi Bagawan Dharma, disegani orang-orang sebagai seorang mahatma yang sakti dan mumpuni dalam ilmu pengetahuan tentang dharma, peradilan, sastra, dan ketatanegaraan. Widura tidak pernah mempunyai ambisi apa pun dan sama sekali tidak pernah marah. Kemudian Bhisma mengangkatnya sebagai penasihat utama Raja Dritarastra ketika Widura baru berumur belasan tahun. Menurut Bagawan Wyasa, tak ada orang yang bisa menandingi Widura di ketiga dunia ini, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kebajikan. Suatu ketika Dritarastra mengijinkan anak-anaknya berjudi dadu. Widura segera menyembah di kakinya sambil berkata, “O, Tuanku Raja, hamba tak dapat menyetujui perbuatan itu. Putra-putra Tuanku akan berselisih dan berseteru karena berjudi. Mohon Paduka renungkan kata- kata hamba dan jangan ijinkan mereka berjudi.”
Sayang sekali, Maharaja Dritarastra berwatak lemah. Cintanya yang sangat mendalam kepada putra-putranya membuatnya tak kuasa menolak permintaan mereka. Ia bahkan meminta Yudhistira agar mau menerima undangan Kaurawa untuk berjudi dadu.
Bersambung...

MAHABARATA 7



_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
7. Amba, Ambika, dan Ambalika

Chitranggada, putra Satyawati, tewas dalam pertempuran melawan gandarwa. Karena ia tewas dalam peperangan tanpa memiliki anak, maka Wichitrawirya, adiknya, dinobatkan menjadi raja menggantikannya. Tetapi, karena waktu naik takhta dia belum dewasa, tampuk pemerin- tahan untuk sementara dipegang oleh kakaknya dari lain ibu, yaitu Dewabrata alias Bhisma, sampai dia dewasa. Ketika Wichitrawirya telah cukup dewasa untuk meni- kah, Bhisma mencarikan calon istri yang pantas bagi adiknya itu. Ia mendengar bahwa tiga putri Raja Kasi akan memilih calon suami menurut adat-istiadat kaum bang- sawan, yaitu dengan mengadakan sayembara. Bhisma me- mutuskan mengikuti sayembara itu agar bisa memboyong putri-putri Raja Kasi untuk adiknya.
Pada hari sayembara, di alun-alun Kerajaan Kasi ber- kumpul putra-putra mahkota dari Kerajaan Kosala, Wangsa, Pundra, Kalingga dan lain-lain. Mereka semua berminat mempersunting putri-putri Raja Kasi yang sangat terkenal kecantikan dan keanggunannya. Karena ada tiga putri yang diperebutkan, sayembara itu diselenggarakan secara besar-besaran. Meskipun datang dengan semangat tinggi, banyak juga putra mahkota yang merasa cemas, takut menanggung malu jika gagal memenangkan sayem- bara; lebih-lebih ketika melihat Bhisma hadir di antara mereka. Bhisma terkenal sakti dan mahir menggunakan segala macam senjata perang. Kecuali itu, karena kesetiaan dan keteguhan hatinya, semua orang segan padanya. Semula para putra mahkota menyangka Bhisma datang hanya untuk menyaksikan jalannya sayembara karena pangeran itu telah bersumpah takkan pernah menikah. Tetapi, ketika mengetahui bahwa Bhisma mengikuti sayembara, sangatlah kecut hati mereka. Tak ada yang menyangka bahwa Bhisma datang untuk maksud yang sama. Dan tak seorang pun tahu bahwa ia datang demi saudaranya yang lebih muda, Wichitrawirya. Para putra mahkota itu berbisik-bisik, membicarakan Bhisma. Seseorang berkata, “Dia memang keturunan Bharata yang sakti dan bijaksana. Sayang sekali, ia lupa diri. Tak sadar bahwa sudah tua dan lupa akan sumpahnya untuk hidup sebagai brahmacarin yang seumur hidup tidak akan kawin. Untuk apa dia ikut sayembara ini? Dasar pangeran tak tahu malu!”
Putri-putri Kasi yang hendak memilih calon suami mereka sama sekali tak menghiraukan kehadiran Bhisma. Mereka menganggapnya pemuda tua yang tidak menarik. Mereka berbisik-bisik mengolok-olok jagoan tua itu sambil membuang muka, tak mau memandangnya. Bhisma, yang merasa diejek dan dipermainkan, menjadi berang. Ditantangnya semua putra mahkota untuk berpe- rang-tanding dengannya. Tak ada yang berani menolak meskipun sadar semua takkan mampu mengalahkan kesatria tua itu. Tak ada yang mau dipermalukan di depan putri-putri jelita idaman mereka. Satu per satu mereka berperang-tanding melawan Bhisma. Semua kalah. Segera setelah mengalahkan semua putra mahkota, Bhisma menyambar ketiga putri jelita itu dan melarikan mereka dengan keretanya yang termasyhur. Begitu kencang laju kereta itu hingga seakan-akan mereka terbang meninggalkan gelanggang sayembara, menuju Hastinapura. Belum lagi jauh dari arena sayembara Kera- jaan Kasi, mereka dihadang Raja Salwa dari Kerajaan Saubala. Raja itu menantang Bhisma untuk bertarung. Sebenarnya, Raja Salwa sudah menjalin kasih dengan Amba dan Amba yang jelita telah memilih Salwa sebagai calon suaminya. Setelah perkelahian sengit, Salwa takluk. Menyerah. Bhisma mengangkat senjata, hendak membu- nuh, tetapi dicegah oleh Amba. Karena permintaan putri itu, Bhisma urung membunuh Salwa. Setibanya di Hastinapura, Bhisma segera mempersiapkan pernikahan Wichitrawirya. Ketika tamu-tamu mulai berdatangan, Amba berkata kepada Bhisma dengan nada mencemooh, “Wahai putra Dewi Gangga yang masyhur, Tuan pasti tahu yang terkandung dalam kitab-kitab suci yang kita hormati dan muliakan. Seharusnya Tuan juga tahu bahwa aku telah memilih Salwa, Raja Kerajaan Saubala, untuk menjadi suamiku. Tuan memaksa diriku menerima pernikahan ini. Bila Tuan mengerti akan hal ini, bertindaklah sesuai dengan ajaran kitab suci.”
Sementara pernikahan Ambika dan Ambalika, adik-adik Amba, dengan Wichitrawirya berlangsung dengan baik dan penuh kebesaran, Bhisma mengantarkan Amba kepada Raja Salwa. Hal itu dilakukan Bhisma karena memahami maksud putri itu dan demi menaati apa yang tertulis dalam kitab suci. Diiringkan sejumlah pengawal kehormatan yang pantas, diantarkannya Amba ke istana Kerajaan Saubala. Sampai di sana, Bhisma menghadap Raja Salwa dan menyerahkan Amba kepadanya. Segera sesudah itu, pangeran tua itu kembali ke Hastinapura. Dengan perasaan gembira dan mesra, Amba menceritakan semua yang telah terjadi kepada Raja Salwa. Setelah itu ia berkata, “Sejak semula hamba telah tetapkan hati untuk mengabdikan diri, lahir dan batin kepada Tuanku. Pangeran Bhisma menerima penolakan hamba dan meng- antarkan hamba ke hadapan Tuanku. Jadikanlah hamba permaisuri Tuanku menurut ajaran kitab-kitab suci sastra.”
Maharaja Salwa menjawab, “Bhisma telah menaklukkan aku dan telah melarikan engkau di depan umum. Akumerasa sangat terhina. Karena itu, aku tidak bisa mene- rima engkau menjadi istriku. Sebaiknya engkau kembali kepada Bhisma dan lakukan apa yang ia perintahkan.”
Setelah berkata demikian, Raja memanggil beberapa pengawal dan memerintahkan mereka untuk mengawal Amba kembali kepada Bhisma.
Bersambung....

Monday, February 6, 2017

MAHABARATA 6

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
6. Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma
Dengan hati bahagia Raja Santanu menyambut putra- nya dan membawanya ke istana. Anak yang dikelilingi aura keagungan dan menunjukkan watak-watak kesatria sejati itu dinobatkannya menjadi putra mahkota. Dewa- brata diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota yang bertugas mendampingi Raja dalam memerintah. Dia pula yang akan mewarisi kerajaan ayahnya, kelak setelah ayahnya mengundurkan diri dengan bijaksana. Empat tahun berlalu. Pada suatu hari, Raja Santanu
berjalan-jalan di tepi Sungai Yamuna. Tiba-tiba angin berhembus dan terciumlah olehnya keharuman yang memenuhi udara. Raja mencari sumber keharuman yang suci itu dan melihat seorang gadis cantik jelita, secantik bidadari kahyangan, duduk melamun di tepi sungai.
Sejak Dewi Gangga meninggalkannya, Raja Santanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsunya dan berusaha hidup dengan sepenuhnya mengutamakan kebajikan. Tetapi, kecantikan wajah dan keharuman tubuh gadis itu membuatnya lupa akan tapabratanya. Hatinya bergejolak, dilanda cinta asmara yang meluap-luap. Raja Santanu meminang gadis itu agar mau menjadi permaisurinya.
“Wahai gadis jelita, siapakah namamu dan dari mana asalmu? Aku terpesona oleh kecantikanmu. Maukah eng- kau kupersunting menjadi istriku?” kata sang Raja.
Berkatalah sang juwita, “Daulat Tuanku, nama hamba Satyawati. Hamba seorang penangkap ikan. Ayah hamba kepala kampung nelayan di sini. Hamba persilakan Paduka membicarakan permintaan itu dengan ayah hamba. Semoga dia menyetujuinya.”
Satyawati mengantarkan sang Raja ke rumah orangtuanya di kampung nelayan yang agak jauh dari tempatnya mencari ikan. Sampai di rumah, sang Raja dipersilakan untuk mengutarakan niatnya.
Kata Raja Santanu, “Wahai Bapak nelayan, aku temukan putrimu yang jelita ini di tepi sungai sedang mencari ikan. Aku sangat terpesona oleh kecantikan dan tutur katanya yang lembut. Aku ingin mempersunting dia menjadi istriku dan memboyongnya ke istanaku.”
Ayah gadis itu orang yang cerdik. Ia menyembah Raja Santanu dan berkata, “Daulat Tuanku. Memang sudah waktunya anak hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka Tuanku adalah raja yang mulia dan berkedudukan jauh di atas dia. Hamba tidak keberatan jika anak hamba Paduka persunting. Tetapi, sebelum Satyawati hamba serahkan, Paduka harus berjanji.”
Kata Raja Santanu, “Apa pun syarat yang kauajukan, aku akan memenuhinya.” Kepala kampung nelayan itu memohon, “Jika anak
hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan kerajaan ini kepadanya.”
Meskipun tergila-gila pada anak gadis kepala kampung nelayan itu, namun Raja Santanu tak dapat menyanggupi persyaratan itu. Ia sadar, jika dia memenuhi semua syarat yang diajukan ayah si gadis, berarti ia harus menyingkir- kan Dewabrata yang sudah dinobatkannya menjadi yuwa- raja dan berhak atas takhta kerajaannya kelak. Terlalu besar yang harus ia pertaruhkan untuk mempersunting Satyawati. Sungguh tidak pantas dan memalukan, jika ia menuruti kata hatinya. Setelah bergulat dengan perasaannya, Raja Santanu kembali ke istananya di Hastinapura. Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapat- rapat. Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan oleh Dewabrata.
Mengetahui hal itu, suatu hari Dewabrata bertanya kepada ayahnya, “Ayahanda mempunyai segala sesuatu yang mungkin diinginkan oleh seorang manusia. Tetapi mengapa Ayahanda kelihatan begitu murung? Apa sebabnya Ayahanda berduka demikian rupa? Wajah Paduka seakan-akan menyimpan rahasia dan menanggung beban berat.”
Jawab Baginda, “Anakku sayang, apa yang kaukatakan itu benar. Sesungguhnya Ayahanda sedang tersiksa oleh perasaan duka dan cemas. Engkau putraku satu-satunya. Engkau selalu sibuk mengurus kerajaan dan melatih para prajurit agar mahir berperang. Hidup di dunia ini tidak pasti dan tidak kekal. Perang dan damai silih berganti tiada henti. Jika kau mati tanpa punya anak, maka garis keturunan kita akan putus, habis.
“Sudah tentu seorang anak —apalagi anak tunggal—
sama berharganya dengan seratus anak. Para tua-tua cendekia yang mahir akan makna kitab-kitab suci berkata,
‘Di mayapada atau di dunia ini, punya anak hanya seorang
sama dengan tidak punya anak sama sekali’. Sungguh sayang jika kelangsungan hidup keluarga dan keturunan kita hanya bergantung pada seorang saja. Sebenarnya, Ayahanda memikirkan kelangsungan garis keluarga dan keturunan kita sampai beratus-ratus tahun kelak. Itulah yang membuatku gelisah dan berduka.”
Raja Santanu berusaha keras untuk menyembunyikan isi hatinya yang sesungguhnya karena ia malu pada putra- nya. Dewabrata yang bijaksana dan setia kepada ayahnya menyadari hal itu. Ia tidak mau mendesak agar ayahnya mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakannya dan menye- babkannya berlaku seperti itu, selalu murung dan gelisah. Dewabrata kemudian bertanya kepada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu bahwa belum lama ini ayahnya berkenalan dengan seorang gadis cantik penangkap ikan di tepi Sungai Yamuna, bahwa ayahnya kemudian meminang gadis itu, dan bahwa ayahnya tak sanggup memenuhi syarat-syarat yang diajukan ayah si gadis. Mendengar itu, Dewabrata memutuskan untuk mene- mui kepala kampung nelayan itu dan meminang putrinya atas nama ayahnya. Kepala kampung nelayan itu berpegang teguh pada pendiriannya, “Wahai sang Putra Mahkota, sesungguhnya anak hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda Paduka. Karena itu, sungguh wajar jika kelak anaknya dinobatkan menjadi raja, menggantikan ayahanda Paduka. Apakah Tuanku sependapat dengan hamba?
“Hamba tahu, Paduka telah dinobatkan menjadi yuwa-raja dan dengan sendirinya kelak akan menggantikan beliau. Demi anak hamba, jangan sampai hal itu terjadi.”
Kata Dewabrata, “Baiklah. Ingat baik-baik kata-kataku ini: Jika anakmu melahirkan seorang anak lelaki, anak itu kelak akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela turun takhta demi keinginan ayahanda Raja Santanu untuk melanjut- kan keturunannya.”
Mendengar kata-kata Dewabrata, nelayan itu bersujud, “Wahai Putra Mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, apa yang Tuan lakukan sungguh berani dan belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Tuanku seorang pahlawan besar. Silakan Tuanku membawa anak hamba untuk dipersembahkan kepada ayahanda Paduka.
“Hamba yakin, Tuanku pasti akan memenuhi janji. Tetapi, apa yang dapat hamba pakai sebagai pegangan yang menguatkan harapan hamba? Bagaimana putra- putra yang lahir sebagai keturunan Tuanku akan rela menyerahkan hak-hak mereka sebagai ahli waris kerajaan?
Putra-putra Tuanku pasti akan menjadi pahlawan- pahlawan besar seperti Tuanku sendiri. Tuanku pasti sulit menjelaskannya kepada mereka. Pasti sulit menghalangi keinginan mereka untuk kembali memiliki kerajaan — entah dengan kekerasan atau secara baik-baik. Inilah keraguan hati hamba yang selalu membuat hamba cemas.” Mendengar pertanyaan yang sangat sulit dijawab itu, Dewabrata dengan penuh niat suci memutuskan untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi, demi ayahnya. Kemudian ia bersumpah di hadapan ayah si gadis penangkap ikan, “Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan kerajaan dan untuk kesucian.”
Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu, “Bhisma... bhisma... bhisma....”
Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan benar-benar melaksanakannya. Dewabrata memenuhi syarat-syarat itu. Sejak itu, Dewabrata melepas gelar yuwaraja dan tidak lagi berkedudukan sebagai putra mahkota. Kemudian dia digelari dengan nama Bhisma, sebagai penghormatan akan kesetiaannya kepada ayahnya dan keteguhan hatinya yang suci. Demikianlah, Dewabrata putra Dewi Gangga memboyong Satyawati ke Hastinapura untuk diserahkan kepada ayahnya, Baginda Raja Santanu. Dari perkawinannya dengan Satyawati, Raja Santanu mempunyai dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya. Chitranggada meninggal lebih dulu daripada adiknya, tanpa meninggalkan seorang putra pun; sedangkan Wichitrawirya mempunyai dua putra, yaitu Dritarastra dan Pandu dari dua permaisurinya, Ambika dan Ambalika. Dritarastra berputra seratus orang; mereka dikenal sebagai Kaurawa. Pandu berputra lima orang, mereka termasyhur sebagai Pandawa. Adapun Bhisma, sebagai kakek-paman dan sesepuh anak-cucu Raja Santanu, hidup sampai usia tua, disegani dan dihormati oleh seluruh sanak keluarganya. Kelak Bhisma meninggal sebagai senapati dalam perang besar Bharatayuda di padang Kurukshetra.
Bersambung....