Showing posts with label krisna. Show all posts
Showing posts with label krisna. Show all posts

Monday, April 10, 2017

MAHABHARATA 54

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
54. Musnahnya Bangsa Yadawa
Perang di padang Kurukshetra telah berakhir. Yudhistira telah dinobatkan menjadi raja dan telah melaksanakan upacara agung aswamedha. Setelah semua mapan dan tenteram, Krishna minta diri kepada Pandawa untuk kembali ke negerinya, Dwaraka.
Dalam perjalanan pulang, Krishna bertemu dengan kawan lamanya, seorang brahmana bernama Utanga. Krishna berhenti, turun dari kereta, lalu memberi salam. Terjadilah percakapan panjang di antara dua kawan lama itu. Mereka saling berkabar tentang keluarga dan pengalaman masing-masing selama mereka berpisah.
Utanga juga menanyakan keadaan Pandawa, karena ia tahu Krishna adalah keluarga dekat mereka. Brahmana itu sama sekali tidak mendengar berita tentang perang besar yang telah berlangsung di medan Kurukshetra. Krishna terheran-heran, sampai tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Akhirnya Krishna bercerita panjang lebar tentang pertempuran dahsyat antara Kaurawa dan Pandawa. Dia juga bercerita bahwa Pandawa sudah berusaha keras menawarkan perdamaian agar perang itu tidak terjadi. Tetapi usaha mereka sia-sia. “Tak terbilang yang tewas di medan pertempuran itu. Yang selamat dan masih hidup sangat sedikit. Siapa dapat mengelakkan diri dari nasib seperti itu?” Krishna mengakhiri ceritanya.
Mendengar cerita itu, Utanga merasa muak dan jijik melihat kawannya itu. Amarahnya menggelegak, matanya memerah dan hatinya panas. Ia berteriak mengutuk Krishna, menuduhnya telah membiarkan perang itu terjadi tanpa berusaha menghindarkannya. Ia menuduh Krishna menipu dan tidak melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya hingga menyebabkan musnahnya Kaurawa.
“Bersiaplah untuk menerima kutuk-pastuku,” katanya.
Krishna berusaha menyabarkan brahmana itu. Sambil tersenyum ia menasihati brahmana itu agar tidak menggunakan hasil tapanya untuk tindakan yang sia-sia. Dimintanya Utanga mendengarkan ceritanya dengan cermat sebelum mengucapkan kutuk-pastu.
Krishna mengulang ceritanya secara terperinci. Tetapi Utanga tetap tidak mengerti inti persoalan itu. Karena itu, Krishna memperlihatkan dirinya dalam wujud Wiswarupa atau perwujudan Hyang Tunggal dan berkata, “Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala jaman untuk menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku harus bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud yaksa atau raksasa, aku harus bertingkah laku seperti yaksa atau raksasa. Jika aku terlahir sebagai manusia, aku harus bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku sebagai wujud tertentu selesai.
“Aku telah menasihati Kaurawa agar jangan berkeras kepala, tetapi mereka tidak peduli. Mereka terus membuat kesalahan dan kejahatan yang akhirnya menimbulkan perang yang memusnahkan mereka sendiri.
“Brahmana yang budiman, demikianlah ceritanya. Engkau tidak punya alasan untuk marah-marah.”
Setelah mendengar penjelasan Krishna dan memahami siapa sesungguhnya kesatria itu, amarah Utanga lenyap seketika.
Krishna lega. Ia berkata, “Nah, sekarang apa yang dapat kuberikan kepadamu?”
Utanga bersyukur bisa bertemu dengan Hyang Tunggal yang menjelma dalam wujud Krishna. Ia berkata bahwa ia tak ingin memohon sesuatu. Tetapi, ia terus didesak agar meminta sesuatu.
Akhirnya, ia mengajukan permohonan, “Kalau Engkau hendak menganugerahkan sesuatu kepadaku, aku minta mantra yang bisa menolongku mendapat air segar kapan saja dan di mana saja.” Krishna meluluskan permintaan itu.
***
Pada suatu hari, dalam perjalanan melintasi padang rumput, Utanga merasa sangat haus. Ia mencari-cari, tetapi tidak menemukan air setetes pun untuk minum. Ia teringat akan mantra pemberian Krishna. Segera setelah ia mengucapkan mantra itu, seorang pemburu tiba-tiba muncul di hadapannya. Pakaiannya compang-camping dan kumal berdebu. Bau keringatnya menusuk hidung. Tangan kanannya memegang alat berburu, di pinggangnya terselip sebilah kapak. Sebuah kantong kulit berisi air tergantung di pundak kirinya. Seekor anjing mengibas-ngibaskan ekornya dekat kakinya. Lelaki kotor dan menjijikkan itu menyeringai dan berkata, “Rupanya Brahmana sangat kehausan. Aku punya air dalam kantong kulit ini. Silakan minum.” Ia mengisi cangkir bambunya dengan air untuk disuguhkan kepada Utanga.
Melihat lelaki kotor dan anjingnya yang dekil itu, Utanga berkata jijik, “Ah, aku tidak haus. Terima kasih!” Dalam hati ia marah karena menganggap mantra pemberian Krishna hanyalah olok-olok belaka.
Lelaki kotor itu berulang-ulang menawarkan air kepada Utanga, karena ia tahu brahmana itu sangat kehausan. Utanga menjadi marah dan semakin jijik melihatnya. Tiba- tiba, pemburu dan anjingnya yang menjijikkan itu lenyap dari pandangan. Ketika pemburu itu lenyap dan ia kembali sendirian, Utanga berpikir-pikir, siapa gerangan lelaki kotor yang muncul dan lenyap secara gaib itu? Ia mulai merenung, lelaki itu tidak mungkin orang paria, nishada (orang kotor dan kumal), atau orang biasa. Ia merenung dan berkata- kata dalam hati, “Mungkin peristiwa tadi adalah cobaan bagiku. Ah, aku telah berbuat tolol! Kenapa aku dengan angkuh menolak airnya, padahal sebenarnya aku sangat haus? Sungguh tolol aku ini!”
Sesaat kemudian muncul Krishna membawa cakra dan trompet kerangnya. Ia tersenyum di depan Utanga.
Brahmana itu berkata keras, “Hai, Krishna alias Purushottama, engkau menguji aku dengan cara kasar, yaitu memberiku air dari tangan seorang lelaki paria yang nista dan tabu kusentuh. Jangan mengolok-olok aku. Leluconmu tidak lucu.”
Krishna alias Janardana tersenyum, lalu mengatakan
apa yang tadi dikerjakannya. Sewaktu Utanga mengucapkan mantra, Krishna meminta Batara Indra untuk memberikan amerta atau air kehidupan kepada Utanga, untuk melepaskan dahaganya. Batara Indra tidak mau memberikan amerta kepada manusia biasa, sebab air kehidupan itu sesungguhnya hanya bagi mereka yang tidak akan menemui kematian seperti manusia di dunia. Tetapi Krishna terus mendesak sampai akhirnya Batara Indra setuju dengan syarat ia sendiri yang memberikan kepada Utanga dalam penyamarannya sebagai seorang nishada. Batara Indra memang ingin mencobai Utanga. Jika Utanga benar- benar telah mencapai jnana atau menguasai ilmu pengetahuan suci tertinggi, brahmana itu pasti menerimanya. Tapi ternyata Utanga yang dungu menolak airnya. Akibatnya, Krishna merasa sangat malu di hadapan Batara Indra. Mendengar cerita itu, Utanga menyesal dan malu atas
ketololannya sendiri.
***
Demikianlah, Krishna kembali ke negerinya dan memerintah selama tiga puluh enam tahun. Di masa pemerintahannya, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Suku Wrisni dan Bhoja yang masih berkerabat dengan bangsa Yadawa—bangsa asal keturunan Krishna, terkenal suka bersenang-senang. Karena hidup makmur, mereka jadi suka mengumpulkan barang-barang mewah, makan makanan lezat, minum minuman keras, dan berpesta pora. Lambat laun mereka menjadi bangsa yang angkuh, liar, suka mabuk, gemar mengumbar hawa nafsu, lengah dan gegabah. Mereka yang bekerja sebagai narapraja umumnya tidak jujur, gemar main wanita jalang, mudah disuap, dan hanya memburu kekayaan. Sementara itu, yang masih muda suka mabuk-mabukan dan hidup sesukanya tanpa mengindahkan adat dan kepercayaan.
Pada suatu hari, seorang resi dari negeri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Begitu masuk ke gerbang kerajaan, ia dicegat segerombolan pemuda. Mereka mengolok- olok dan mengejek resi itu dengan lelucon yang tidak lucu. Salah seorang dari mereka, yaitu Samba putra Krishna, bertindak terlalu jauh. Ia mengganjal perutnya dengan kain-kain lalu mengenakan pakaian hamil. Sambil berjalan tertatih-tatih seperti perempuan hamil tua, ia pergi menemui resi itu. Kawan-kawannya tertawa-tawa, menertawakan lelucon mereka sendiri.
Dengan gemulai Samba menari-nari di depan brahmana itu dan bertanya kepadanya, “Wahai Resi yang tahu segalanya, katakan, anak yang kukandung ini perempuan atau laki-laki?”
Resi itu tersinggung. Sambil menggumamkan kutukpastu, ia menjawab, “Pemuda ini akan melahirkan sebuah gada, bukan bayi laki-laki atau bayi perempuan. Gada itu akan menjelma menjadi Batara Yama yang akan memusnahkan bangsa Yadawa, termasuk kalian semua.”
Mereka kaget mendengar jawaban resi itu. Mereka menyesal telah mengolok-olok dia dan takut menghadapi kutuk-pastunya.
Benarlah, beberapa hari kemudian Samba merasa perutnya sakit seperti orang hamil hendak melahirkan. Alangkah panik kawan-kawannya ketika melihat Samba benar-benar melahirkan sebuah gada, bukan bayi laki-laki atau bayi perempuan. Semua ketakutan, karena ramalan resi itu terjadi. Semua berpikir, resi itu benar dan sekarang gada itu akan memusnahkan bangsa mereka, termasuk mereka sendiri.
Mereka memungut gada itu lalu beramai-ramai menghancurkannya dan membakarnya hingga menjadi abu. Mereka lalu membuang abu itu jauh-jauh. Abu itu ditebarkan ke laut hingga tersebar ke mana-mana ditiup angin dan dibawa ombak sampai ke tepi pantai.
Lama tak terjadi apa-apa. Para pemuda itu sudah lupa akan lelucon mereka sendiri. Samba menjadi laki-laki biasa lagi. Tahun demi tahun berganti, musim demi musim berlalu, rakyat terus hidup makmur dan bahagia. Mereka tak tahu, sebagian abu gada itu jatuh ke pasir pantai. Ajaib! Lambat-laun pantai itu ditumbuhi rumput raksasa yang rimbun dengan batang-batang sebesar batang bambu.
Di antara bangsa Yadawa yang ikut berperang di medan Kurukshetra, Krishna, Satyaki dan balatentara mereka bertempur di pihak Pandawa, sementara Kritawarma dan pasukannya bertempur di pihak Kaurawa. Setelah kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan yang melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, yaitu rakyat diijinkan minum minuman keras pada hari-hari tertentu.
Sebagai bangsa yang berwatak periang, bangsa Yadawa sangat gemar berpesta dan berwisata. Pada suatu hari mereka berdarmawisata ke pantai yang ditumbuhi rumput raksasa. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum minuman keras sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian pecah menjadi perkelahian hebat. Mula-mula saling meng- hantam dengan tangan kosong, kemudian ada yang memulai mencabut sebatang rumput raksasa berdaun runcing.
Dengan itu mereka saling menusuk. Mereka tak tahu, itu rumput ajaib. Tertusuk ujung daunnya atau terhantam batangnya bisa menyebabkan kematian.
Perkelahian hebat itu berawal dari pertengkaran kecil. Awalnya Kritawarma adu mulut dengan Satyaki, padahal dua-duanya dalam keadaan mabuk. Satyaki mengejek Kritawarma, “He, Kritawarma, kau telah mempermalukan bangsa kita. Engkau membunuh musuhmu yang sedang tidur nyenyak. Itu bukan perbuatan kesatria sejati! Gara-gara kau, selama-lamanya bangsa kita akan menanggung malu!”
Kritawarma tersinggung mendengar ejekan itu. Ia membalas dengan pedas, “Engkau tak ubahnya jagal sapi. Engkau membunuh Bhurisrawa yang sedang bersamadi. Engkau pengecut yang berlagak kesatria!”
Sorak-sorai pengikut mereka membuat Satyaki dan Kritawarma semakin memanas. Pertengkaran mulut tidak berhenti di situ, tetapi malah memanas menjadi pertarungan bebas. Suasana kacau. Pengikut Satyaki bertarung melawan pengikut Kritawarma dalam pertarungan bebas yang membolehkan apa saja. Putra Krishna, Pradyumna, juga ada di situ. Ia berniat menolong Satyaki, tetapi malah terlibat dalam pertempuran dan akhirnya menemui ajalnya. Kutuk-pastu resi yang pernah mereka hina menjadi kenyataan. Batang rumput berdaun runcing menjadi senjata utama.
Demikianlah, semua akhirnya mati kena hantaman atau tusukan batang rumput ajaib berdaun runcing. Musnahlah bangsa Yadawa.
Balarama yang menyaksikan peristiwa itu merasa sangat malu. Ia pergi meninggalkan tempat itu lalu menghabiskan hari-harinya dengan melakukan yoga di bawah pohon besar sampai maut menjemputnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri. Ketika tahu bahwa Balarama, kakaknya, meninggalkan kehidupan duniawi dan memilih hidup menjalankan yoga, Krishna pergi mengembara ke hutan. Ditengah lebatnya hutan belantara, ia merebahkan diri sambil berkata, “Telah tiba waktunya. Aku akan pergi selamanya meninggalkan dunia ini!”
Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan lewat dekat tempat Krishna merebahkan diri. Jaras melepaskan anak panahnya, mengira Krishna seekor rusa yang sedang duduk melepas lelah. Anak panah itu epat menembus kaki dan tubuh Krishna. Seketika itu juga Krishna alias Wasudewa menghembuskan napasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya, meninggalkan dunia manusia.
Kabar meninggalnya Krishna sampai ke Hastinapura. Arjuna segera datang ke Dwaraka untuk melakukan upacara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemudian, Negeri Dwaraka dilanda banjir bandang. Air bah datang bergulung-gulung bagai gelombang samudera dahsyat. Negeri Dwaraka terseret arus ke laut dan akhirnya tenggelam di dasar samudera.
Bersambung....

Foto Agung Joni.
musnahnya bangsa yadawa

Terima kasih Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Saturday, April 8, 2017

MAHABHARATA 53

kesedihan dritarastra



_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
53. Yudhistira Menjadi Raja di Hastinapura
Pandawa, dari Bharatawarsa telah menaklukkan Kaurawa dan kini menjadi penguasa Kerajaan Hastina yang amat luas wilayahnya. Mereka memerintah sesuai petunjuk dharma. Bagawan Wyasa sering mengunjungi Yudhistira untuk memberi nasihat atau petunjuk. Bagawan yang bijak itu selalu menghibur Dharmaraja yang masih terus berduka. Ia bercerita tentang berbagai kejadian dan peristiwa di masa lampau. Cerita tentang orang-orang berjiwa besar yang berhasil menaklukkan godaan hati dan tekanan jiwa, seperti hawa nafsu, ketamakan, kebencian, dendam dan iri hati. Namun demikian, Yudhistira selalu merasa bahwa kemenangannya tidak membuatnya bahagia, tidak seperti yang semula dibayangkannya.
Bagaimana dengan Dritarastra yang kehilangan semuanya? Anak-anaknya dan kerajaannya? Dan bagaimana pula sikapnya terhadap Yudhistira?
Sementara itu, Dritarastra yang tenggelam dalam kepedihan selalu mendapat perlakuan baik dari Pandawa. Mereka selalu berusaha menyenangkan hati Dritarastra dan memperlakukannya dengan penuh hormat. Demikian pula, Dewi Gandhari. Ibu Kaurawa itu selalu diperlakukan dengan baik oleh Dewi Kunti, adik iparnya, dan Draupadi, yang bersikap seperti terhadap mertuanya sendiri.
“Yudhistira menghiasi istana Dritarastra dengan perabotan serba indah. Semua keinginan raja tua itu dipenuhinya. Setiap hari ia mengirimkan makanan yang lezat-lezat.
Kripa dan Sanjaya diminta untuk setia menemani raja tua itu. Kecuali itu, Bagawan Wyasa sering mengunjungi Dritarastra untuk menghiburnya dengan kisah-kisah bertema keagamaan dan falsafah hidup.
Sebagai raja, Yudhistira tidak pernah mengeluarkan perintah tanpa persetujuan Dritarastra. Dalam urusan pemerintahan sehari-hari, Yudhistira tidak segan-segan meminta nasihat kepada Dritarastra. Ia selalu menghormati raja tua itu sebagai penguasa tertinggi. Dalam tutur katanya, Dharmaraja selalu berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Setiap utusan atau raja negeri asing yang berkunjung ke Hastinapura diwajibkan untuk menghadap Dritarastra lebih dulu, karena dialah yang dianggap sebagai Rajadiraja Hastinapura. Semua dayang dan pelayan istana mendapat perintah untuk tetap memperlakukan Dewi Gandhari sebagai Ratu.
Kepada saudara-saudaranya, Yudhistira mengingatkan agar mereka sama sekali tidak berbuat atau mengatakan sesuatu yang mungkin membuat Dritarastra dan Dewi Gandhari sedih. Semua saudaranya mematuhi harapan kakaknya, kecuali Bhimasena yang sesekali melanggarnya. Kadang-kadang ia lupa, berkata kasar dan menyinggung perasaan. Jika demikian, Dritarastra dan Dewi Gandhari hanya menanggapi dengan diam dan memendam kesedi- han mereka dalam hati. Rupanya Bhimasena belum bisa melupakan dan memaafkan perlakuan Duryodhana, Karna dan Duhsasana kepada Draupadi. Dewi Gandhari, yang terus berusaha memperlakukan Pandawa dengan penuh kasih, sebenarnya tahu bahwa Bhimasena masih mendendam. Tetapi, ia adalah wanita agung yang berbudi luhur. Ia justru membalas perlakuan Bhimasena dengan kasih yang semakin berlimpah.
Lima belas tahun sudah Yudhistira memerintah di Hastinapura. Akhirnya Dritarastra tak tahan lagi menanggung dukanya karena sindiran dan tingkah laku Bhimasena yang selalu membuatnya sedih dan tersinggung. Tak bisa lagi dia memaafkan Bhimasena dan bersikap pura-pura tak peduli. Meskipun kebaikan budi Yudhistira tiada taranya, sebagai manusia biasa lama-lama ia tak tahan diper- lakukan seperti itu. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Dritarastra berpuasa, tidak makan tidak minum, menyiksa raga dengan tidur di tanah, siang kepanasan malam kedinginan. Hal ini diikuti oleh Gandhari, hingga mereka kurus, pucat dan lemah.
Pada suatu hari Dritarastra memanggil Yudhistira dan berkata, “Telah lima belas tahun aku hidup bahagia dalam lindunganmu. Engkau selalu melayani kami dengan penuh kasih sayang. Setiap hari suci dan hari besar aku mempersembahkan sesaji untuk arwah nenek moyang dan memohon restu mereka demi kesejahteraanmu.
“Anak-anakku yang kejam dan berbuat jahat kepadamu telah musnah karena perbuatan mereka sendiri. Mereka telah menebus dosa mereka sebagaimana mestinya dan semua mati secara perwira sebagai kesatria.
“Kini tiba waktunya bagi kami, aku dan Gandhari, untuk melakukan dharma kami selanjutnya, yaitu pergi ke hutan untuk bersamadi. Dari sana, kami akan selalu mendoakan kalian. Sekarang ijinkan kami pergi untuk mengikuti jalan yang telah dirintis oleh nenek moyang kita di masa lampau.”
Mendengar kata-kata pamannya dan melihat keadaan
Dritarastra dan Dewi Gandhari yang kurus dan lemah, Yudhistira sangat terkejut. Ia berkata, “Sungguh aku tidak tahu bahwa Paman dan Bibi telah menyiksa diri dengan berpuasa dan tidur di tanah. Saudara-saudaraku pun tidak tahu. Aku kira, selama ini Paman dan Bibi dilayani dengan baik. Jika Paman menderita, itu akibat dosaku juga.
“Kini aku sadar, tak ada gunanya bagiku menjadi raja. Tak ada gunanya aku berkuasa. Aku manusia penuh dosa! Nafsu dan ambisi telah menyeretku menjadi raja di atas mayat saudara-saudaraku.
“Paman, biarlah Yuyutsu, anakmu, menjadi raja. Atau orang lain yang engkau pilih. Atau jika Paman mau, silakan Paman memerintah kerajaan ini. Aku saja yang pergi ke hutan untuk mengkahiri dosa-dosaku sampai di sini. Aku tak pantas menjadi raja. Engkaulah yang lebih pantas.
“Sekarang Paman minta pamit kepadaku. Bagaimana mungkin aku menolak karena sesungguhnya engkaulah Raja yang berkuasa? Engkaulah yang seharusnya mengijinkan aku pergi ke hutan.
“Ketahuilah Paman, sedikit pun aku tidak mendendam terhadap Duryodhana atau siapa pun. Semua itu telah berlalu. Kami adalah anak-anakmu. Dewi Gandhari dan Dewi Kunti adalah ibu-ibu kami yang sama-sama kami kasihi. Jika Paman tetap hendak pergi ke hutan, ijinkan aku menyertaimu. Apa gunanya aku tinggal di sini jika engkau tinggal di hutan? Aku sujud di hadapanmu, mohon maaf dan ampun atas semua kesalahanku. Dengan melayani engkau, aku mendapat kebahagiaan. Berikan kesempatan itu kepadaku. Jangan tinggalkan aku.”
Dritarastra terharu. Kemudian ia berkata, “Wahai, Putra Dewi Kunti, tekadku telah bulat. Aku akan pergi ke hutan untuk bertapa. Kalau tidak demikian, aku tidak akan menemukan kedamaian sepanjang hidupku. Engkau harus mengijinkan aku pergi.”
Setelah berkata begitu, Dritarastra menoleh kepada Widura dan Kripa sambil berkata, “Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi ke hutan untuk bertapa. Aku tak bisa bicara lagi. Kerongkonganku kering. Aku harap engkau berdua menasihati Raja agar mengijinkan aku pergi.” Setelah berkata demikian, Dritarastra menyandarkan diri pada Dewi Gandhari. Raganya telah lemah sekali.
Bersambung...
Terima kasih Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau