Showing posts with label kurusetra. Show all posts
Showing posts with label kurusetra. Show all posts

Sunday, February 5, 2017

KURUKSETRA HINGGA AWAL KALIYUGA (lanjutan..)


_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
DARI KURUKSETRA HINGGA AWAL KALIYUGA (lanjutan..)
#1700 SM – MLECCHA - YAJNYA OLEH RAJA PRADYOTA
Kitab Bhavisya Purana, bagian Pratisarga Parva, Bab 4 – 7 mengisahkan tentang jatuhnya Rsi Adama dan istrinya, Havyavati, serta munculnya para pendiri agama-agama besar dunia seperti Budha, Kristen dan Islam. Dari sloka-sloka Bhavisya Purana dapat disimpulkan bahwa agama Veda (sanatana-dharma) adalah peradaban dan agama yang tertua dan dianut oleh umat manusia dari awal ciptaan. Agama-agama lain yang muncul belakangan pada zaman Kaliyuga juga disebut dalam Veda sebagai ajaran untuk membantu umat manusia yang sangat merosot untuk kembali ke dalam Sanathana Dharma yang kekal. Karena itu, apa yang termuat dalam kitab-kitab suci yang lain juga termuat dalam Kitab Suci Veda, namun Veda juga memuat uraian yang tidak dinyatakan dalam kitab-kitab suci yang lain.
Dikisahkan ketika Raja Ksemaka, raja terakhir Hastinapura, berperang melawan bangsa mleccha (bangsa yang menentang Veda), pasukan raja mengalami kekalahan. Selama berpuluh-puluh abad sebelum Kaliyuga, bala pasukan raja-raja yang suci dari keturunan Manu tidak pernah terkalahkan dan menjadi pelindung dunia dari segala kegiatan berdosa. Namun pengaruh Kaliyuga begitu kuat sehingga raja-raja yang suci kehilangan kekuatan rohaninya. Mulai saat itulah senjata-senjata hebat sekelas brahmastra milik Arjuna tidak dapat lagi digunakan. Fisik dan kecerdasan manusia juga mulai menurun karena pengaruh Kaliyuga. Kitab Narasimha Purana menyatakan, setelah menerima perintah dari para rsi agung, Raja Ksemaka mengungsi ke Kalapa-grama, sebuah desa suci di Himalaya dan bergabung bersama leluhurnya yang suci, Maharaja Devapi. Kalapa-grama adalah sebuah desa yang tidak kasat mata, dan baru akan muncul ketika Kaliyuga menjelang berakhir nanti. Di sana, para rsi dan orang-orang suci, berkumpul untuk menanti berakhirnya Kaliyuga dan menyongsong zaman baru setelah kedatangan Kalki Avatara.
Putra raja Ksemaka bernama Pradyota. Suatu hari Devarsi Narada mengunjunginya di istana Hastinapura. Bhavisya Purana menjelaskan bahwa Devarsi Narada mengisyaratkan agar Pradyota melakukan suatu korban suci (yajnya) agar pengaruh buruk Kaliyuga berkurang dan umat manusia yang ada dalam jalan kebenaran bisa hidup dengan tenteram. Atas petunjuk Rsi Narada dan para orang suci lain, Raja Pradyota membangun sebuah kunda (altar api) seluas 128 mil persegi di India Utara. Hingga kini reruntuhannya masih dapat dilihat di sepanjang alur daerah lembah Sungai Indus-Saraswati. Lembah ini memang terkenal sejak zaman Veda sebagai tempat suci untuk melaksanakan berbagai jenis yajnya.
Para brahmana mengucapkan mantra-mantra Veda, dan kekuatan mantra tersebut, semua manusia jahat dan tidak mengikuti jalan dharma terhipnotis dan terbakar di kunda yang lebar itu. Bhavisya Purana mencatat bahwa orang-orang jahat dari bangsa Hara, Huna, Barvara, Yavana, Pallava, Romaja, serta manusia-manusia yang bersifat jahat dari pulau-pulau di seberang lautan juga terbakar menjadi abu di arena yajnya Raja Pradotya. Peristiwa ini sedikit tidak dapat menjelaskan mengapa ada begitu banyak kerangka manusia yang ditemukan bergelimpangan di Mahenjodaro dan Harappa, dua situs purbakala di daerah lembah Indus-Saraswati. Penelitian sampel karbon menunjukan bahwa kerangka-kerangka manusia itu adalah milik orang-orang yang tewas karena terbakar oleh panas yang sangat tinggi. Sejarawan modern menyatakan bahwa kerangka-kerangka itu mungkin akibat perang Mahabharata, namun Veda membuktikan bahwa perang terjadi 1500 tahun sebelum peradaban di Mahenjodaro dan Harappa.
Setelah mleccha-yajnya ini berakhir, dunia kembali tentram karena orang-orang jahat telah dimusnahkan. Uraian ini mengungkapkan bahwa mantra Veda begitu kuatnya sehingga frekuensinya dapat menyebar ke seluruh atmosfer. Apalagi pada masa itu, manusia masih memiliki standar fisik yang lebih baik daripada manusia modern sehingga pengucapan mantra-mantra mereka lebih sempurna dibandingkan kini.
# 1500 SM – JATUHNYA RSI ADAMA DAN HAVYAVATI SERTA MUNCULNYA RAS MANUSIA ZAMAN KALIYUGA.
Karena Mleccha-yajnya telah membuat orang-orang jahat sirna dari muka bumi, Kali-purusa atau penguasa Zaman Kali, menjadi bingung. Kali yang berwujud raja dengan kulit sehitam arang ini kemudian bermeditasi di belahan barat dunia untuk memuja Sri Visnu. Tempat dimana Kali bermeditasi disinyalir adalah Segitiga Bermuda, suatu daerah perairan di Amerika Utara yang sangat misterius. Beberapa cendekiawan Muslim berpendapat bahwa Segitiga Bermuda adalah tempat dimana Iblis Dajjal berada. Iblis ini akan muncul diakhir zaman. Tampaknya, antara Kali-Purusa dalam Veda dan Dajjal dalam Al-Quran memiliki ciri-ciri yang sama. Setelah sekian lama bermeditasi, Sri Visnu muncul di hadapan Kali. Kali berkata, “Tuhan, ini adalah zaman hamba. Engkau telah mengizinkan hamba untuk menyesatkan umat manusia di zaman hamba. Namun karena mleccha-yajnya, semua orang jahat telah binasa dari bumi. Mohon berikan petunjuk apa yang hamba lakukan”.
Sri Visnu bersabda,”Pergilah ke taman milik Indra di timur kota Pradan. Di sana Rsi Adama dan istrinya Havyavati tinggal. Karena tipu muslihatmu, mereka akan meningkatkan jumlah manusia yang bisa kau pengaruhi”.
Kali merasa puas dan bersujud kepada Sri Visnu lalu pergi ke taman milik Indra. Uraian ini mirip dengan uraian dalam Al-Quran dan Injil bahwa iblis diberikan izin oleh Tuhan untuk menyesatkan manusia hingga akhir zaman. Dalam Veda, akhir zaman yang dimaksud adalah akhir zaman Kaliyuga, sebelum kedatangan zaman baru yakni Satyayuga.
Disini muncul pertanyaan, mengapa Sri Visnu memberkati Kali walaupun Kali memiliki tujuan untuk menyesatkan manusia? Tuhan adalah ayah bagi setiap mahkluk hidup. Ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini melalui Dewa Brahma, dharma dan adharma juga diciptakan dari bagian depan dan belakang badan Brahma. Kali-purusa lahir dari adharma ini. Setiap mahkluk yang dilahirkan. Di alam semesta ini memiliki hak melakukan kegiatannya, dan Tuhan sebagai ayah alam semesta memfasilitasi hal itu. Akan tetapi, Tuhan tidak bertanggung jawab terhadap hasil perbuatan mahkluk hidup. Hasil perbuatan mahkluk hidup akan ditanggung mahkluk itu sendiri berupa karma-phala. Karena Kali-purusa juga mahkluk hidup yang diciptakan Tuhan, maka Tuhan memberikan waktu khusus bagi Kali untuk berkuasa di bumi. Masa ini dinamai Kaliyuga, berlangsung selama 432.000 tahun manusia. Setelah itu, masa kekuasaan Kali akan berakhir.
Singkat cerita, Kali-purusa menyamar memnjadi ular dan membujuk Rsi Adama dan Havyavati untuk memakan buah dari pohon papa-vrksa milik Indra. Karena tercemar oleh dosa, Rsi Adama dan Havyavati dikeluarkan dari taman surgawi itu. Kisah ini sangat mirip dengan kisam Adam dan Hawa dalam Injil dan Al-Quran. Menurut uraian dalam Injil, taman surgawi ini berada di perpaduan antara empat sungai yaitu Pison, Gihon, Tigris dan Eufrat. Dua sungai yaitu Tigris dan Eufrat masih ada hingga kini yakni di Iran. Uraian ini cocok dengan Veda bahwa taman Indra berada di Kusadvipa, daerah Timur Tengah.
Turunya Rsi Adama dan Havyavati, menurut Veda, adalah akibat pengaruh jahat Kali. Ras manusia yang ada pada zaman kaliyuga ini dalah kerturunan dari Rsi Adama dan Havyavati. Lain kata, Adama dan Havyavati adalah manusia pertama untuk ras manusia pada zaman Kaliyuga. Sementara itu, ras manusia sebelum zaman kaliyuga adalah keturunan dari Manu sehingga memiliki fisik dan spiritual yang jauh lebih tinggi. Karena itu manusia zaman Kaliyuga adalah ras (spesies) manusia yang jauh merosot secara fisik dan rohani dibandingkan dengan manusia-manusia zaman sebelumnya sampai era Mahabharta. Itulah sebabnya kecanggihan teknologo dan keampuhan mantra Veda pada zaman Mahabharata tidak dapat digunakan oleh manusia saat ini karena kualitas manusianya yang sudah dipengaruhi oleh Kali-purusa sejak awal. Spesies manusia pada zaman sebelum Kaliyuga dapat berinteraksi langsung dengan para dewa karena kesucian mereka, namun setelah zaman Kaliyuga, benih ras manusia telah dipengaruhi Kali-purusa sejak awal sehingga umat manusia cenderung lebih tertarik berbuat jahat ketimbang melaksanakan dharma.
Dalam Al-Quran pun dinyatakan bahwa Adam dan Hawa bukanlah mahluk pertama yang diciptakan Tuhan. Sebelumnya Tuhan telah menciptakan bangsa jin dan malaikat dari unsur api (Surat Al-Hijr 15:27). Namun konon bangsa jin terlibat petempuran dan pertengkaran sehingga Tuhan menciptakan Adam dari contoh rupa diri-Nya sendiri. Ada banyak contoh dalam Veda mengenai peperangan antara jin (raksasa) dan para dewa, Mahabharata adalah perang besar yang melibatkan semua spesies makhluk cerdas di alam semesta, mulai dari dewa, jin, reptilan dan sebagainya. Manuisa-manusia yang berperang saat itu pun memiliki kualitas setara para dewa.
Dalam Bhavisya Purana dinyatakan bahwa Rsi Adama pada akhirnya melakukan pertapaan bersama Havyavati untuk memuja Sri Visnu dan mencapai planet suga material di kediaman Indra. Jadi, berdasarkan Veda, jelas disebutkan apa keyakinan yang dianut oleh Rsi Adama dan Havyavati karena pada saat itu agama-gama belumlah turun kecuali agama Veda, Sanatana-dharma.
Tahun 1500 SM juga masa dimana Hastinapura mengalami keruntuhan. Pada masa yang sama, sungai Sarasvati mengering dan lenyap dari muka bumi. Mengeringnya Sungai Sarasvati ini, dimulainya zaman kegelapan Kali.
Tempat taman surgawi dimana Rsi Adama dan Havyavati tinggal cocok dengan lokasi dimana Kerajaan Sumeria berada (di Iran kini) Tak heran, para sejarawan beramsumsi bahwa Iran adalah cikal-bakal peradaban dunia yang ada kini. Namun, hal mengejutkan bahwa di Iran sendiri banyak terdapat peninggalan peradaban Veda berupa arca dan kuil Hindu dari zaman yang lebih tua. (silahkan baca postingan tyang yang berjudul “Sisa peninggalan peradaban Hindu di Iraq”.
# 1400 SM – BANJIR BESAR
Berdasarkan Bhavisya Purana, ada banjir besar yang terjadi pada periode awal Kaliyuga. Banjir ini cocok dengan uraian tentang Banjir Nuh. Banjir ini menghancurkan sisa peradaban Zaman Dvaparayuga sehingga umat manusia Zaman Kaliyuga menganggap peristiwa sejarah Veda di zaman zebelumnya hanyalah mitos belaka. Menurut Bhavisya Purana, saat banjir itu terjadi Rsi Nyuha, seorang pemuja Sri Visnu yang setia, membuat sebuah perahu besar untuk menampung mahkluk hidup. Jika kronologi waktu di tarik berdasarkan bhavisya Purana, maka banjir ini terjadi pada 1300-1400 sebelum masehi.
Bhavisya Purana juga meramalkan ciri-ciri kemunculan Isa (Yesus) dan munculnya agama Kristen pada awal abad masehi. Sang Buddha turun dalam dinasti Iksvaku di keluarga Kerajaan Kapilavastu.
Sejak 400 tahun SM, dunia pecah menjadi ratusan kerajaan kecil dengan peperangan yang sambung-putus tanpa henti. Empat ratus tahun sebeblum masehi, kerajaan Mesodonia muncul di Mediterenia, Eropa Sealatan. Munculnya kerajaan ini berakibat pada kemunduran Mesir pada awal Masehi. India sendiri pecah menjadi jana-pada – kerajaan kecil, dan pecahannya sampai di Indonesia, Thailand, Myanmar dan Kamboja. Inilah cikal-bakal kerajaan-kerajaan hindu di Asia Tenggara.
Demikian pengaruh kuat Zaman Kaliyuga terhadap merosotnya sejarah umat manusia dari zaman Mahabharata hingga kini. Kebenaran Veda mulai dilupakan dan dharma semakin goyah. Peradaban Veda di ambang kehancuran. Akan tetapi, sebagaimana yang dinyatakan dalam Bhavad-gita, kapanpun dharma mengalami krisi, maka Tuhan sendiri pasti turun untuk menegakkan kembali pilar dharma.

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

KURUKSETRA HINGGA AWAL KALIYUGA



_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
DARI KURUKSETRA HINGGA AWAL KALIYUGA
Menonton Mahabharata di televisi memang tak pernah membosankan. Babak ketika panah-panah Arjuna yang bagaikan senapan sniper hingga Brahmastra yang setara dengan ribuan kali kekuatan bom atom selalu mengundang decak kagum siapapun yang menyimaknya. Mata seakan tidak berkedip melihat bagaimana para pasukan Pandawa dan Kaurava saling tikam di meda perang. Walaupun adegan-adegan tersebut hanya rekaan dalam film, nuansa keasliannya sangat terasa. Ketika TV dimatikan, para pemirsa mulai kembali ke alam pikirannya semula. Sungguh sulit membayangkan bahwa di masa lalu ada peradaban sehebat itu dengan teknologi perang yang bercampur dengan kekuatan mistik yang ajaib. Karena itu tak jarang ada menganggap Mahabharata adalah cerita fantasi dari masa lalu dan tidak ada hubungannya dengan sejarah versi modern.
Anggapan sebagian orang bahwa Mahabharata adalah kisah fiksi bisa saja karena jarak waktu yang sangat jauh sehingga bukti2 fisik mengenai Mahabharata tidak banyak dikenal. Jangankan Mahabharata yang terjadi lima ribu tahun silam, Kerajaan Kalingga yang konon berada di Jawa Tengah pada abad keempat masehi pun diragukan walaupun banyak naskah kuno yang menyebutkan keberadaannya.
Hal yang sama terjadi pada Mahabharata. Walaupun kitab suci Veda menyebutkan bahwa kisah tersebut adalah itihasa “seperti itulah yang terjadi”, kalangan skeptis masih meragukan kebenaranya. Maharsi Vyasa, acarya terbesar umat Hindu, telah mengisahkan Mahabharata dengan sangat mendetail bagi kemujuran manusia di jaman Kaliyuga ini. Mahabharata adalah sebuah kisah sejarah dan pada saat yang sama sejarah ini menggambarkan kehidupan manusia yang penuh dengan intrik dan perseteruan. Dengan belajar dari sejarah Mahabharata, umat manusia dapat menentukan ke mana peradaban dunia modern ini harus di arahkan demi kehidupan yang lebih baik.
Telah lima puluh abad (5.000 tahun lebih) berlalu sejak Mahabharata terjadi. Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Mahabharata berakhir ketika ke lima Pandawa meninggalkan kerajaan mereka dan pulang ke dunia rohani. Atau, Mahabharata berakhir ketika Sri Krishna kembali ke kediaman-Nya di dunia rohani dan membuat Kota Dvaraka tenggelam. Di film-film pun di kisahkan bahwa Mahabharata berakhir begitu saja setelah kakek Bhisma berpulang, dan sangat sedikit yang mencoba menelusuri jejak kelanjutan sejarah ini.
Mungkin satu babak sejarah Mahabharata berakhir ketika kakek Bhisma berpulang, atau ketika para Pandawa meninggalkan Hastinapura untuk melakukan pertapaan menjelang ajal mereka. Namun itu hanyalah awal dari sebuah periode baru Mahabharata. Episode setelah pernag Kuruksetra menjadi babak sejarah misterius yang menghubungkan peradaban Mahabharata dengan peradaban yang dikenal saat ini.
Selama tiga ribu tahun sisa-sisa kejayaan Mahabharta telah membentuk cikal-bakal peradaban dunia modern. Kitab suci Bhavisya Purana, Narasimha Purana, dan bagian akhir dari kitab Mahabharata itu sendiri mengisahkan beberapa babak sejarah yang penting setelah perang Kuruksetra. Semua peristiwa tersebut dapat dirangkai dalam sebuah garis waktu dan dibandingkan dengan temuan-temuan para sejarawan modern. Beberapa peristiwa penting setelah Perang Kuruksetra dapat dirangkai sebagai berikut :
# 3108 SM – KALIYUGA DIMULAI
Tiga puluh enam tahun setelah perang di Kuruksetra, para Pandawa memutuskan untuk pensiun dari tugas kerajaan dan menyerahkan singasana kepada Maharaja Pariksit, cucu Arjuna. Maharaja Pariksit memerintah planet bumi sebagaimana pendahulunya sejak jaman lampau. Pada saat itu, di bumi hanya ada satu penguasa tungggal di Hastinapura, dan raja-raja dari berbagai bangsa tunduk kepada kekuatan Hastinapura. Di bagian barat dunia, Maharaja Pariksit menyerahkan daerah kekuasaan kepada cucunya, Tejasi, sehingga Tejasi menjadi leluhur dan penguasa raja-raja Yunani, Romawi, Mesir dan wilayah Mediterania.
Dalam Bhagavata Purana dikisahkan bahwa suatu hari di seputaran tahun 3100 SM, Maharaja Pariksit sedang meninjau daerah kekuasaan di sepanjang Sungai Saraswati (yang kini telah lenyap). Maharaja bertemu dengan Kepribadian Kali (Kali-purusa) yang menguasai Jaman Kaliyuga. Kepribadian Kali ini berbeda dengan Dewi Kali.
Kali-purusa berkata bahwa zaman kekuasaannya telah tiba, namun Pariksit menukas bahwa selama beliau menjadi raja Bumi, Kali tidak bisa berkuasa. Pada saat itu, Maharaja Pariksit berniat menebas leher Kali dengan pedangnya sehingga Zaman Kali tidak perlu terjadi. Akan tetapi, dengan tipu muslihatnya Kali memohon empat tempat tinggal, yakni di tempat perjudian, mabuk-mabukan, rumah potong hewan dan di rumah pelacuran. Pada zaman itu, keempat tempat itu tidak ada karena Maharaja Pariksit begitu tegas menegakan dharma. Kali memohon satu tempat lagi, yaitu dimana ada cadangan emas.
Karena mahkota Maharaja Pariksit terbuat dari emas, Kali merasuki pikirannya dan membuat Maharaja Pariksit berbuat kesalahan kepada seorang brahmana. Putra brahmana ini mengutuk Maharaja Pariksit agar mati diggit ular Taksaka tujuh hari saat itu juga. Mendengar kutukan ini, Maharaja segera menyerahkan pemerintahan kepada putranya, Janamejaya, lalu melakukan pertapaan di tepi Sungai Gangga untuk menyambut kematiannya dengan ikhlas.
Selama tujuh hari berturut-turut, Maharaja Pariksit mendengar wejangan Veda Bhagavata Purana dari Rsi Sukadeva, putra Rsi Vyasa. Semua rsi agung dari berbagai planet turun ke bumi bersama para dewa untuk menemani Maharaja Pariksit yang bertekad berpuasa hingga ajalnya tiba. Pada akhir tujuh hari, ular Taksaka yang bersayap dan memiliki bisa berupa kobaran api datang dan bersiap menggigit Maharaja Pariksit. Namun ketika mulut Taksaka menyentuh badan Maharaja Pariksit, badan Maharaja seketika terbakar menjadi abu karena api dari kekuatan yoga-nya sendiri. Menurut uraian para acarya dari garis perguruan Veda, Maharaja Pariksit sesungguhnya tidak bisa dibunuh oleh Taksaka karena badan Maharaja dilindungi oleh perisai dari senjata gada Sri Krishna. Namun, untuk menghormati brahmana yang mengutuknya, Maharaja Pariksit rela membakar dirinya dengan api kekuatan yoga-nya. Ini adalah peristiwa unik yang tidak banyak diungkapkan dan diketahui.
Setelah Maharaja Pariksit berpulang. Kali yang licik mulai berkuasa di Bumi dan jumlah manusia yang tersesat dari jalan dharma semakin banyak.
# 3100 SM – SARPA-YAJNYA OLEH MAHARAJA JANAMEJAYA
Setelah kematian ayahnya oleh Taksaka, Maharaja Janamejaya berniat membalas dendam kepada bangsa ular. Beliau mengundang semua brahmana terbaik dan membuat sebuah yajnya api suci yang besar. Dengan kekuatan mantra, semua ular dipanggil oleh para brahmana untuk masuk dalam kobaran api. Hingga kini pun, para ular dapat ditundukan dengan pengucapan mantra tertentu.
Seakan terhipnotis, semua spesies ular yang ada, (baik besar maupun kecil) masuk kedalam kobaran api di arena korban suci. Kitab Bhagavata Purana menyatakan, dalam yajnya itu terdapat ular-ular raksasa yang panjangnya hingga beberapa mil dan bertubuh sangat besar. Ada pula ular dengan banyak kepala dan banyak warna.
Takut akan efek mantra brahmana, ular Taksaka meminta pertolongan pada Dewa Indra. Indra menilindungi Taksaka dalam pesawat luar angkasanya. Mendengar Taksaka dilindungi Indra, Maharaja Janamejaya meminta kepada para brahmana agar Indra beserta pesawatnya juga dimasukan ke dalam api. Akhirnya, guru kerohanian para dewa, Rsi Brhaspati, menghentikan yajnya itu dan menenangkan kemarahan Maharaja Janamejaya.
Kisah ini menggambarkan bahwa kekuatan manusia pada zaman sebelum zaman Kaliyuga dapat setara dan bahkan melebihi para dewa. Karena itu, tidak heran bahwa Veda kadang mengisahkan tentang seorang raja dari kalangan manusia yang menikah dengan seorang dewi atau bidadari dari surga. Ini lantaran kekuatan fisik dan kesucian manusia pada zaman itu sngat tinggi sehingga kedudukannya bisa sejajar dengan para dewa.
# 3000 SM – PEMISAHAN DIRI BANGSA-BANGSA DI DUNIA
Kekuasaan Hastinapura dilanjutkan oleh dua puluh tujuh raja setelah Janamejaya. Ini dijelaskan dalam Bhagavata Purana, Narasimha Purana dan dibagian akhir Mahabharata. Raja-raja tersebut terbagi dalam dua periode yakni periodeHastinapura dan peridode Kusambi. Raja Satanika, Asvamedhatta, dan Asimakrishna adalah tiga raja yang memerintah Hastinapura sebelum ibukota dipindahkan ke Kusambi oleh Raja Nemicakra akibat meluapnya Sungai Gangga pada 2600 SM. Raja Hastinapura yang memerintah pada periode Kusambi adalah Usna, Citraratha, Usnimat, Susena, Sunita, Rica, Nrcaksu, Sukhihala, Pariplava, Sunaya, Medhavin, Nrpanjaya, Mrdhu, Tigma, Brhadrata, Vasudhara, Satanika, Udayana, Aninara, Khandapani, Niramrta dan Ksemaka. Semua raja ini memrintah berturut-turut hingga sekitar 1500 tahun SM, dengan perhitungan setiap raja memerintah selama rata-rata 60 tahun.
Selama rentang waktu pemerintahan 27 raja ini, para rsi yang dipimpin olah Rsi Saunaka melakukan yajnya selama seribu tahun untuk meredam pengaruh buruk Kaliyuga. Dalam yajnya ini disabdakan Kitab Suci Bhavata Purana dan Mahabharata oleh Rsi Suta. Menurut Purana, Rsi Suta mengucapkan semua sloka Mahabharata hanya dalam satu hembusan napas.
“naimise nimisa-ksetre
Rsayah saunakadayah |
Sastram svargaya lokaya
Sahasra-samam asata” ||
(BP 1.1.4)
“Suatu ketika di tempat suci bernama Hutan Naimisaranya, para rsi agung yang dipimpin olah Rsi Saunaka berkumpul untuk melakukan korban suci besar selama seribu tahun demi kepuasan Tuhan dan para penyembah-Nya.”
Setelah seribu tahun yajnya ini berakhir dan efeknya mulai memudar, Kaliyuga mulai menguat dengan ditandai jatuhnya kekuasaan raja-raja ksatriya Hastinapura dan pecahnya dunia menjadi bangsa-bangsa yang berbeda.
Pada 2500 SM, Mesir mulai memisahkan diri, disusul Yunani, Asyira, Sumeria dan kerajaan-kerajaan di daerah Mediterania (Eropa selatan). Tak heran, semua peradaban itu memiliki kesamaan dengan peradaban Veda. Nama Sumeria berasal dari sumeru, sedangkan bangsa Yunani, Romawi dan Mesir masih mempraktikkan pemujaan kepada para dewa seperti Indra, Surya, Agni dan sebagainya. Lambat laun, nama-nama dewa ini mengalami perubahan karena terpisahnya hubungan bangsa-bangsa ini dengan India. Indra (Dyaus) menjadi Zeus (liat postingan tyang “DYAUS PITAR – BAPAK ANGKASA”), Ravi atau Surya menjadi Ra, Dewi Laksmi (hera) menjadi Dewi Hera, dan sebagainya.
Tahun 2400 SM bangsa Mesir terpisah dengan peradaban Veda. Ini dibuktikan dengan mulai munculnya Dinasti Khafre yang membawa Mesir dalam babak sejarah yang benar-benar baru. Kitab Kematian (The Book of The Dead) disusun pada masa ini, yang berisikan uaraian tentang perjalanan roh setelah kematian. Uniknya, apa yang dijelaskan dalam Kitab Kematian ini persis dengan uarian dalam kitab Garuda Purana, namun dengan nama-nama yang berbeda.
Tahun 1800 SM, Sumeria dan Asyira membentuk kerajaan Babilonia lama. Bangsa Babilomia pada awalnya memuja Surya Narayana sebagai ista-dewata, namun merosot karena putusnya hubungan dengan peradaban Veda di India selama berabad-abad.
#1700 SM – MLECCHA - YAJNYA OLEH RAJA PRADYOTA....
Bersambung... 



Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau