Showing posts with label kurawa. Show all posts
Showing posts with label kurawa. Show all posts

Monday, February 20, 2017

MAHABARATA 22

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
22. Semua Dipertaruhkan dalam Permainan Dadu
Maka pergilah Widura ke Indraprastha. Sampai di sana, ia disambut oleh Yudhistira. Raja muda itu bertanya dengan perasaan prihatin, “Mengapa engkau tidak gembira? Apakah keluarga kita di Hastinapura sehat-sehat? Apakah Baginda Raja dan putra-putranya sehat-sehat?”
Setelah saling menyampaikan salam penghormatan, Widura menjelaskan maksud kedatangannya. “Semua kerabat kita di Hastinapura sehat. Bagaimana di sini? Apakah semuanya sehat? Aku datang karena diutus mengundangmu atas nama Raja Dritarastra. Datanglah ke Hastinapura dan lihatlah bangunan-bangunan yang telah disiapkan untuk beristirahat.
“Sebuah balairung indah telah didirikan seperti yang engkau bangun di sini. Baginda Raja mengundang kau dan adik-adikmu untuk beristirahat dan bermain dadu di sana.”
Yudhistira tidak langsung menerima undangan itu. Ia ingin mendengar nasihat Widura tentang undangan itu. Katanya, “Bermain dadu sambil bertaruh selalu menimbulkan pertengkaran di antara kaum kesatria. Orang yang bijak pasti akan menghindari hal itu. Kami selalu patuh pada nasihatmu. Apa yang sebaiknya kami lakukan?”
Widura menjawab, “Setiap orang tahu, bermain dadu adalah pangkal semua kejahatan. Aku telah berusaha menentang rencana buruk ini! Tetapi Baginda Raja memerintahkan aku mengundang engkau. Terserah kepadamu, lakukanlah apa yang menurutmu baik.”
Walaupun telah mendengar peringatan halus Widura, Yudhistira tetap saja berniat pergi ke Hastinapura. Memang sulit menghindari nasib manusia yang dengan sengaja melangkah menuju kehancurannya sendiri karena didorong nafsu berahi, kegemaran berjudi, dan kebiasaan minum-minum. Lagi pula, sesungguhnya Yudhistira memang gemar berjudi. Menurut tradisi jaman itu, seorang kesatria dianggap tidak sopan jika menolak undangan bermain dadu. Kecuali itu, Yudhistira telah bersumpah untuk tidak pernah melakukan tindakan yang dapat membuat orang lain tidak senang atau marah. Karena itu, sungguh tidak pantas jika ia menolak undangan pamannya sendiri, Raja Dritarastra. Itu sebabnya ia menerima undangan tersebut dan berangkat bersama saudara-saudaranya diiringkan sepasukan pengawal.
Yudhistira dan rombongannya diterima Dritarastra di Hastinapura dan dipersilakan menginap di balai peristirahatan khusus untuk tamu. Setelah cukup beristirahat, esok harinya mereka diantar ke ruang permainan dadu. Setelah saling bertegur sapa sesuai adat, Sakuni mengumumkan bahwa permadani, meja dan kain beludu penutupnya telah disiapkan secara khusus dan bahwa permainan dapat dimulai.
Yudhistira berkata, “Paduka Raja, bermain judi itu tidak baik. Bukan dengan cara kesatria, kepandaian, dan kebijaksanaan seseorang menang dalam permainan adu nasib seperti ini. Resi Asita, para dewata dan dan para resi yang mengenal inti hakikat kehidupan secara mendalam telah menasihatkan, bahwa permainan judi harus dihindari, karena permainan ini bisa membuat orang ingin berbohong dan menipu. Mereka juga menyatakan bahwa kekalahan dan kemenangan dalam pertempuran adalah jalan yang paling pantas bagi kesatria. Paduka Tuanku sudah tentu bukannya tidak menyadari hal ini.” Meski berkata demikian, sesungguhnya hati kecil Yudhistira bimbang karena kata-katanya bertentangan dengan kegemarannya bermain dadu.
Sakuni tahu apa yang sebenarnya bergolak di dalam hati Yudhistira karena ia telah mendengar tentang sumpah kesatria itu. Itulah kelemahan Yudhistira. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Sakuni. Ia berkata, “Apa salahnya permainan ini? Sebenarnya, jika sungguh-sungguh dipikirkan, pertempuran itu sebenarnya apa? Apa pula gunanya berbincang-bincang tentang ajaran-ajaran Weda dengan para guru ahli kitab suci? Dalam kenyataannya kita tahu, orang pintar selalu menang melawan orang bodoh. Dalam kenyataannya, orang yang lebih pandai selalu menang dalam segala hal. Semua ini hasil ujian kekuatan atau kepandaian. Dalam kehidupan manusia, yang ahli selalu mengalahkan yang baru mulai belajar. Demikian pula dalam hal bermain dadu. Kalau memang takut kalah jangan ikut main. Jangan mencari-cari alasan dengan mengemukakan basa-basi tentang ajaran moral dan budi pekerti.”
Yudhistira menjawab, “Baiklah, siapa yang akan main melawan aku?”
Duryodhana langsung menjawab, “Aku ingin memenangkan semua taruhanmu, semua harta kekayaan dan kerajaanmu. Paman Sakuni akan mengocok dadu dan bermain atas namaku.”
Semula Yudhistira telah memperhitungkan bahwa diampasti bisa menang melawan Duryodhana. Tetapi, melawan Sakuni lain soal. Sakuni termasyhur sebagai pemain dadu yang ulung namun tidak malu-malu menggunakan segala cara, kalau perlu cara-cara licik, untuk memenangkan permainan. Karena itu Yudhistira berkata, “Menurutku itu menyalahi adat. Sungguh tidak lazim seseorang bermain atas nama orang lain.”
Sakuni menjawab sambil mengejek, “Aku tahu, engkau hanya mencari-cari alasan.”
Wajah Yudhistira memerah. Sambil menahan marah ia menjawab, “Baiklah, aku akan main.”
Ruangan bermain dadu itu penuh sesak. Tampak di antara yang menonton adalah Drona, Mahaguru Kripa,
Bhisma, Widura dan Raja Dritarastra. Mereka membayangkan betapa buruknya akibat yang bisa ditimbulkan oleh permainan judi, tetapi mereka tak mampu mencegah. Itu sebabnya mereka duduk dengan gelisah. Para pangeran dan bangsawan menyaksikan permainan itu dengan penuh minat dan semangat.
Mula-mula mereka bertaruh uang, sesudah itu bertaruh emas permata. Disusul kereta dan kuda-kudanya. Yudhistira selalu kalah. Sejak permainan pertama dia belum pernah menang. Kemudian Yudhistira mempertaruhkan semua pengawal dan pelayannya, lalu gajah-gajah dan pasukan berkudanya. Semua yang ia pertaruhkan habis. Setiap kali Sakuni mengocok dan melemparkan dadu, dadu itu selalu memunculkan angka sesuai kemauannya.
Yudhistira kemudian mempertaruhkan semua desa di wilayah kerajaannya, lengkap dengan penduduknya, sawah dan ladangnya, dan segala macam ternaknya. Semuanya habis dikalahkan Sakuni.
Akhirnya Sakuni bertanya, “Apakah masih ada yang bisa kaujadikan taruhan?”
Yudhistira menjawab, “Aku pertaruhkan Nakula, sauda-
raku yang tampan dan berkulit bersih. Ia adalah salah satu hartaku yang paling berharga.”
Sakuni bertanya, “Kau tidak menyesal? Kami akan senang sekali memenangkan taruhan itu.” Sambil berkata demikian ia melemparkan dadu. Ketika berhenti berputar, dadu itu memunculkan angka yang dikehendakinya. Hadirin bingung melihat itu.
Yudhistira berkata, “Ini saudaraku yang lain, Sahadewa. Ia seorang seniman yang punya pengetahuan mendalam tentang berbagai macam seni. Aku tahu, sebenarnya aku tidak boleh mempertaruhkan dia. Tetapi ... ayo, kita teruskan permainan.”
Sambil melemparkan dadu, Sakuni berkata, “Baiklah, kita teruskan permainan, dan ... lihat aku menang.”
Yudhistira menyerahkan Sahadewa yang ia pertaruh- kan. Khawatir kalau-kalau Yudhistira memutuskan untuk berhenti bermain, dengan licik Sakuni memancing-mancing, “Bhima dan Arjuna adalah saudara-saudara kan- dungmu. Kalian terlahir dari satu ibu. Kau tidak akan mempertaruhkan mereka, bukan?”
Mendengar kata-kata itu, Yudhistira tersinggung. Ia tidak mau dikatakan tega mempertaruhkan saudara-saudara tirinya dan lebih menyayangi saudara-saudaranya sekandung. Ia tidak dapat menahan perasaannya, lalu berkata, “Engkau sengaja hendak memecah-belah kami. Engkau mengadu domba kami! Engkau yang selalu hidup dikuasai nafsu setan takkan bisa mengerti bagaimana hidup kami yang sebenarnya.”
Setelah mengambil napas, ia menyambung, “Aku akan
pertaruhkan Arjuna, pahlawan yang selalu menang di medan pertempuran. Mari kita teruskan permainan.”
Sakuni menjawab, “Baiklah, aku lemparkan dadu. Lihat... aku menang!”
Yudhistira kalah lagi. Arjuna diambil oleh Kaurawa.
Kekalahan terus-menerus membuat Yudhistira gelap mata. Tanpa sadar, ia semakin tenggelam dalam tipu daya Sakuni. Dengan air mata berlinang-linang ia berkata, “Ini Bhima, saudaraku, panglima tertinggi balatentara kami. Ia tak kenal menyerah dan keperkasaannya tak tertandingi. Aku jadikan dia taruhanku.”
Permainan diteruskan. Yudhistira kehilangan Bhima. Sambil mengejek Sakuni bertanya, “Apakah masih ada
yang bisa kaujadikan taruhan?”
Dharmaputra menjawab, “Ya, diriku sendiri. Kalau kau menang, aku bersedia menjadi budakmu. Awas, perhatikan! Aku pasti menang.”
Sakuni melemparkan dadu dan ia menang.
Demikianlah, Yudhistira telah mempertaruhkan semua miliknya, termasuk saudara-saudara dan dirinya sendiri, lengkap dengan pakaian dan senjata yang selalu lekat pada tubuh para kesatria. Semua itu gara-gara ia terbujuk oleh kata-kata Sakuni yang terus-menerus berusaha mempengaruhi, memancing-mancing, menyindir dan mengejeknya agar Yudhistira kehilangan kendali atas dirinya, menjadi marah, bernafsu dan tak kuasa menghentikan permainan.
Sakuni bangkit berdiri lalu memanggil kelima Pandawa satu per satu. Dengan lantang ia mengumumkan bahwa secara sah mereka sekarang menjadi budak-budaknya. Para hadirin terpaku, tak kuasa berkata-kata. Sambil memandang Yudhistira, Sakuni melanjutkan, “Masih ada satu permata milikmu yang dapat engkau pertaruhkan. Mungkin kali ini nasib baik berpihak padamu dan engkau menang. Apakah kau tidak berani melanjutkan permainan dengan mempertaruhkan Draupadi, istrimu?”
Dengan putus asa Yudhistira menjawab, suaranya bergetar, “Baiklah, aku pertaruhkan dia.”
Hadirin menjadi ribut. Dari tempat duduk para sesepuh terdengar bisik-bisik tidak setuju. Kemudian dari segala penjuru terdengar teriakan, “Tidak, tidak, tidak!”
Tetapi Duryodhana dan saudara-saudaranya bersorak- sorak. Di antara para Kaurawa, hanya Yuyutsu yang menundukkan kepala, sedih menyaksikan semua itu. Sakuni melemparkan dadu lagi dan berteriak, “Aku menang! Lihatlah!”
Duryodhana menoleh kepada Widura sambil berkata,
“Pergilah ambil Draupadi istri Pandawa. Mulai sekarang ia harus menyapu dan membersihkan istana kita. Pergi segera! Sekarang juga!”
Widura menjawab, “Kau gila. Ini berarti kau mengundang kehancuranmu sendiri. Ketahuilah, nasibmu kini ibarat tergantung pada seutas benang. Kalau tak hati-hati, kau akan jatuh ke dalam jurang kenistaan. Kaukira keme- nanganmu ini akan membuatmu bahagia. Dengar, sekarang kau sedang mabuk dalam lautan kemenangan yang akan menenggelamkan dirimu.”
Setelah berkata demikian, Widura menoleh kepada Yudhistira sambil melanjutkan kata-katanya, “Yudhistira, kau tidak berhak mempertaruhkan Draupadi sebab dirimu sendiri tidak bebas lagi. Dirimu sudah kaupertaruhkan. Kau telah kehilangan kebebasan dan segala hakmu. Tapi
... aku melihat keruntuhan Kaurawa semakin dekat. Karena mengabaikan nasihat dan petunjuk para guru, kawan dan pendukung mereka, aku yakin, putra-putra Dritarastra kini sedang menuju ke lembah neraka.”
Duryodhana sangat marah mendengar kata-kata Widura. Ia lalu berkata kepada Prathikami, sais keretanya, “Widura iri melihat kemenangan kita dan takut kepada Pandawa. Tetapi engkau ada di pihak kami. Pergilah engkau, ambil, dan bawalah Draupadi ke sini.”
Prathikami pergi menjemput Draupadi di balai peristirahatan. Seperti diperintahkan Duryodhana, ia berkata, “Paduka Permaisuri, Raja Yudhistira kalah dalam permainan dadu dan telah mempertaruhkan semuanya, terma- suk diri Paduka. Kini Paduka menjadi milik Duryodhana. Hamba diperintahkan menjemput Paduka untuk dijadikan pelayan di istana ini.”
Draupadi, permaisuri Rajadiraja yang telah melaksanakan rajasuya, sangat terkejut mendengar pesan aneh itu. Ia bertanya, “Wahai Prathikami, apa maksudmu berkata begitu? Raja Yudhistira tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan?”
Prathikami menjawab, “Ya, Raja Yudhistira telah mempertaruhkan semua miliknya dan kalah. Kini ia tak punya apa-apa lagi. Karena itu, ia mempertaruhkan Paduka Permaisuri.”
Kemudian ia menceritakan bagaimana Yudhistira kalah dalam permainan dadu dengan mempertaruhkan semua miliknya, saudara-saudaranya, termasuk dirinya sendiri.
Walaupun hatinya pedih sekali, namun kekuatan batinnya mendorong Draupadi untuk berkata, “Wahai sais kereta, kembalilah kepada tuanmu. Tanyakan pada yang bermain dadu. Tanyakan, apakah lebih dulu mempertaruhkan dirinya sendiri atau istrinya. Tanyakan ini di depan semua yang hadir di sana. Kemudian kembalilah ke sini dengan jawaban itu. Setelah itu, barulah aku bersedia kaubawa ke sana.”
Bersambung...
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Sunday, February 19, 2017

MAHABARATA 21

_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
21. Undangan Bermain Dadu
Upacara rajasuya selesai. Para raja, putra mahkota, pendita, penasihat, guru dan para tamu agung lainnya meninggalkan Indraprastha.
Setelah para tamu pergi, Dharmaputra menyembah Bhagawan Wyasa dan disuruh duduk di sampingnya. Mahaguru itu berkata kepadanya, “Wahai, putra Dewi Kunti, engkau kini bergelar Maharajadiraja. Sungguh gelar yang pantas sekali bagimu. Kudoakan, semoga bangsa Kuru yang masyhur ini mencapai kemuliaannya melalui engkau. Sekarang, aku akan kembali ke pertapaanku.” Yudhistira menyembah kaki mahaguru itu sambil berkata, “Wahai, Guru, hanya Gurulah yang dapat menghapus kecemasanku. Banyak peristiwa penting baru saja terjadi. Hanya orang bijaksana yang dapat meramalkan malapetaka apa yang akan terjadi karena peristiwa- peristiwa itu. Apakah menurut ramalan Guru, hal itu tercermin dalam kematian Sisupala? Atau ... apakah ada kemungkinan yang lebih mengerikan di masa datang?”
Bhagawan Wyasa menjawab, “Anakku tercinta, engkau akan mengalami banyak kesusahan dan penderitaan selama empat belas tahun mendatang. Peristiwa teramat penting yang baru saja berlalu tadi meramalkan kehancuran kaum kesatria dan itu tidak berhenti pada kematian Sisupala. Jauh lebih mengerikan daripada itu! Ratusan raja akan tewas dalam perang besar. Alur kehidupan lama akan hancur. Malapetaka akan timbul karena permusuhan antara kau dan adik-adikmu di satu pihak dan sepupumu, putra-putra Dritarastra, di lain pihak. Permusuhan itu akan memuncak dalam satu perang besar yang memusnahkan kaum kesatria. Tak seorang pun bisa melawan atau menghindari suratan nasibnya. Teguhkan hatimu dan tegakkan keluhuran budimu. Waspadalah dan perintahlah rakyatmu dengan bijaksana. Selamat tinggal!”
Setelah memberikan restu kepada Yudhistira, Bhagawan Wyasa meninggalkan Indraprastha. Ramalan Bhagawan Wyasa membuat Yudhistira sedih dan merasa jijik terhadap nafsu-nafsu duniawi. Ia me- nyampaikan ramalan itu kepada adik-adiknya. Ia merasa hidupnya sia-sia karena kepunahan bangsanya sudah diramalkan.
Arjuna berkata, “Engkau seorang raja. Tak pantas kau mempercayai hasutan dan ancaman seperti itu. Kita hadapi nasib kita dengan penuh keberanian dan kita lakukan tugas kita sebaik-baiknya.”
Yudhistira menjawab, “Saudara-saudaraku, semoga iman kita diteguhkan oleh Yang Kuasa dan semoga Yang Kuasa selalu melindungi kita. Aku bersumpah, aku tidak akan bicara lemah dan kasar kepada saudara-saudara dan sanak kerabatku selama tiga belas tahun. Aku akan menghindari segala hal yang mungkin menimbulkan sengketa. Aku tidak akan pernah marah, sebab kemarahan adalah pangkal permusuhan. Semoga kita diberi jalan terbaik setelah mengetahui peringatan dari Bhagawan Wyasa.” Semua saudaranya mendukung sumpahnya.
Menurut Bhagawan Wyasa, rangkaian malapetaka yang akan memuncak dalam perang besar di padang Kurukshetra berawal dari perjudian yang direncanakan Sakuni, penasihat Duryodhana. Sakuni menyarankan agar Duryodhana mengundang Yudhistira bermain dadu. Di balik itu, ia sudah menyiapkan rencana licik. Sesuai adat di jaman itu, Yudhistira tidak mungkin menolak undangan sepupunya. Ia menerima undangan itu dengan prihatin dan bersedia memenuhinya demi kewajibannya untuk menghormati sepupunya dan memupuk rasa persaudaraan dengannya. Ia mengira keputusannya benar, padahal yang akan terjadi justru sebaliknya! Tanpa disadarinya, Yudhistira telah ikut menanam benih kebencian dan kemusnahan. Sementara Yudhistira berusaha keras menghindari
perselisihan, Duryodhana justru panas hati karena dengki dan iri melihat kemakmuran kerajaan yang dipimpin Pandawa. Hal itu dilihatnya sewaktu ia menghadiri upacara rajasuya. Istana Indraprastha dibangun megah dan dikelilingi taman yang luas dan indah. Ukiran dan berbagai hiasan dari emas, perak dan permata membuat istana itu semakin semarak. Semua itu menandakan bahwa Yudhistira benar-benar memerintah dengan baik dan adil. Ia juga menyaksikan betapa gembiranya para raja yang menjadi sekutu Yudhistira.
Sakuni menyapa, “Mengapa engkau berdiam diri? Jangan biarkan duka menyiksa dirimu.”
Duryodhana menjawab, “Yudhistira dilindungi para dewata. Di depan semua raja, Sisupala dibunuh dan tak seorang pun berani membela dia. Seperti pedagang yang hanya mementingkan keselamatan diri dan lakunya dagangannya, para raja itu bersedia menjual kehormatan dan kekayaan mereka asalkan bisa bergabung dengan Yudhistira. Bagaimana aku tidak sedih melihat semua ini? Apa gunanya hidup seperti ini?”
Sakuni berkata, “Wahai Duryodhana, Pandawa adalah sepupumu. Tidak pantas engkau iri melihat kemakmuran mereka. Mereka memperoleh kerajaan dan kekayaan itu dengan sah. Tetapi, kita dapat mengundang Yudhistira untuk bermain dadu dengan dalih untuk bersenang-senang dan mempererat persaudaraan. Dia tak mungkin menolak undangan seperti itu. Kelak, Bhisma, Mahaguru Kripa, Jayadratha, Somadatta dan aku akan mendukungmu. Engkau pasti bisa menaklukkan dunia jika kau mau. Jangan biarkan duka merongrong dirimu!”
Duryodhana menjawab, “Benar katamu, Paman Sakuni, aku punya banyak pendukung. Jadi, mengapa tidak kita gempur saja Pandawa dan kita usir mereka dari Indraprastha?”
Sakuni berkata, “Tidak. Itu tidak mudah. Tetapi, aku tahu cara mengusir Pandawa dari Indraprastha, tanpa pertempuran dan pertumpahan darah.”
Duryodhana tertarik mendengar itu. Ia bertanya keheranan, “Hai, Paman Sakuni, apakah mungkin mengalahkan Pandawa tanpa mengorbankan jiwa? Apa rencanamu, Paman?”
Kata Sakuni, “Aku tahu Yudhistira gemar main dadu, tetapi tidak pandai. Ia terlalu jujur dan sama sekali tak tahu akal dan siasat untuk memenangkan permainan. Karena itu, ia tak pernah menang. Kita undang ia bermain dadu, kita gunakan akal dan siasat. Kita akan pertaruhkan kekayaan dan kerajaan Astina. Dia pasti akan mempertaruhkan kekayaan dan kerajaannya. Jika semua terlaksana sesuai rencana, kita pasti bisa memenangkan kekayaannya dan kerajaannya tanpa perlu menitikkan darah setetes pun.”
Duryodhana dan Sakuni lalu menghadap Raja Dritarastra. Sakuni berkata, “Tuanku Raja, Duryodhana diliputi perasaan sedih dan cemas. Tetapi, mengapa Tuanku tak hiraukan kesedihan dan kecemasannya? Apa sebabnya, wahai Paduka Raja?”
Raja yang buta itu memeluk putranya tercinta sambil berkata, “Aku tidak tahu mengapa engkau bersedih. Apa yang kaurisaukan? Seisi kerajaan ini ada dalam kekuasaanmu. Bukankah selama ini kau dikelilingi berbagai hibu- ran dan kesenangan? Mengapa kau sedih? Engkau telah mempelajari kitab-kitab Weda, ilmu peperangan dan ilmu- ilmu lain dari para mahaguru terbaik. Sebagai putra sulungku kau mewarisi mahkota. Apa lagi yang masih kau- kehendaki?”
Duryodhana menjawab, “Ayahanda, meski hidupku dikelilingi hiburan dan kesenangan, meski seisi kerajaan ini tunduk padaku, aku tetap merasa hidupku tak berguna karena Pandawa memerintah kerajaannya dengan baik dan rakyat mencintai mereka. Aku merasa mereka lebih berhasil daripada aku. Apa gunanya hidup seperti ini?”
Melihat ayahnya diam mendengarkan, Duryodhana melanjutkan, “Cepat puas diri bukanlah sifat seorang kesatria. Rasa takut dan mengasihani diri sendiri adalah sifat- sifat yang merendahkan martabat raja-raja. Kekayaan dan kesenanganku tidak membuatku puas setelah aku melihat
—dengan mataku sendiri— kemakmuran Yudhistira.
Tidakkah Ayah sadari, Pandawa semakin kaya dan perkasa sementara kita semakin lemah dan pudar.”
Dritarastra berkata, “Anakku tercinta, engkau adalah putra sulungku. Engkau mewarisi kemegahan dan kebesaran bangsa kita. Jangan membenci Pan- dawa. Kebencian akan membuahkan kesedihan dan kematian. Katakan terus terang, mengapa engkau membenci Yudhistira yang tidak bersalah. Bukankah keberhasilannya juga berarti keberhasilan kita? Sahabatnya adalah sahabat kita. Apalagi karena ia sama sekali tidak iri atau membenci kita. Jangan kotori hatimu dengan iri dan dengki!”
Duryodhana kecewa mendengar jawaban ayahnya. Ia menyahut dengan tidak sopan, “Orang yang tidak punya pengetahuan tentang hal-hal biasa tetapi tenggelam dalam samudera ilmu ibarat sepotong sendok yang ditenggelamkan ke dalam masakan yang enak. Ia berada di dalam masakan tetapi tak bisa menikmati kelezatannya dan tak bisa memperoleh manfaatnya.
“Ayah banyak mempelajari ilmu ketatanegaraan, tetapi tidak bijak dalam memerintah. Seperti selalu Ayah ajarkan padaku, keadaan dunia adalah sesuatu, sedangkan urusan kerajaan adalah sesuatu yang lain. Seperti kata Brihaspati, meneguhkan iman dan merasa puas akan keadaan itu adalah nasihat yang cocok bagi orang biasa, bukan bagi raja. Kewajiban kesatria adalah selalu mencari kemenangan, dengan segala cara. Jadi Raja, sebagai kesatria, harus mencari kemenangan.”
Demikianlah Duryodhana bicara dengan mengutip ucapan para ahli pemerintahan. Ia juga menghasut ayahnya agar mau memberinya ijin.
Sakuni menyela, menjelaskan rencananya untuk meng- undang Yudhistira bermain dadu. Dengan begitu, Pandawa pasti dapat ditaklukkan tanpa pertumpahan darah. Sakuni meyakinkan sang Raja, “Cukup ijinkan kami mengirim utusan untuk mengundang Pandawa bermain dadu. Selebihnya serahkan padaku.”
Duryodhana menambahkan, “Jika Ayah setuju, Paman Sakuni akan memenangkan permainan ini atas namaku. Tak perlu ada pertarungan.”
Dritarastra berkata, “Usul Sakuni tidak pantas. Sebaiknya kita tanyakan hal ini kepada Widura. Ia pasti memberi nasihat yang benar kepada kita.”
Tetapi Duryodhana tidak mau mendengar pendapat Widura. Ia berkata, “Widura hanya bisa memberi nasihat yang membosankan tentang budi pekerti, tapi ia tidak mampu menolong kita untuk mencapai maksud kita. Da- lam langkah pelaksanaan untuk memperoleh hasil terbaik, siasat kenegaraan para raja tidak harus sama dengan isi kitab-kitab ilmu pemerintahan yang baik, yang dilengkapi dengan cara-cara melaksanakannya. Kecuali itu, Widura tidak suka padaku dan lebih memihak Pandawa. Ayah tentu lebih tahu tentang ini daripada aku.”
Dritarastra berkata, “Pandawa itu kuat. Menurutku, memusuhi mereka tidaklah bijaksana. Permainan dadu hanya akan menyeret kita dalam permusuhan. Nafsu serakah yang timbul akibat permainan ini tidak mengenal batas. Kita harus hindari hal ini.”
Tetapi Duryodhana terus mendesak, “Kepemimpinan negara yang bijak terletak pada keberanian untuk membela diri dengan kekuatan sendiri dan mengenyahkan segala ketakutan. Bukankah lebih baik jika kita laksanakan rencana itu selagi kita masih lebih kuat daripada mereka? Ini keputusan yang paling benar! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Permainan dadu melawan Pandawa bukanlah siasat buatan kita. Permainan ini sudah merupakan tradisi para kestaria sejak jaman dahulu. Dan kalau kita yakin bisa menang tanpa pertumpahan darah, mengapa tidak?”
Dritarastra menjawab, “Anakku tercinta, Ayah sudah tua. Lakukanlah apa yang ingin kaulakukan. Tetapi aku tidak merestuimu. Ayah yakin, kelak engkau pasti menyesal. Semua ini sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.”
Demikianlah, setelah lelah berdebat Dritarastra membiarkan putranya melakukan apa yang dimauinya. Kemudian ia menyuruh para pelayan membangun balairung indah khusus untuk bermain dadu walaupun hati kecilnya sedih dan cemas membayangkan akibatnya nanti. Diam-diam ia menghubungi Widura dan meminta pendapatnya. Widura berkata, “Tuanku Raja, permainan itu pasti akan menghancurkan bangsa kita karena permainan itu memupuk dan mengobarkan kebencian yang tak mungkin dibendung.”
Dritarastra yang tidak dapat menghalang-halangi kemauan anaknya berkata, “Bila nasib kita baik, aku tidak khawatir. Tetapi jika nasib baik tidak berpihak pada kita, apa yang bisa kita perbuat? Kodrat dan nasib telah digariskan Yang Maha Kuasa. Pergilah engkau, Widura, untuk atas namaku mengundang Pandawa bermain dadu di Hastinapura.”
Bersambung...
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Thursday, February 16, 2017

MAHABARATA 17




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
17. Sayembara Memperebutkan Draupadi
Sementara Pandawa dan Dewi Kunti masih tinggal di Ekacakra dan masih menyamar sebagai brahmana, mereka mendengar berita tentang sayembara memperebutkan Draupadi, putri mahkota Kerajaan Panchala.
Menurut tradisi agung pada jaman itu, seorang raja yang mempunyai putri yang sudah dewasa wajib menyelenggarakan sayembara untuk mencari calon mempelai yang pantas bagi putrinya. Demikianlah, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala yang makmur mengumumkan sayembara untuk memperebutkan Draupadi, putrinya yang terkenal cantik, anggun, dan berbudi halus. Para putra mahkota dan pangeran dari berbagai kerajaan diundang untuk mengikuti sayembara itu. Pemenangnya berhak menyunting Dewi Draupadi sebagai istrinya Sebagai ibu yang bijaksana, Dewi Kunti tahu bahwa anak-anaknya ingin pergi ke Panchala untuk mengikuti sayembara itu. Agar putra-putranya tidak malu mengutarakan isi hati, dengan halus ia berkata kepada Dharmaputra, “Sudah lama kita tinggal di negeri ini. Sudah waktunya kita pergi dan melihat-lihat negeri lain. Ibu sudah bosan melihat gunung, lembah, sungai dan alam sekitar sini. Sedekah yang kita peroleh semakin lama semakin sedikit. Jadi, tak ada gunanya kita tinggal lebih lama di sini. Marilah kita pergi ke Kerajaan Panchala yang subur dan makmur.”
Maka berangkatlah Pandawa bersama para brahmana lainnya, meninggalkan Ekacakra menuju Panchala. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya mereka tiba di ibukota Kerajaan Panchala yang indah. Pandawa menumpang di rumah seorang tukang kendi dan tetap menyamar sebagai brahmana agar tidak menarik perhatian. Tibalah hari sayembara. Rakyat berduyun-duyun memadati arena sayembara di Panchala untuk menyaksikan para kesatria yang ingin menyunting Draupadi mengadu nasib dan mempertaruhkan nama mereka. Di tengah arena, di atas panggung yang kokoh, diletakkan sebuah busur raksasa yang sangat berat, lengkap dengan anak panahnya. Barangsiapa mampu mengangkat busur itu, merentangnya, memasang anak panah, lalu mengenai sasaran yang telah ditentukan dengan anak panah itu, dialah yang berhak menyunting Draupadi. Sasaran itu digantungkan di belakang roda cakra yang terus diputar tanpa henti. Tepat di tengah cakra itu ada satu lubang sempit yang hanya cukup untuk satu anak panah. Hanya kesatria yang mampu memusatkan pikiran dan memiliki kecakapan memanah melebihi kemampuan manusia biasa yang bisa memenangkan sayembara itu.
Di sisi lain arena didirikan panggung yang lebih luas dan megah untuk upacara perkawinan agung. Panggung itu dihias sangat indah, dikelilingi bangunan-bangunan peristirahatan untuk para tamu. Berbagai hiburan dan pesta meriah sudah disiapkan untuk merayakan pernikahan Draupadi. Menurut rencana, keramaian itu akan dilangsungkan selama empat belas hari. Para pangeran yang tampan dan sakti berdatangan dari mana-mana. Anak-anak Dritarastra juga hadir, begitu pula Krishna, Sisupala, Jarasandha, dan Salya. Semua berniat mengikuti sayembara itu. Gamelan ditabuh bertalu-talu, rakyat berdiri berjejal-jejal sambil bersorak-sorai. Tiba-tiba bunyi gamelan menjadi lirih, dari arah gerbang istana muncul arak-arakan megah. Paling depan tampak Dristadyumna menunggang kuda gagah, disusul Draupadi yang duduk di singgasana di punggung gajah yang tak kalah gagahnya. Gajah itu diberi pakaian dari sutera warna-warni bertatahkan emas dan permata. Dengan wajah segar setelah dibasuh air kembang dan mengenakan pakaian putri mahkota dari sutera berjulai-julai, Draupadi tersenyum tersipu-sipu memandang rakyat yang berjejal- jejal di sepanjang jalan dari gerbang istana ke arena. Dengan sikap halus nan anggun, Draupadi turun dari punggung gajah lalu naik ke panggung upacara. Dengan kalung bunga di tangan, sesaat sebelum duduk di atas panggung, Draupadi sempat melempar pandang ke arah para pangeran peserta sayembara yang membalasnya dengan pandang takjub terpesona.
Gong ditabuh keras menggelegar, tanda sayembara akan segera dimulai Para brahmana maju ke depan, mengucapkan mantra-mantra upacara dan kidung-kidung suci. Suasana terasa damai. Gamelan ditabuh lirih dan khusyuk. Setelah upacara persembahyangan untuk kemakmuran, ketenteraman dan kedamaian selesai, Dristadyumna menuntun Draupadi ke tengah arena, ke dekat tempat busur raksasa diletakkan. Kemudian, dengan suara lantang dan jernih Dristadyumna mengumumkan, “Para putra mahkota yang kami muliakan, yang hadir di sini dengan segala kebesaran, kami ucapkan selamat datang dan selamat mengikuti sayembara ini.
“Kami mohon perhatian Yang Mulia semua. Di sini terletak busur, di sana anak-anak panah, dan di seberang sana, di ketinggian itu terpasang sasaran yang harus Tuan-Tuan kenai dengan anak panah. Barangsiapa mampu mengenai sasaran itu, melewati lubang di pusat cakra itu sebanyak lima kali berturut-turut, dan berasal dari kelahiran serta keluarga baik-baik, dialah yang memenangkan sayembara ini. Dia berhak menyunting adikku, Draupadi.” Kemudian Dristadyumna menoleh kepada adiknya lalu menyampaikan nama dan riwayat masing- masing putra mahkota yang mengikuti sayembara itu. Setelah Dristadyumna selesai menyampaikan peraturan sayembara, satu per satu para putra mahkota maju ke depan. Mereka bergantian mencoba mengangkat busur itu dan memasang sebatang anak panah. Tetapi busur itu terlalu berat, begitu pula anak panahnya. Dengan pera- saan malu dan menyesal mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Di antara yang tidak berhasil adalah Sisupala, Jarasandha, Salya, dan Duryodhana. Ketika Karna tampil ke depan, para penonton bersorak- sorai. Karna sangat terkenal akan kepandaiannya memanah. Mereka berharap, kali ini ada yang berhasil memenangkan sayembara. Sayang, Karna gagal. Anak panahnya meleset seujung rambut. Kecuali itu, busur mendesing terpelanting begitu anak panah dilepaskan. Hadirin ber- teriak-teriak riuh. Ada yang berseru bahwa sayembara itu terlalu berat dan tak mungkin ada yang bisa memenang- kannya. Yang lain menuduh, sayembara itu sengaja diadakan untuk menjatuhkan nama para putra mahkota yang mengikutinya. Demikianlah, keributan itu berlangsung beberapa lama. Tiba-tiba orang-orang dikagetkan oleh seorang brahmana muda yang bangkit berdiri, menguak kerumunan penonton, lalu maju ke tengah arena. Ketika ia menghampiri busur itu, sorak-sorai penonton menggemuruh seakan hendak merobohkan langit. Para brahmana saling berpan- dangan. Siapakah brahmana muda yang berani tampil itu? Mereka berdebat. Ada yang berpendapat bahwa sungguh baik jika golongan mereka ada yang mewakili. Yang lain berpendapat, seorang brahmana tidak pantas mengikuti sayembara seperti itu dan bersaing dengan para pangeran. Kesatria sakti seperti Karna dan Salya saja gagal, apalagi seorang brahmana yang tak menguasai ilmu olah senjata. Di antara hiruk-pikuk suara-suara orang berbantah, ada yang berkata lantang setelah melihat sikap, bentuk badan dan raut wajah brahmana muda itu, “Tunggu dan perhatikan dia. Melihat sikapnya yang mantap dan keberaniannya maju ke arena, aku yakin dia tahu benar apa yang dilakukannya. Siapa tahu, di dalam tubuhnya tersimpan segunung tenaga. Apalagi, sebagai brahmana dia pasti sangat terlatih dalam samadi dan memusatkan pikiran. Beri dia kesempatan!” Orang itu lalu berteriak lantang, menyuruh penonton diam.
Dari tempat busur itu, brahmana itu mendekati Dristadyumna lalu bertanya, “Bolehkah seorang brahmana mengangkat panah itu?”
Dristadyumna menjawab, “Wahai brahmana muda, adikku bersedia dipersunting oleh pemenang sayembara ini. Siapa pun dia, asalkan berasal dari kelahiran dan keluarga baik-baik. Apa yang sudah terucap tak boleh ditarik lagi. Silakan mencoba, jika kau mau.”
Brahmana muda yang sebenarnya adalah Arjuna itu diam sejenak, mengheningkan cipta, memusatkan perhatian dan memohon restu para dewata, terutama restu Narayana, Hyang Widhi. Kemudian dia mengangkat busur itu dan menyiapkan lima anak panah pada talinya. Semua itu dilakukannya dengan gerakan yang ringan, anggun dan tangkas. Orang-orang terpesona. Mereka diam, menahan napas. Suasana hening.
Sebelum membidik, brahmana muda itu memandang sekeliling sambil tersenyum. Kemudian ia kembali memusatkan perhatian, mengarahkan busur ke sasaran. Lalu ... secepat kilat dan nyaris tak tertangkap mata, lima anak panah melesat lepas berurutan, menembus lubang cakra yang terus berputar. Anak panah pertama tepat mengenai sasaran. Anak panah kedua menembus anak panah per- tama, yang ketiga menembus yang kedua, dan seterusnya sampai lima anak panah. Cakra itu belah, jatuh ke tanah.
Keheningan pecah. Sorak-sorai membahana. Gamelan ditabuh bertalu-talu. Sasaran telah jatuh. Sayembara dinyatakan selesai. Seorang brahmana muda keluar sebagai pemenangnya. Para brahmana yang duduk di sekeliling arena bersorak-sorak gembira sambil melambai-lambaikan selendang mereka yang terbuat dari kulit menjangan. Mereka merasa,
kemenangan brahmana muda itu juga merupakan kemenangan golongan mereka. Sorak-sorai semakin meriah ketika Draupadi, yang mengenakan pakaian sutera kemilau bertatahkan emas permata, bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya bersinar-sinar bahagia. Dengan lembut ia memandang Arjuna, melangkah anggun mendekatinya, lalu mengalungkan karangan bunga di lehernya. Yudhistira, Nakula dan Sahadewa meloncat kegirangan lalu lari menemui ibu mereka. Hanya Bhima yang tinggal, menunggu Arjuna kalau-kalau terjadi apa-apa. Siapa tahu para pangeran menjadi marah karena merasa terhina. Benarlah. Seperti dikhawatirkan Bhima, para putra raja menjadi marah. Mereka berteriak, “Sayembara apa ini? Kemungkinan terpilih sebagai pengantin laki-laki tidak berlaku bagi kaum brahmana. Jika tidak mau disunting seorang putra raja, Draupadi harus tetap perawan sampai ia melakukan satya, terjun ke dalam api pembakaran jenazah. Tak pantas brahmana menyunting putri raja. Kami menentang perkawinan itu. Kami minta sayembara dibatalkan demi mempertahankan aturan yang benar. Siapa tahu brahmana itu sesungguhnya berniat jahat!”
Rupa-rupanya keributan tidak bisa dihindarkan. Dengan tangkas Bhima mencabut sebatang pohon untuk senjata. Lalu ia berdiri di samping Arjuna dengan sikap siap sedia. Draupadi ketakutan. Ia tak kuasa berkata-kata, hanya berdiri di samping Arjuna sambil memegangi jubahnya yang terbuat dari kulit menjangan. Krishna dan Balarama mencoba menyabarkan para putra raja yang marah dan membuat keributan. Sementara itu, diam-diam Arjuna mengundurkan diri keluar arena, diiringkan Draupadi dan dikawal oleh Bhima. Mereka pulang ke penginapan Pandawa di rumah tukang kendi.
Tanpa mereka ketahui, Dristadyumna membuntuti mereka. Ia melihat segala sesuatu yang terjadi di rumah tukang kendi itu. Setelah mengetahui siapa sebenarnya para brahmana itu, ia merasa sangat lega dan gembira.
Diam-diam ia kembali ke istana untuk melapor kepada Raja Drupada. Katanya, “Ayahanda, aku yakin, brahmana yang memenangkan sayembara itu sebenarnya adalah Arjuna dan brahmana pengawalnya yang perkasa itu adalah Bhima. Aku melihat sendiri, Draupadi sama sekali tidak merasa canggung berada bersama mereka. Aku juga melihat seorang wanita yang berwibawa agung. Wanita itu pasti Dewi Kunti. Ya, Ayahanda, para brahmana itu sebenarnya adalah Pandawa.” Mendengar laporan putranya, Raja Drupada segera mengutus Dristadyumna dan beberapa punggawa untuk menjemput dan membawa Pandawa ke istana Panchala.
Atas undangan Raja Drupada, Dewi Kunti dan kelima putranya datang ke istana. Di hadapan raja itu, Dharmaputra mengaku bahwa mereka adalah Pandawa. Ia juga menyampaikan keputusan Pandawa bahwa mereka berlima akan menikah dengan Draupadi. Ketika tahu bahwa mereka Pandawa, Raja Drupada sangat senang. Tetapi, ketika mendengar bahwa mereka berlima akan menikahi Draupadi, ia sangat kaget dan kecewa.
Raja Drupada menentang perkawinan itu. Katanya,
“Sungguh perbuatan yang tidak patut? Sungguh tidak bermoral dan bertentangan dengan tradisi serta kesusilaan? Bagaimana mungkin pikiran seperti itu bisa merasuki kalian?”
Yudhistira menjawab, “Daulat, Paduka Raja, maafkanlah kami. Ketika hidup sengsara dan terlunta-lunta, kami bersumpah bahwa kami akan membagi segala sesuatu yang kami miliki. Kami tidak bisa melanggar sumpah itu. Ibu kami sudah memberikan restunya.”
Mendengar penjelasan itu, Raja Drupada akhirnya mengerti dan perkawinan agung pun dilangsungkan.
Bersambung....
Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

Monday, February 13, 2017

MAHABARATA 14




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
14. Istana dari Papan Kayu
Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin dalamnya ilmu olah senjata serta siasat perang yang dipelajari oleh Kaurawa dan Pandawa, Duryodhana semakin iri melihat keperkasaan Bhima dan kesaktian Arjuna dalam segala hal. Duryodhana kemudian mengangkat Karna dan Sakuni sebagai penasihatnya dan menugaskan mereka untuk merencanakan siasat-siasat licik untuk mengalahkan Pandawa. Dritarastra, ayah Kaurawa, sebenarnya bijaksana dan sangat mencintai Pandawa, putra-putra adiknya. Sayang- nya, ia berwatak lemah. Dalam menentukan segala sesuatu, ia terlalu memihak putra-putranya sendiri. Semua keinginan putra-putranya, terutama keinginan Duryodhana, selalu dikabulkannya. Tidak jarang, dengan sadar ia menuruti mereka meskipun tahu bahwa mereka salah. Bagi Duryodhana, yang lebih menyakitkan hati adalah kenyataan bahwa rakyat Hastina, terutama yang tinggal di ibukota Hastinapura, selalu memuji-muji Pandawa secara terang-terangan. Mereka senantiasa menyerukan bahwa Yudhistiralah yang paling tepat dinobatkan sebagai raja, menggantikan Dritarastra. Rakyat bergerombol di jalan- jalan, memperdebatkan siapa yang paling pantas menjadi raja mereka. Sering terdengar percakapan seperti ini.
“Dritarastra tidak pantas menjadi raja karena ia buta. Ia tidak mampu memerintah kerajaan dengan baik karena kekurangannya itu. Bhisma juga tidak mungkin menjadi raja, karena ia telah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya pada kebenaran, keadilan dan kesucian. Kecuali itu, ia memang tidak ingin menjadi raja dan sudah bersumpah takkan pernah menikah. Karena itu, Yudhistiralah yang paling pantas dinobatkan menjadi raja. Hanya dialah yang akan dapat memerintah wangsa Kuru dan kerajaan ini dengan adil.” Demikianlah rakyat berbicara di mana-mana. Mendengar semua itu, telinga Duryodhana terasa panas. Hatinya sakit didera rasa iri dan kebencian. Ia menghadap ayahnya, mengadukan hal itu. Katanya, “Ayahanda, rakyat kerajaan ini telah menghina kita. Mereka sama sekali tidak punya rasa hormat kepada orang-orang yang patut dimuliakan seperti Bhisma dan Ayahanda sendiri. Menurut mereka, kerajaan ini seharusnya diperintah oleh Yudhistira karena dialah yang paling pantas menjadi raja.
“Mereka berkata bahwa karena buta, sebenarnya Ayahanda tidak pantas menjadi raja. Jika mereka bersikeras meminta penobatan Yudhistira, itu berarti kehancuran bagi kita. Ayahanda telah mengalah kepada Paman Pandu. Kalau tidak karena Paman Pandu mengundurkan diri, Ayahanda takkan pernah menjadi raja. Sekarang, jika Yudhistira menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya, ke manakah kita akan pergi? Tak ada lagi kesempatan bagi keturunan kita untuk menjadi raja, karena hanya keturu- nan Yudhistira atau Pandawa yang berhak menjadi raja. Keturunan kita akan menjadi orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada belas kasihan keturunan Pandawa.”
Dritarastra merenung mendengar kata-kata anaknya. Beberapa lama kemudian dia berkata, “Anakku, apa yang engkau katakan itu benar. Namun, Ayah percaya, Yudhistira pasti takkan menyimpang dari jalan yang benar dan penuh kebajikan. Ia mengasihi kita semua. Ia mewarisi semua sifat mulia ayahnya. Rakyat mengagumi dia dan mereka pasti mendukung dia. Semua menteri dan senapati juga mencintai Pandu dan mereka pasti akan mengabdi padanya dengan sepenuh hati. Rakyat memang memuja Pandawa. Kita tak dapat menentang mereka atau menunggu kesempatan baik untuk mengalahkan Pandawa. Seandainya kita berbuat tidak adil dan tidak benar, rakyat akan berontak melawan kita. Mereka akan mengusir kita dan kita akan terjerumus dalam kubangan kutuk dan cemooh.” Duryodhana menjawab, “Rasa cemas Ayahanda tidak beralasan. Dalam keadaan paling buruk pun Bhisma tetap tidak akan memihak, sedangkan Aswattama pasti akan patuh padaku. Dan itu berarti bahwa ayahnya, Mahaguru Drona, dan Mahaguru Kripa ada di pihak kita. Widura tak mungkin menentang kita secara terang-terangan, kecuali jika dia punya alasan lain, sebab ia tidak punya pengikut atau kekuatan apa pun. Kirimlah Pandawa ke Waranawata
secepatnya.
“Ayahanda, sejujurnya hatiku terasa sesak, penuh dendam dan iri hati. Aku tak tahan lagi memendam semua perasaan ini. Aku selalu gelisah, tak enak makan dan tak enak tidur. Semua ini seakan-akan merobek-robek dadaku. Hidupku terasa penuh siksa dan derita.
“Ayahanda, segera kirimlah Pandawa ke Waranawata.
Setelah itu, kita akan menghimpun kekuatan kita.”
Setelah Duryodhana berkata demikian, para penasihat raja datang dan bergantian memberikan nasihat kepada Dritarastra. Mereka semua mendukung rencana Duryodhana. Kanika, tangan kanan Sakuni dan pemimpin kelompok ini, mengusulkan kepada Dritarastra, “Paduka, hamba mohon Paduka berhati-hati dan waspada terhadap anak-anak Pandu, sebab kebaikan dan pengaruh mereka merupakan ancaman bagi kewibawaan Paduka. Ketahuilah, semakin dekat hubungan keluarga, semakin dekat dan semakin mengerikan pula bahaya itu. Mereka sangat kuat.”
Dritarastra diam, mendengarkannya sungguh-sungguh. Kemudian Kanika melanjutkan, “Jangan Paduka gusar kepada hamba jika hamba katakan bahwa seorang raja harus berkuasa dalam nama, di atas takhta dan tinda- kannya, sebab tak seorang pun akan percaya pada kekuatan yang tidak pernah diperlihatkan. Hal-hal yang berkaitan dengan tata kerajaan memang harus dirahasiakan. Tetapi, bukti nyata suatu rencana bijak bagi rakyat adalah pelaksanaannya. Bodoh sekali kalau menunjukkan kemesraan terhadap mereka.
“Demikianlah, keburukan harus dilenyapkan sama sekali. Ibarat duri dalam daging, jika dibiarkan akan menyebabkan luka membisul. Musuh yang perkasa harus dihancurkan, namun musuh yang kecil dan lemah jangan dilalaikan. Ibarat bara, jika tidak segera dipadamkan bisa berkobar menyala membakar hutan. Jika tak bisa meng- hancurkan musuh perkasa dengan kekuatan senjata, kita gunakan tipu muslihat.”
Duryodhana meyakinkan ayahnya bahwa ia telah berhasil menghimpun sekutu dan pengikut yang setia. Katanya, “Ananda telah menghadiahkan harta benda, pangkat dan kehormatan kepada semua pengawal kerajaan Hastina. Ananda telah membuat mereka bersumpah untuk setia kepada kita. Begitu Ayahanda mengirim Pandawa ke Waranawata, seisi ibukota dan kerajaan ini akan memihak kita. Tak ada lagi sekutu Pandawa di kerajaan ini. Begitu kerajaan ini ada di tangan kita, mereka akan kehilangan kekuasaan. Setelah itu, barulah kita pikirkan bagaimana caranya melenyapkan mereka.”
Jika seseorang banyak mendengar tentang apa yang sebenarnya ingin ia yakini, maka ia akan merasa bahwa keyakinannya itu benar. Demikianlah, pikiran Dritarastra goyah oleh desakan anaknya dan anjuran para penasihatnya. Tanpa mampu berpikir jernih, ia merestui rencana Duryodhana. Sejak itu, para senapati Hastina sengaja memuji-muji keindahan Waranawata di hadapan Pandawa. Mereka membisikkan, bahwa di sana akan diadakan upacara pemujaan Batara Shiwa secara besar-besaran. Pandawa sama sekali tidak curiga mendengar semua itu. Lebih-lebih setelah Dritarastra menyuruh mereka mengikuti upacara itu. Dritarastra menambahkan, bahwa bukan saja upacara itu sangat penting, tetapi rakyat di Waranawata sudah lama merindukan kunjungan Pandawa.
Demikianlah, Pandawa memutuskan untuk pergi ke Waranawata setelah mendapat restu dari Bhisma dan para tetua lainnya. Duryodhana senang karena rencana pertamanya berhasil. Bersama Karna dan Sakuni, ia menyusun rencana untuk membunuh Dewi Kunti dan Pandawa di Warana- wata. Pertama-tama mereka mengirimkan Purochana dengan perintah rahasia yang harus dilaksanakan dengan taat dan hati-hati.
Jauh sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata, Purochana sudah mendahului pergi ke sana dengan tugas membangun istana peristirahatan untuk Pandawa. Istana itu dibangun dari papan-papan kayu yang diukir indah. Di sudut-sudut tersembunyi disisipkan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti lak, minyak kental, dan karung kering. Semua perabotannya juga terbuat dari bahan- bahan yang mudah terbakar.
Penjagaan diatur secara ketat dan rahasia agar Pandawa tidak curiga. Sebelum upacara dilaksanakan, di Waranawata diadakan pesta meriah, lengkap dengan bermacam-macam hiburan dan pertunjukan kesenian. Rencananya, lewat tengah malam, ketika Pandawa tidur
pulas kecapekan setelah berpesta, istana itu akan dibakar. Kaurawa akan menyambut Pandawa dengan ramah dan penuh hormat. Jika istana terbakar, rakyat tidak curiga dan mereka menyimpulkan bahwa kebakaran itu terjadi tanpa sengaja dan tidak akan melemparkan tuduhan kepada mereka. Tak seorang pun akan menyalahkan Kaurawa, sementara Duryodhana akan puas karena berhasil memusnahkan Pandawa.
Demikianlah dengan berbagai cara Duryodhana berusaha memusnahkan Pandawa. Hanya Widura yang ingin menyelamatkan wangsa Kuru dari malapetaka itu.
Bersambung....

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau