Showing posts with label pandu. Show all posts
Showing posts with label pandu. Show all posts

Wednesday, February 8, 2017

MAHABARATA 10




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
10. Pandawa Lahir di Hutan
Pada suatu hari Raja Pandu pergi berburu di hutan. Di dalam hutan itu ada seorang resi yang sedang asyik bercengkerama dengan istrinya dan menyamar sebagai sepasang kijang. Pandu yang melihat sepasang kijang itu tidak menyangka bahwa mereka adalah jelmaan seorang resi dan istrinya. Dia mengangkat panahnya, membidik mereka. Dan... meluncurlah anak panah dari tangan Pandu, melesat cepat, tepat menancap pada tubuh si kijang jantan. Kijang itu jatuh terguling. Luka berdarah-darah. Dalam keadaan sekarat, kijang jantan itu berubah menjadi resi dan mengucapkan kutuk-pastu terhadap Pandu, “Hai, lelaki penuh dosa, rasakan kutukanku. Engkau akan menemui ajalmu sesaat setelah engkau menikmati olah asmara dengan istrimu.” Setelah melontarkan kutukannya, resi itu menghembuskan napas yang penghabisan. Pandu sungguh kaget mendengar kutukan sang resi. Dengan perasaan putus asa ia memikirkan akibat kutukan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerajaan dan menyerahkan semua urusan kerajaan kepada Bhisma dan Widura. Pandu memutuskan untuk hidup mengembara di hutan bersama kedua istrinya untuk menyucikan diri dengan bersamadi dan bertapa.
Dewi Kunti sedih melihat suaminya terkena kutuk- pastu. Ia tahu, sebenarnya suaminya ingin sekali mempunyai keturunan tetapi tak kuasa mewujudkannya karena kutukan itu. Sebagai istri yang mencintai dan setia kepada suaminya, ia merasa wajib menolong Pandu. Karena itu ia menceritakan rahasia mantra gaib yang diterimanya dari Resi Durwasa.
Pandu mendesak kedua istrinya untuk menggunakan mantra itu guna memanggil dewa-dewa dari kahyangan. Dewi Kunti dan Dewi Madri menyanggupi permintaan suami mereka. Bersama-sama mereka mengucapkan mantra itu dan memohon agar mereka dikaruniai anak.
Demikianlah yang terjadi. Kedua istri Pandu mengucapkan mantra dan permohonan mereka dikabulkan. Lima dewa turun dari kahyangan menemui kedua wanita itu. Kemudian, dengan cara gaib Dewi Kunti melahirkan tiga putra dan Dewi Madri melahirkan putra kembar. Kelima putra itu dibesarkan di tengah hutan dalam asuhan orangtua mereka, dibantu para resi dan para pertapa di hutan itu. Putra Dewi Kunti yang tertua diberi nama Yudhistira,
artinya ‘yang teguh hati dan teguh iman di medan perang’. Putra ini lahir sebagai titisan Batara Dharma, Dewa Keadilan dan Kematian, dan disegani karena keteguhan hatinya, rasa keadilannya, dan keluhuran wibawanya. Putra kedua diberi nama Bhima atau Bhimasena, terlahir dari Batara Bayu, Dewa Angin. Bhimasena disegani sebagai penjelmaan wujud kekuatan yang luar biasa pada manusia. Ia dilukiskan sebagai orang yang pemberani dan berperilaku kasar, tetapi berhati lurus dan jujur. Putra ketiga diberi nama Arjuna, terlahir dari Batara Indra, Dewa Guruh dan Halilintar. Arjuna, yang berarti ‘cemerlang, putih bersih bagaikan perak’ disegani sebagai penjelmaan sifat-sifat pemberani, budi yang luhur, dermawan, lembut hati dan berwatak kesatria dalam membela kebenaran dan kehormatan. Putra kembar Dewi Madri diberi nama Nakula dan Sahadewa dan terlahir dari Dewa Aswin yang kembar. Putra kembar itu melambangkan keberanian, semangat, kepatuhan, dan persahabatan yang kekal. Kehidupan di alam bebas di dalam hutan itu memberi pengaruh sangat besar dan mendalam bagi pertumbuhan jiwa dan raga putra-putra Pandu yang disebut Pandawa. Kelak, setelah mereka dewasa, kelima putra itu akan memegang peranan penting dalam sejarah dan membuat seisi dunia kagum. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kehidupan di dalam hutan sangat tenang. Pohon-pohonan dan bermacam-macam binatang hidup damai bersama manusia yang menghuni hutan itu. Mereka bagaikan satu keluarga besar yang hidup selaras dengan alam. Memang demikianlah seharusnya, karena Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta seisinya dengan tatanan yang adil bagi setiap makhluk ciptaanNya. Pada suatu pagi di musim semi yang indah, Pandu dan Dewi Madri duduk termangu memikirkan kutukan yang membuat mereka sengsara. Mereka sedih merasakan gairah asmara yang terpendam dan tak mungkin tersalurkan, padahal alam di sekitar mereka sedang mengenakan busananya yang terindah. Bunga-bunga bermekaran menaburkan keharuman yang semerbak, burung-burung berkicau riang dan aneka margasatwa bercengkerama memuaskan nafsu berahi dalam udara musim semi yang segar. Pandu memandang sekelilingnya, kemudian menatap Dewi Madri yang jelita. Terpengaruh oleh keindahan alam dan suasana musim semi yang penuh gairah, ia lupa diri. Dengan penuh gairah ia memeluk Dewi Madri dan mencumbunya. Dewi Madri berusaha menolaknya, tapi tak kuasa. Mereka segera tenggelam dalam olah asmara yang menggebu-gebu. Tetapi... tiba-tiba Pandu roboh dan seketika itu juga menghembuskan napas yang penghabisan. Kutuk-pastu, yang dilontarkan resi yang menjelma dalam rupa kijang yang mati dipanah oleh Pandu, menunjukkan kesaktiannya. Dewi Madri sangat sedih, lebih-lebih karena ia merasa berdosa dan bertanggung jawab atas kematian Pandu. Ia segera menghadap Dewi Kunti, memohon agar wanita itu bersedia mengasuh anak-anaknya sebab ia akan menyusul suaminya dengan melakukan satya. Tak ada yang dapat mencegahnya. Dewi Madri melakukan satya dengan menerjunkan diri ke dalam api pembakar jenazah suaminya.
Para resi dan para pertapa yang iba melihat Dewi Kunti dan anak-anaknya kemudian mengantarkan mereka ke Hastinapura. Ketika itu Yudhistira, sulung di antara para Pandawa, baru berusia belasan tahun. Sampai di Hastina- pura, rombongan itu menghadap Bhisma. Para resi dan pertapa itu mengabarkan mangkatnya Raja Pandu dan menyerahkan Dewi Kunti dan kelima putra Raja Pandu ke dalam asuhan Bhisma. Mendengar kabar itu, seisi kerajaan berkabung. Widura, Bhisma, Wyasa, dan Dritarastra kemudian melaksanakan upacara persembahyangan untuk mendoakan arwah Raja Pandu yang manunggal paratman kekal abadi. Bagawan Wyasa berkata kepada Satyawati, nenek Raja Pandu, “Masa lampau telah berlalu bersama suka dukanya, tetapi masa depan akan datang membawa kedukaan yang lebih menyakitkan. Dunia ini telah memikul kegairahan orang muda yang terbuai mimpi-mimpi. Sekarang dunia akan memasuki jaman yang penuh dosa, kepahitan, kesedihan, dan penderitaan. Tak ada yang bisa menghindarinya. Waktu terus berjalan, menyusuri garis takdirnya. Engkau tak usah menunggu untuk menyaksikan semua malapetaka yang akan menimpa anak keturunanmu. Akan lebih baik bagimu jika kau meninggalkan Hastinapura dan melewatkan hari-harimu dengan bersamadi dan bertapa di dalam hutan.”
Satyawati menerima nasihat Bagawan Wyasa. Bersama Ratu Ambika dan Ratu Ambalika, ia pergi ke hutan. Ketiga ratu yang telah lanjut usia itu melewatkan hari-hari mereka dengan bersamadi dan menyucikan diri serta berdoa agar anak keturunan mereka terhindar dari malapetaka. Itulah yang mereka lakukan, hari demi hari, bulan demi bulan, sampai mereka mencapai moksha.
NB : Dulu memperoleh seorang putra ada yang di sebut dengan Niyoga.
Niyoga adalah tradisi zaman dahulu, di mana seorang wanita/janda meminta dan menunjuk seseorang untuk membantunya melahirkan seorang anak. Orang yang ditunjuk adalah seorang yang suci dan terhormat.
Adapun syarat-syaratnya antara lain:
1. Wanita itu menyetuju hanya demi memiliki anak dan tidak untuk kesenangan.
2. Orang yang ditunjuk melakukan hal demikian untuk dharma dan kasih sayang keilahian kepada semua makhluk, dengan membantu wanita melahirkan anak, bukan untuk kesenangan.
3. Anak yang lahir dengan cara demikian akan dianggap sebagai anak dari suami-istri dan bukan dari orang yang ditunjuk.
4. Orang yang ditunjuk tidak akan mencari hubungan ayah-anak di kemudian hari.
5. Seorang pria hanya diperbolehkan maksimal tiga kali dalam hidupnya untuk diangkat sedemikian rupa.
Ini seperti kelahiran Drestarastra, Pandu dan Widura.
Demikan juga dengan memperoleh Putra lewat Mantra. Seperti kelahiran Pandawa.
Bersambung...

Terimakasi Bpk Agung Joni telah memberi ijin share tulisan beliau

MAHABARATA 9




_/l\_ ॐ साई राम
MAHABHARATA
9.Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti
Sura, kakek Sri Krishna, berasal dari keturunan baik- baik wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal karena kecantikan dan kebajikannya. Karena sepupunya yang bernama Kuntibhoja tidak mempunyai anak, maka Sura menyerahkan Pritha untuk diangkat anak oleh Kuntibhoja. Sejak itulah Pritha dikenal dengan nama Dewi Kunti, mengikuti nama ayah angkatnya.
Semasa Dewi Kunti masih gadis kecil, seorang resi mahasakti pernah tinggal lama di rumah ayah angkatnya. Resi itu bernama Durwasa. Dewi Kunti melayani resi tersebut dengan penuh perhatian, dengan sabar dan penuh bakti. Resi Durwasa sangat puas akan sikap bakti putri angkat tuan rumahnya. Karena itu, ia menghadiahkan mantra suci kepada gadis cilik itu. Katanya, “Jika engkau ingin memanggil seorang dewa, siapa saja, mantra suci ini akan membantumu. Dewa yang kaupanggil akan muncul di hadapanmu dan engkau akan mempunyai anak yang keagungannya sama dengan keagungan dewa yang kaupanggil.” Resi Durwasa menghadiahkan mantra itu kepada Dewi Kunti, karena dengan kekuatan yoganya ia bisa meramalkan bahwa kelak gadis itu akan menemui nasib buruk dengan suaminya. Karena sangat ingin tahu dan tidak dapat menahan kesabarannya, Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra itu. Diam-diam ia mengucapkan mantra itu sambil menyebut nama Batara Surya, Dewa Matahari yang dibayangkannya bercahaya-cahaya di kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, tertutup awan tebal. Kemudian, dari balik awan muncullah Dewa Matahari mendekati Kunti yang cantik jelita. Batara Surya berdiri di dekatnya sambil memandangnya dengan takjub dan penuh gairah.
Dewi Kunti, yang berada dalam pengaruh kekuatan gaib dan keagungan serta kesucian tamunya berkata, “O Dewa, siapakah engkau?”
Batara Surya menjawab, “Wahai putri jelita, akulah Batara Surya, Dewa Matahari. Aku terseret ke mayapada oleh kekuatan gaib mantra yang kauucapkan untuk memanggilku.” Dengan perasaan kaget dan gembira Dewi Kunti berkata, “Aku gadis kecil yang masih berada di bawah pengawasan ayahku. Aku belum pantas menjadi ibu dan tidak pernah memimpikannya. Aku hanya ingin mencoba kekuatan mantra pemberian Resi Durwasa. Kembalilah ke kahyangan dan maafkanlah ketololanku.”
Tetapi Batara Surya tak bisa kembali ke kahyangan karena kekuatan gaib mantra itu menahannya. Melihat itu, Kunti sangat cemas kalau-kalau ia hamil padahal belum menikah. Ia takut dihina oleh seluruh dunia.
Batara Surya menghibur dan meyakinkannya, “Tak seorang pun akan menghinamu, karena setelah melahirkan anakku engkau akan kembali menjadi perawan suci.” Maka, karena karunia dan kesaktian Dewa Matahari
yang memancarkan cahaya pemberi kehidupan ke seluruh muka bumi, Dewi Kunti pun mengandung. Berkat kesaktian sang Dewa juga, maka begitu mengandung seketika itu juga ia melahirkan anaknya — tidak seperti umumnya manusia biasa yang dikandung selama kurang lebih sembilan bulan. Anak itu dinamakan Karna karena dilahirkan melalui telinga. (Karna dalam bahasa Sanskerta berarti “telinga”. Apakah ada versi yang lain..?)
Karna terlahir lengkap dengan seperangkat senjata perang yang suci dan hiasan telinga yang indah berkilau seperti matahari. Kelak Karna menjadi senapati perang yang mahasakti. Meski kesuciannya tak ternoda, Dewi Kunti merasa bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan bayinya. Untuk menghindarkan segala kutuk dan malu, bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah kotak yang tertutup rapat lalu dihanyutkannya di sungai. Seorang sais kereta kuda yang tidak punya anak menemukan kotak itu terapung-apung dihanyutkan arus air. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Alangkah kagetnya dia menemukan seorang bayi tampan di dalamnya. Ia serahkan bayi itu kepada istrinya yang menerima anak itu dengan kasih ibu yang berlimpah. Demikianlah Karna, putra Batara Surya, diasuh dan dibesarkan oleh keluarga kereta kuda.
Ketika usia Dewi Kunti sudah siap untuk menikah, Raja Kuntibhoja mengundang semua putra mahkota dari kerajaan-kerajaan tetangga untuk mengikuti sayembara agar dapat dipilih menjadi calon suami putri angkatnya. Maka, berdatanganlah putra-putra mahkota, ingin memper- sunting Dewi Kunti yang termasyhur kecantikan dan kebajikannya.
Sayembara memperebutkan gelar mahir bela diri dan menyusun formasi untuk pertempuran perang tanding berlangsung ketat. Para pangeran saling mengadu kesaktian dan menunjukkan kehebatan masing-masing. Setelah beberapa hari berlangsung, akhirnya Raja Pandu keluar sebagai pemenang. Dia mendapat kalungan bunga tanda kemenangan dari Dewi Kunti.
Sungguh pantaslah Raja Pandu keluar sebagai pemenang karena dia terkenal bijaksana dan perkasa dan berasal dari wangsa Bharata yang ternama. Keluhuran pribadinya mengatasi semua putra mahkota yang mengikuti sayembara itu. Setelah upacara perkawinan yang dilangsungkan dengan khidmat, disusul pesta meriah tiga hari tiga malam, Dewi Kunti mengikuti suaminya dan tinggal di Hastinapura. Atas nasihat Bhisma dan menurut adat istiadat jaman itu, Raja Pandu menikahi Dewi Madri sebagai istri kedua, untuk menjaga kelangsungan keturunannya.
Bersambung...