Showing posts with label pembakaran. Show all posts
Showing posts with label pembakaran. Show all posts

Tuesday, February 14, 2017

MAHABARATA 15



_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
15. Pandawa Terhindar dari Maut
Setelah mohon diri kepada Bhisma dan para tetua, Pan- dawa berangkat ke Waranawata. Rakyat mengelu-elukan dan mengiringkan mereka sampai ke batas kerajaan.Tidak sedikit yang enggan kembali karena ingin mengikuti
Pandawa sampai Waranawata. Widura membisikkan pesan dalam bahasa rahasia yang hanya dapat dimengerti oleh Yudhistira. Katanya, “Hanya orang yang mampu menghindari bahaya yang sanggup melindungi diri dari musuh-musuh yang licik. Banyak senjata yang lebih tajam dari pedang, tetapi orang yang bijaksana dapat terhindar dari kehancuran karena tahu cara menangkis segala macam serangan. Api raksasa yang memusnahkan hutan belantara tidak dapat membakar tikus yang bersembunyi di dalam lubang atau seekor landak yang menggali liang di dalam tanah. Orang yang pandai dan bijaksana mampu membaca peruntungannya dengan melihat bintang-bintang di langit.”
Yudhistira mengerti. Pesan Widura itu berarti: ia harus mencari jalan untuk melarikan diri agar terhindar dari rencana jahat Duryodhana. Yudhistira mengisyaratkan bahwa ia memahami apa yang dikatakan Widura.
Setelah itu, Pandawa berangkat meninggalkan Hastinapura. Perjalanan mereka dimulai dalam suasana penuh kegembiraan. Matahari bersinar cerah, bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicau dan angin pagi berhembus segar. Tetapi, semakin jauh mereka berjalan, cuaca berubah. Langit mendung, matahari tertutup gumpalan awan gelap. Yudhistira berkata kepada ibunya bahwa sesungguhnya ia sedih dan cemas menghadapi perjalanan itu. Setelah berjalan beberapa hari, mereka tiba di Waranawata. Rakyat mengelu-elukan kedatangan Pandawa. Kaurawa, yang telah lebih dahulu ada di Waranawata, menyambut sepupu mereka dengan hangat dan penuh hormat. Kemudian Purochana mempersilakan Pandawa beristirahat di istana yang telah disediakan untuk mereka. Istana peristirahatan itu diberi nama Siwam, artinya ‘kesejahteraan’. Sungguh licik, karena sebenarnya istana itu dibangun sebagai perangkap maut.
Yudhistira bersama ibu dan adik-adiknya yang letih setelah melakukan perjalanan jauh, segera masuk ke istana itu. Tetapi, ingat akan pesan Widura, sebelum beristirahat Yudhistira memeriksa setiap sudut istana dengan cermat dan teliti. Segera saja ia tahu bahwa istana itu dan semua perabotannya terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.
Yudhistira memanggil Bhima dan berkata, “Sekalipun kita sudah tahu bahwa istana ini adalah perangkap maut, kita harus pura-pura tidak tahu. Jika Purochana sampai curiga dan mengira kita sudah tahu rencana liciknya, akan sulit bagi kita untuk menyelamatkan diri. Kita harus dapat meloloskan diri pada saat yang tepat.”
Selama perayaan dan pelaksanaan upacara penyembahan Batara Shiwa yang berlangsung beberapa hari, Pandawa tinggal di istana peristirahatan itu. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari dengan wajar, bahkan dengan gembira dan penuh semangat. Sementara itu, Widura mengirim orang yang mahir menggali terowongan. Orang itu menemui Pandawa secara rahasia dan berkata, “Saya datang ke sini membawa pesan rahasia dari Widura. Dia ingin membantu kalian. Saya akan menyampaikan pesannya hanya kepada Yudhistira.” Kemudian dia membisikkan rencana Widura kepada Yudhistira.
Ahli penggali terowongan itu bekerja siang malam secara rahasia tanpa diketahui Purochana yang tinggal di pondok di samping pintu gerbang istana. Ia membuat terowongan dari bawah ruang tidur istana kayu itu, lewat di bawah pagar, di bawah parit yang mengelilingi istana, terus menjauh sampai ke tengah hutan belantara. Setiap malam Pandawa bergantian berjaga, tetapi disiang hari mereka mengikuti semua acara dengan gembira dan penuh semangat. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ketika dilangsungkan acara berburu ke hutan, mereka semua ikut. Sambil berburu, sebenarnya mereka mencermati keadaan hutan agar jika tiba waktunya meloloskan diri, mereka tidak akan mengalami kesulitan. Sementara itu, Purochana dengan sabar menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana jahat tuannya. Dia menunggu Pandawa lengah karena terbuai oleh kesenangan dan hiburan yang meriah. Dia harus melaksanakan tugasnya sedemikian, hingga orang akan mengira itu sebuah kecelakaan, bukan kesengajaan. Pada suatu senja, setelah melihat Pandawa masuk ke istana dalam keadaan letih, Purochana memutuskan bahwa waktunya sudah tiba. Diam-diam dia menyuruh kaki tangannya untuk melaksanakan rencana tuannya setelah lewat tengah malam. Tetapi, Yudhistira yang sebenarnya selalu waspada, mengetahui sikap Purochana yang mencurigakan. Segera ia mengumpulkan adik-adiknya dan mengatakan bahwa malam nanti mereka harus meloloskan diri. Selewat senja, Dewi Kunti mengadakan pesta meriah di istana kayu itu. Seluruh penjaga dan pelayan diundang dan dijamu dengan makanan lezat, minuman arak dan tuak. Mereka menikmati semua itu sepuas-puasnya dan tak sedikit yang mabuk hingga tak sadarkan diri.
Demikianlah, setelah para penjaga dan pelayan istana terlena karena kekenyangan dan mabuk, tepat tengah malam Bhima membakar istana itu. (ada versi yang lain..?)Ketika itu Dewi Kunti dan para Pandawa lainnya sudah meloloskan diri lewat terowongan rahasia. Mereka merunduk-runduk dan merayap menyusuri terowongan yang gelap, sementara di atas mereka api menyala berkobar-kobar. Dalam sekejap mata, istana dan isinya yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar itu habis dilalap api. Ledakan-ledakan menggelegar. Penduduk Waranawata terbangun, berteriak-teriak kaget dan berlarian tak tentu arah. Ada yang hendak mencari selamat, ada yang hendak menolong memadamkan api. Semua cemas dan ngeri memikirkan nasib Pandawa. Mereka yakin, Pandawa tak sempat menyelamatkan diri dan mati terbakar.
Kalang kabut mereka berusaha memadamkan api, tetapi sia-sia. Dengan sedih dan kesal mereka berteriak, “Ya, Hyang Widhi, ini pasti perbuatan Duryodhana. Pasti dia yang memerintahkan pembunuhan atas Pandawa yang tidak berdosa.”
Api mengamuk dahsyat. Dalam sekejap istana habis menjadi abu, begitu pula pondok yang ditempati Purochana. Orang kepercayaan Duryodhana itu juga ikut terbakar. Ia dan para pengawalnya sedang tidur pulas ketika kebakaran itu terjadi. Mereka tak sempat menyelamatkan diri. Purochana gagal melaksanakan tugasnya. Dia bahkan menemui ajalnya dalam kobaran api. Rakyat Waranawata segera mengirimkan kabar ke Hastinapura: “Istana peristirahatan Pandawa musnah terbakar. Semua yang ada di dalamnya tewas. Tak seorang pun selamat.”
Mendengar berita itu, hati Dritarastra gundah. Perasaannya campur aduk. Ibarat kolam yang dalam, dingin dasarnya tapi hangat permukaannya; dingin karena sedih, hangat karena gembira. Dritarastra sedih karena kematian para kemenakannya, tetapi juga lega dan gembira karena rencana putranya berhasil. Dia memanggil putra-putranya dan menyuruh mereka mengenakan pakaian berkabung untuk menghormati Pandawa yang telah meninggal. Sesuai adat dan ajaran agama, bersama-sama mereka pergi ke tepi sungai untuk melakukan persembahyangan bagi arwah Pandawa. Tak ada jenazah untuk dikuburkan atau diperabukan. Kaurawa mengikuti upacara dengan wajah sedih. Mereka tampak sangat sedih dan kehilangan karena tewasnya para sepupu mereka. Hanya sedikit yang melihat bahwa Widura tidak tampak sedih. Meskipun begitu, kecil kemungkinannya ia dicurigai karena ia terkenal sebagai orang yang selalu mengutamakan ketenangan dan menghindari emosi yang meluap-luap. Ia tampak tenang karena yakin bahwa Pandawa berhasil meloloskan diri. Widura justru mengkhawatirkan Pandawa yang kini terpaksa mengembara di hutan.
Ketika melihat Bhisma bersedih, Widura menghiburnya dengan membisikkan apa yang sesungguhnya terjadi. Sementara itu, di hutan belantara Bhima melihat ibu dan saudara-saudaranya kehabisan tenaga setelah beberapa hari merangkak menyusuri terowongan dan berjalan menembus hutan lebat, tanpa beristirahat dan tanpa makanan cukup. Kemudian Bhima menggendong ibunya di punggungnya, merangkul Nakula dan Sahadewa di dadanya, dan menuntun Yudhistira serta Arjuna di kanan- kirinya. Membawa beban seberat itu, Bhima melangkah menembus hutan. Sampai di tepi Sungai Gangga, mereka menemukan seorang tukang perahu bersama sampannya. Sebenarnya, secara rahasia Widura telah menyuruh tukang perahu itu menunggu di tepian sungai untuk menyeberangkan Pandawa.
Pandawa menunggu hari gelap sebelum menyeberang. Mereka bersembunyi di tepi hutan. Setelah malam benar- benar gelap, mereka naik sampan itu ke seberang sungai. Sampai di seberang, Pandawa segera masuk lagi ke dalam hutan dan terus berjalan sepanjang malam. Dengan lang- kah terseok-seok dan perut kelaparan, mereka menembus hutan yang gelap dan sunyi. Tak ada suara apa pun kecuali suara-suara binatang malam. Lewat tengah malam, mereka tak mampu lagi melangkah karena kelelahan, lapar dan dahaga luar biasa. Dewi Kunti berkata, “Aku tak sanggup lagi. Aku tidak peduli. Biarlah anak-anak Dritarastra datang menyergap kita. Aku ingin beristirahat sejenak.” Setelah berkata begitu, Dewi Kunti merebahkan diri di tanah dan jatuh tertidur. Dalam kegelapan Bhima berusaha mencari air. Setelah cukup lama mencari-cari, akhirnya ia sampai ke tepi sebuah telaga kecil. Ia menunduk, mencedok air dengan tangannya, lalu membasuh wajahnya. Alangkah segarnya. Setelah itu ia mencari daun-daun yang lebar untuk membuat wadah air. Dengan itu ia mengambil air telaga segar itu untuk ibu dan saudara-saudaranya yang kehausan. Sementara ibu dan saudara-saudaranya tidur, Bhima tetap duduk berjaga-jaga. Pikirannya melayang-layang menembus lebatnya pepohonan dan hatinya berbisik, “Alangkah tenteram dan damainya kehidupan pohon- pohon dan binatang-binatang di hutan ini. Mereka pasti sudah lama sekali hidup di hutan ini, dan masih akan terus hidup di sini berlaksa-laksa tahun lagi. Lain dengan manusia! Ada manusia yang tak mau hidup damai berdampingan. Ada manusia yang ingin melenyapkan manusia lain. Apa sebabnya Paman Dritarastra dan Duryodhana tega berbuat begini terhadap kami?” Bhima tidak bisa mengerti mengapa ada orang yang begitu membenci Pandawa dan ingin memusnahkan mereka. Sedih hatinya memikirkan semua itu. Demikianlah Pandawa mengembara di hutan belantara, penuh derita dan harus menghadapi bermacam marabahaya. Mereka bergantian menggendong ibu mereka agar perjalanan bisa lebih cepat. Bhima selalu berusaha mencarikan buah-buahan dan daun-daunan yang bisa dimakan untuk saudara-saudaranya. Berhari-hari mereka mengembara sampai akhirnya bertemu dengan Bagawan Wyasa. Mereka memberi salam hormat kepada Mahaguru itu. Sang Resi memberi nasihat dan dorongan yang membesarkan hati mereka. Katanya, “Tak ada orang bijak yang kuat untuk selalu berbuat kebajikan seumur hidupnya. Tak ada orang durhaka yang selamanya hidup berkubang dosa. Hidup ini ibarat jaring labah-labah. Di dunia ini, tak ada orang yang sama sekali tak pernah berbuat kebajikan; tak ada pula yang sama sekali tak pernah berbuat kejahatan. Setiap orang harus memikul akibat perbuatannya sendiri. Janganlah engkau memberi jalan untuk kedukaan.” Atas nasihat dan petuah Bagawan Wyasa, Pandawa mengenakan pakaian brahmana. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Ekacakra. Sampai di sana, mereka tinggal menumpang di rumah seorang brahmana.
Bersambung....
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Monday, February 13, 2017

MAHABARATA 14




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
14. Istana dari Papan Kayu
Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin dalamnya ilmu olah senjata serta siasat perang yang dipelajari oleh Kaurawa dan Pandawa, Duryodhana semakin iri melihat keperkasaan Bhima dan kesaktian Arjuna dalam segala hal. Duryodhana kemudian mengangkat Karna dan Sakuni sebagai penasihatnya dan menugaskan mereka untuk merencanakan siasat-siasat licik untuk mengalahkan Pandawa. Dritarastra, ayah Kaurawa, sebenarnya bijaksana dan sangat mencintai Pandawa, putra-putra adiknya. Sayang- nya, ia berwatak lemah. Dalam menentukan segala sesuatu, ia terlalu memihak putra-putranya sendiri. Semua keinginan putra-putranya, terutama keinginan Duryodhana, selalu dikabulkannya. Tidak jarang, dengan sadar ia menuruti mereka meskipun tahu bahwa mereka salah. Bagi Duryodhana, yang lebih menyakitkan hati adalah kenyataan bahwa rakyat Hastina, terutama yang tinggal di ibukota Hastinapura, selalu memuji-muji Pandawa secara terang-terangan. Mereka senantiasa menyerukan bahwa Yudhistiralah yang paling tepat dinobatkan sebagai raja, menggantikan Dritarastra. Rakyat bergerombol di jalan- jalan, memperdebatkan siapa yang paling pantas menjadi raja mereka. Sering terdengar percakapan seperti ini.
“Dritarastra tidak pantas menjadi raja karena ia buta. Ia tidak mampu memerintah kerajaan dengan baik karena kekurangannya itu. Bhisma juga tidak mungkin menjadi raja, karena ia telah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya pada kebenaran, keadilan dan kesucian. Kecuali itu, ia memang tidak ingin menjadi raja dan sudah bersumpah takkan pernah menikah. Karena itu, Yudhistiralah yang paling pantas dinobatkan menjadi raja. Hanya dialah yang akan dapat memerintah wangsa Kuru dan kerajaan ini dengan adil.” Demikianlah rakyat berbicara di mana-mana. Mendengar semua itu, telinga Duryodhana terasa panas. Hatinya sakit didera rasa iri dan kebencian. Ia menghadap ayahnya, mengadukan hal itu. Katanya, “Ayahanda, rakyat kerajaan ini telah menghina kita. Mereka sama sekali tidak punya rasa hormat kepada orang-orang yang patut dimuliakan seperti Bhisma dan Ayahanda sendiri. Menurut mereka, kerajaan ini seharusnya diperintah oleh Yudhistira karena dialah yang paling pantas menjadi raja.
“Mereka berkata bahwa karena buta, sebenarnya Ayahanda tidak pantas menjadi raja. Jika mereka bersikeras meminta penobatan Yudhistira, itu berarti kehancuran bagi kita. Ayahanda telah mengalah kepada Paman Pandu. Kalau tidak karena Paman Pandu mengundurkan diri, Ayahanda takkan pernah menjadi raja. Sekarang, jika Yudhistira menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya, ke manakah kita akan pergi? Tak ada lagi kesempatan bagi keturunan kita untuk menjadi raja, karena hanya keturu- nan Yudhistira atau Pandawa yang berhak menjadi raja. Keturunan kita akan menjadi orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada belas kasihan keturunan Pandawa.”
Dritarastra merenung mendengar kata-kata anaknya. Beberapa lama kemudian dia berkata, “Anakku, apa yang engkau katakan itu benar. Namun, Ayah percaya, Yudhistira pasti takkan menyimpang dari jalan yang benar dan penuh kebajikan. Ia mengasihi kita semua. Ia mewarisi semua sifat mulia ayahnya. Rakyat mengagumi dia dan mereka pasti mendukung dia. Semua menteri dan senapati juga mencintai Pandu dan mereka pasti akan mengabdi padanya dengan sepenuh hati. Rakyat memang memuja Pandawa. Kita tak dapat menentang mereka atau menunggu kesempatan baik untuk mengalahkan Pandawa. Seandainya kita berbuat tidak adil dan tidak benar, rakyat akan berontak melawan kita. Mereka akan mengusir kita dan kita akan terjerumus dalam kubangan kutuk dan cemooh.” Duryodhana menjawab, “Rasa cemas Ayahanda tidak beralasan. Dalam keadaan paling buruk pun Bhisma tetap tidak akan memihak, sedangkan Aswattama pasti akan patuh padaku. Dan itu berarti bahwa ayahnya, Mahaguru Drona, dan Mahaguru Kripa ada di pihak kita. Widura tak mungkin menentang kita secara terang-terangan, kecuali jika dia punya alasan lain, sebab ia tidak punya pengikut atau kekuatan apa pun. Kirimlah Pandawa ke Waranawata
secepatnya.
“Ayahanda, sejujurnya hatiku terasa sesak, penuh dendam dan iri hati. Aku tak tahan lagi memendam semua perasaan ini. Aku selalu gelisah, tak enak makan dan tak enak tidur. Semua ini seakan-akan merobek-robek dadaku. Hidupku terasa penuh siksa dan derita.
“Ayahanda, segera kirimlah Pandawa ke Waranawata.
Setelah itu, kita akan menghimpun kekuatan kita.”
Setelah Duryodhana berkata demikian, para penasihat raja datang dan bergantian memberikan nasihat kepada Dritarastra. Mereka semua mendukung rencana Duryodhana. Kanika, tangan kanan Sakuni dan pemimpin kelompok ini, mengusulkan kepada Dritarastra, “Paduka, hamba mohon Paduka berhati-hati dan waspada terhadap anak-anak Pandu, sebab kebaikan dan pengaruh mereka merupakan ancaman bagi kewibawaan Paduka. Ketahuilah, semakin dekat hubungan keluarga, semakin dekat dan semakin mengerikan pula bahaya itu. Mereka sangat kuat.”
Dritarastra diam, mendengarkannya sungguh-sungguh. Kemudian Kanika melanjutkan, “Jangan Paduka gusar kepada hamba jika hamba katakan bahwa seorang raja harus berkuasa dalam nama, di atas takhta dan tinda- kannya, sebab tak seorang pun akan percaya pada kekuatan yang tidak pernah diperlihatkan. Hal-hal yang berkaitan dengan tata kerajaan memang harus dirahasiakan. Tetapi, bukti nyata suatu rencana bijak bagi rakyat adalah pelaksanaannya. Bodoh sekali kalau menunjukkan kemesraan terhadap mereka.
“Demikianlah, keburukan harus dilenyapkan sama sekali. Ibarat duri dalam daging, jika dibiarkan akan menyebabkan luka membisul. Musuh yang perkasa harus dihancurkan, namun musuh yang kecil dan lemah jangan dilalaikan. Ibarat bara, jika tidak segera dipadamkan bisa berkobar menyala membakar hutan. Jika tak bisa meng- hancurkan musuh perkasa dengan kekuatan senjata, kita gunakan tipu muslihat.”
Duryodhana meyakinkan ayahnya bahwa ia telah berhasil menghimpun sekutu dan pengikut yang setia. Katanya, “Ananda telah menghadiahkan harta benda, pangkat dan kehormatan kepada semua pengawal kerajaan Hastina. Ananda telah membuat mereka bersumpah untuk setia kepada kita. Begitu Ayahanda mengirim Pandawa ke Waranawata, seisi ibukota dan kerajaan ini akan memihak kita. Tak ada lagi sekutu Pandawa di kerajaan ini. Begitu kerajaan ini ada di tangan kita, mereka akan kehilangan kekuasaan. Setelah itu, barulah kita pikirkan bagaimana caranya melenyapkan mereka.”
Jika seseorang banyak mendengar tentang apa yang sebenarnya ingin ia yakini, maka ia akan merasa bahwa keyakinannya itu benar. Demikianlah, pikiran Dritarastra goyah oleh desakan anaknya dan anjuran para penasihatnya. Tanpa mampu berpikir jernih, ia merestui rencana Duryodhana. Sejak itu, para senapati Hastina sengaja memuji-muji keindahan Waranawata di hadapan Pandawa. Mereka membisikkan, bahwa di sana akan diadakan upacara pemujaan Batara Shiwa secara besar-besaran. Pandawa sama sekali tidak curiga mendengar semua itu. Lebih-lebih setelah Dritarastra menyuruh mereka mengikuti upacara itu. Dritarastra menambahkan, bahwa bukan saja upacara itu sangat penting, tetapi rakyat di Waranawata sudah lama merindukan kunjungan Pandawa.
Demikianlah, Pandawa memutuskan untuk pergi ke Waranawata setelah mendapat restu dari Bhisma dan para tetua lainnya. Duryodhana senang karena rencana pertamanya berhasil. Bersama Karna dan Sakuni, ia menyusun rencana untuk membunuh Dewi Kunti dan Pandawa di Warana- wata. Pertama-tama mereka mengirimkan Purochana dengan perintah rahasia yang harus dilaksanakan dengan taat dan hati-hati.
Jauh sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata, Purochana sudah mendahului pergi ke sana dengan tugas membangun istana peristirahatan untuk Pandawa. Istana itu dibangun dari papan-papan kayu yang diukir indah. Di sudut-sudut tersembunyi disisipkan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti lak, minyak kental, dan karung kering. Semua perabotannya juga terbuat dari bahan- bahan yang mudah terbakar.
Penjagaan diatur secara ketat dan rahasia agar Pandawa tidak curiga. Sebelum upacara dilaksanakan, di Waranawata diadakan pesta meriah, lengkap dengan bermacam-macam hiburan dan pertunjukan kesenian. Rencananya, lewat tengah malam, ketika Pandawa tidur
pulas kecapekan setelah berpesta, istana itu akan dibakar. Kaurawa akan menyambut Pandawa dengan ramah dan penuh hormat. Jika istana terbakar, rakyat tidak curiga dan mereka menyimpulkan bahwa kebakaran itu terjadi tanpa sengaja dan tidak akan melemparkan tuduhan kepada mereka. Tak seorang pun akan menyalahkan Kaurawa, sementara Duryodhana akan puas karena berhasil memusnahkan Pandawa.
Demikianlah dengan berbagai cara Duryodhana berusaha memusnahkan Pandawa. Hanya Widura yang ingin menyelamatkan wangsa Kuru dari malapetaka itu.
Bersambung....

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau